Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Selasa, 30 April 2024

Bagian 5. Bersyukur untuk Sejauh Ini

#myJapanJournal


Berjalan kaki di kota Chiba sebetulnya seasyik itu. Sebentar-sebentar ada taman. Sebentar-sebentar ada taman. Tamannya bersih, dinaungi pepohonan sakura yang walaupun tak satu pun saya temukan berbunga, tetap khas dan terasa menenangkan. Setiap taman, sekecil apa pun itu, selalu ada namanya. Sayang, waktu saya terbatas dan pula didominasi turunnya hujan.

Jam 3.30 sore saya keluar lagi dari hotel dan naik monorel menuju stasiun Kenchomae. Turun, pucuk Kastel Chiba yang cantik sudah tampak. Nama lainnya adalah Inohana Castle, yang di dalamnya difungsikan sebagai City Folk Museum. Pengunjung hanya sedikit sore itu. Tiket masuk gratis. Dengan lift, langsung saya menuju lantai 5. Dari teras di sekeliling lantai 5 itu, saya sedikit sedih karena mendung yang masih bergelayut di langit membuat Gunung Fuji lagi-lagi tak dapat saya lihat. Betul-betul belum direzekikan Allah untuk saya. Alhamdulillaah ala kulli haal.



Destinasi saya selanjutnya dari sini sebetulnya adalah Aobanomori Park, sebuah taman besar lengkap dengan museumnya, untuk melihat jajaran indah pohon sakura. Letaknya lebih ke timur lagi, setengah kilometer dari kastel ini, lumayan ya kalau mau jalan kaki. Kalau mau berkereta, hitungannya juga sama saja untuk berjalan ke stasiun Honchiba ditambah berjalan lagi setelah turun di stasiun Chibadera. Karena sejak di Chiba tak satu kuntum sakura pun terlihat mekar, maka kemungkinan besar di Aobanomori Park juga saya akan menemukan pemandangan yang sama. Akhirnya, taman tersebut pun saya skip.

Saya lanjut jalan menuju Stasiun Honchiba, melewati Hagoromo Park, lanjut lagi hingga Stasiun Chibachuo, melewati Chibashi Honchiba Park. Di salah satu supermarket besar di stasiun Chibachuo, terdapatlah Daiso, toko pernak-pernik kenamaan di Jepang dan menjadi salah satu pilihan untuk belanja camilan dan oleh-oleh. Usai berbelanja di situ, lanjut jalan sebentar dan sampailah saya di restoran halal milik imigran Turki. Duduk di kursi sudut, hanya menunggu 5 menit, tibalah waktu berbuka. Rekomendasi menu di sini adalah beef and chicken rice-nya seharga 750 yen atau sekitar 80.000 rupiah. Perbandingannya, kalau di Tokyo, seporsi nasi ayam atau daging sudah pasti harganya di atas 1000 yen.

Sekian banyak perempatan telah saya lewati, dan bunyi "kicau burung" itu makin akrab di telinga saya. "Kicau burung" yang menandakan lampu untuk pejalan kaki menyala hijau dan pejalan kaki boleh menyeberang. Saya mencatat, memang, seramai apapun orang yang menyeberang, mereka tertib sekali.

Saya melewati taman lagi. Hibashi Yoshikawa Park namanya. Tamannya cukup luas, persis menghadap jalan raya yang sibuk, dan banyak kursi taman tersedia. Cocok sekali untuk bersantai sambil menikmati suasana kota yang tenang, dingin, dan dihiasi cahaya lampu. Saya lanjut lagi melewati jalan persis di bawah jembatan lengkung dengan lampu berganti-ganti warna serta 2 rel berdampingan di atas kepala, tempat kereta monorel bergantung berlawanan arah. Saya seolah sedang berada di Film Doraemon Stand by Me ketika sebuah kereta monorel melintas di atas kepala saya, dengan atap kereta tersebut yang menggantung menempel di salah satu rel. Ajaib sekali. Saking ajaibnya, saya bahkan terlewat untuk menikmati indah dan gemerlapnya Chiba City Chuo Park di sisi kanan saya.


Tiba di hotel, usai salat magrib, beres-beres sedikit, saya pun keluar lagi. Kali ini ke minimarket Familymart yang hanya berjarak 50 meter dari depan hotel dan mendengar "kicau burung" lagi di satu-satunya perempatan yang harus saya lalui. Di minimarket itu, saya membeli onigiri (nasi kepal campur ikan khas Jepang) untuk sahur nanti, ditambah camilan lainnya. Setelah ini, saya akan istirahat saja di hotel sampai pagi.

Pagi harinya, ternyata hujan turun lagi. Memang di prakiraan cuaca katanya hujan akan terus turun sampai beberapa hari ke depan. Usai sudah penjelajahan saya rupanya. Waktunya berkemas dan menuju bandara dengan menaiki kereta Narita Line dari Stasiun Chiba.

Throwback sedikit. 
Di hari pertama saya tiba di Jepang dan bertemu teman malam harinya, sebetulnya saya disambut dengan berita gempa. Ternyata, di pagi harinya saya masih di pesawat, Jepang dilanda gempa yang berpusat di beberapa bagian Ibaraki. Jepang memang bisa dibilang negara dengan frekuensi potensi gempa paling tinggi. Dan terkait gempa seperti ini akan selalu masuk e-mail dari pemerintah setempat ke setiap warganya. Malam itu seusai makan malam, teman saya membacakan isi e-mail yang diterimanya tadi pagi. Isinya kira-kira berbunyi, "Waspadai potensi gempa besar susulan yang akan terjadi 2 atau 3 hari ke depan, dst."

Bayangkan, di hari pertama saya datang, dong! Gimana saya tidak panik? Mana besok saya kan mau ke Ibaraki. Namun, ternyata besoknya saya tetap melanjutkan perjalanan sambil terus berdoa. Dan sekarang hari terakhir saya di Jepang. Kelak, beberapa hari setelah saya sudah di Indonesia, sering sekali saya dengar terjadi gempa di Jepang. Meski begitu, seperti cerita teman saya, warga Jepang memang sudah akrab dengan kondisi tersebut dan mereka sudah dibekali bermacam hal sebagai mitigasi.

Alhamdulillah hingga tiba lagi di Bandara Narita, semua kondisi aman-aman saja. Sayonara, Japan! Terima kasih kepada Allah Maha Baik yang memudahkan perjalanan panjang saya seorang diri. Sungguh banyak hal yang saya pelajari, pun amat banyak yang mesti saya syukuri:

1. Manusia sebaik-baik perencana, Allah jua Maha Penentu atas segala. Dari sekian banyak destinasi yang ada dalam itinerary saya, lumayan jumlah yang tidak tercapai, akan ada juga yang tergantikan dengan beberapa spot lain, walaupun jumlahnya tidak menutupi yang tak tercapai. Tak apa.

2. Meski sakura belum banyak yang mekar (apalagi di Chiba, tak sekuntum pun), alhamdulillah di beberapa tempat masih dapat saya jumpai. Selain di tempat wisata, saya dua kali bisa melihat alaminya hamparan padang bunga canola yang indah dalam perjalanan melintasi Ibaraki. 

3. Meski tak berhasil mendapatkan view Gunung Fuji dari Tokyo dan Chiba, alhamdulillah cuaca sangat cerah ketika pesawat hendak transit di Filipina, sehingga saya dapat melihat pegunungan yang indah di Filipina dengan jelas dari jendela pesawat. Selama perjalanan ini di pesawat saya memang selalu memilih kursi dekat jendela.

4. Meski tak sempat makan ramen di negara asalnya, alhamdulillah saya sempat makan udon (jenis mi lainnya khas Jepang). Hehe.

5. Meski banyak sekali jalan kaki, sebagian tetap dengan memanggul ransel berat di pundak pula, disertai udara dingin yang melampaui perkiraan, alhamdulillah saya tetap sehat seutuhnya hingga tiba di Palembang. Paling hanya pegal-pegal di kaki, dan kurang tidur sewaktu perjalanan pulang, karena mesti menunggu di Soetta tengah malam hingga pagi untuk pulang ke Palembang.

6. Setelah melewati auto gate di Bandara Soetta lanjut ke pemeriksaan bagasi, saya tetap diperbolehkan lewat begitu saja dengan mudah meskipun saya belum mengisi Electronic Custom Declaration sebelumnya. What a lucky night! Mungkin karena petugasnya melihat jumlah barang bawaan saya yang paling simple di antara bejibun orang yang bawaannya berkoper-koper raksasa.

May Allah give me other chances for the next big trips. Aamiin ya Rabb.


(Selesai)


#JapanTrip
#Japan


Sabtu, 27 April 2024

Bagian 4. Hujan yang Setia di Chiba

#MyJapanJournal

Makuhari

Saya dan Bu Ketua FLP Jepang sebetulnya sudah mengagendakan kopdar. Beliau bahkan jauh-jauh dari Kanazawa berencana datang dan menginap satu malam bersama. Untuk itulah beliau memesankan satu kamar di Apa Hotel area Makuhari, yang secara geografis sudah masuk Prefektur Chiba. Qadarullah, kondisi kesehatan beliau jelang hari H kurang fit, akhirnya beliau membatalkan kedatangan, namun hotel tetap beliau pesankan untuk saya. Masyaallah. Semoga Allah menganugerahkan rezeki yang lancar lagi barokah untuk orang baik ini. Aamiin.

Sejak sore kemarin di Tokyo Camii, hujan mulai turun, berlanjut hingga malam dan pagi ini di hari ke-5 saya di Jepang. Pupuslah harapan saya untuk bisa melihat Gunung Fuji dari hotel berketinggian 181 meter dan memiliki 50 lantai ini (jika kondisi cuaca sedang cerah), hehe.

Karena semalam tidur cukup larut, tubuh lumayan lelah, dan sudah harus selesai sahur jam 4 fajar (azan subuh kira-kira jam 4 lebih 11 menit), saya pun masih diserang kantuk berat di pagi harinya. Dari jendela, saya lihat hujan pun tampak sedikit lebih deras. Jam 8, saya pun mencoba bath up yang tersedia di kamar mandi. Luar biasa lengkapnya fasilitas tamu di kamar hotel Jepang ini, walaupun ukuran kamarnya sepengetahuan saya memang lebih sempit dari kamar standar hotel di Indonesia. Mandi berendam di air hangat ternyata cukup membuat tubuh bugar dan nyaman.

Pemandangan dari jendela hotel, horison laut tidak terlihat karena kondisi mendung


Beres mandi, saya packing barang. Hujan ternyata masih setia. Andai jarak pantai tak sejauh itu (kira-kira 500 meter jaraknya dari hotel dan harus menyeberangi jalan raya terlebih dahulu), saya pasti nekat ke sana pakai payung. Memang, sayang sama momen, sih. Kapan lagi kan saya bisa ke sini? Tapi lagi-lagi, 500 meter bukan jarak yang gampang dalam kondisi hujan-hujanan, dan di tepi pantai pun nanti tak akan bisa melihat apa-apa jika hujan begini, pun tak akan ada siapa-siapa.

Jam 10, jadwalnya check out. Sebelum turun ke basement saya melewati minimarket Lawson, mampir sejenak beli beberapa item untuk oleh-oleh. Di lantai 1 dan 2 hotel ini memang terdapat beberapa toko dan kafe. Itulah mengapa di dua lantai tersebut lebih ramai pengunjung, karena selain untuk tamu hotel, kafe dan pertokoan tersebut juga terbuka untuk umum. 

Di prakiraan cuaca, hujan baru akan berhenti jam 15. Wah. Maka, di luar pintu entrance hotel, saya menimbang-nimbang. 500 meter ke kiri adalah Pantai Makuhari (melewati area luas terbuka, view mendung, kemungkinan sangat sepi), dan 500 meter ke kanan adalah stasiun kereta (melewati perkantoran, sebagian terlindung dari rinai hujan, serta cukup banyak warga dan turis yang saya lihat berjalan ke arah sana. Maka, bismillah, saya belok kanan. Mulai berjalan dalam gerimis. Saya akan meneruskan penjelajahan ke arah Kota Chiba, ibukota dari Prefektur Chiba. Di sekitaran sana, ada 3-4 tempat lagi di dalam itinerary yang akan saya kunjungi. Semangat.


Kota Chiba

Dengan menumpangi kereta Keiyo Line, saya turun di stasiun Chibaminato. Di sana, saya duduk lama dan menimbang-nimbang lagi. 250 meter ke kiri ada taman pelabuhan yang masih terletak di tepi Teluk Tokyo juga. Tapi, hujan kembali deras. View yang bakal didapat tak akan sesuai ekspektasi. Akhirnya, saya lanjut lagi naik monorel ke stasiun Sakaecho. Turun, volume hujan agak berkurang. Chiba Shrine Myoken Hongu tujuan saya. Sebuah kuil besar dan artistik yang cukup terkenal di kalangan wisatawan. Jaraknya 250 meter dari stasiun.



Syukurlah, ada beberapa pengunjung lainnya di tempat tersebut. Di depan kuil juga ada taman kecil dengan pepohonan khas Jepang, Toricho Park namanya. Setelah cukup puas menikmati pemandangan kuil dari luar, dan mengambil foto serta video dari halaman dan taman, saya bertolak lagi. Lelah juga rupanya berjalan di bawah gerimis. Saya menyerah, lalu kembali berjalan ke arah stasiun semula. The Cozy Hotel Chiba ada di dekat stasiun itu. Saya sudah memesan satu kamar single jauh-jauh hari di sana untuk malam terakhir saya di Jepang. Masih jam 12.40 sekarang, tapi saya memutuskan untuk menunggu saja di lobby hotel. Dari sini ke hotel butuh waktu kira-kira 10-15 menit.Walaupun baru bisa check in di jam 15 JST, tak apa.

Dan gerimis tetap setia di Chiba.


(bersambung ke bagian 5 - tamat)



#japantrip
#japan

Rabu, 24 April 2024

Bagian 3. Episode Tokyo hingga Tokyo Bay Makuhari

 #MyJapanJournal


Sayonara, Ibaraki!
Ya, setelah dua setengah hari menjelajahinya, tiba saatnya meninggalkan Prefektur Ibaraki untuk kembali ke Tokyo. Hari yang spesial karena teman saya dari kota Mito akan menemani dengan mobil pribadi mereka dan diantar sang suami. Perjalanan ke Tokyo akan menghabiskan waktu dua jam atau lebih.


Kembali Menjumpai Tokyo

Begitu memasuki Tokyo, kami kembali melewati si menara menjulang Tokyo Skytree, namun kali ini view-nya melalui jalan tol. Lalu, kami pun tiba di tujuan pertama: Zojoji Temple dan Shibakoen (taman Shiba) dengan latar belakang menara ikonik lainnya dari kota Tokyo, yaitu Tokyo Tower. Ada sedikit sakura yang mekar di halaman kuil, dan pohon ume kuning; serta pohon ume putih di Taman Shiba. Perlu diketahui, saat musim semi, banyak sekali jenis bunga yang mekar di Jepang. Bunga ume (Japanese plum) adalah penanda tibanya musim semi. Bunga ini tak kalah indah, nyaris mirip sakura namun ukuran bunganya mungil-mungil. Warnanya pun beragam, ada merah muda, putih, kuning, juga ungu. Selain ume, ada satu lagi bunga pink seindah sakura, yaitu bunga persik (berbuah persik atau peach). Ume pink dan bunga persik pink inilah yang sering pula disalahkirakan sebagai sakura oleh para turis.

Background Tokyo Tower


Suhu udara tak sedingin sebelumnya, namun langit tampak mendung. Kami pun gegas beranjak untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi kedua.

Melewati kawasan Shibuya, ternyata ada cukup banyak pohon sakura yang sudah mulai mekar dan menghiasi sisi kiri kanan jalan. Saya terpukau dengan indahnya pemandangan! Namun karena sudah sore, jalanan cukup padat, dan kami mengejar waktu berbuka puasa di Masjid Tokyo alias Tokyo Camii, kami pun tak sempat turun.

Tokyo Camii


Dan inilah, Tokyo Camii and Turkish Culture Centre, sebuah masjid bergaya Turki yang didirikan pada tahun 1930-an. Bukan karena masjid ini adalah tempat akad nikahnya Syahrini dan juga Maia Estianty, saya ngebet pingin ke sini karena ini adalah masjid terbesar dan termegah yang dimiliki Jepang saat ini. Di sini, terutama di momen Ramadan, kita dapat menjumpai muslim dari berbagai belahan bumi, terkhusus karena sekarang hari Ahad, biasanya digelar buka puasa bersama selepas salat Magrib berjamaah. Masyaallah, suasananya indah dan syahdu.


Tokyo Bay Makuhari

Pukul 20 kami melanjutkan perjalanan lagi. Teman saya mengantar ke tujuan terakhir hari ini yaitu Apa Hotel & Resort Tokyo Bay Makuhari, sebuah hotel di kawasan Makuhari tepian Teluk Tokyo. Perjalanan malam yang indah dan tak terlupakan, meski diliputi gerimis panjang. Tokyo di malam hari sangat mirip Jakarta. Jalan tol dan jalan layang mengular, gedung-gedung menjulang, bermandikan cahaya gemerlap lampu. Sempat saya lihat gedung megah dan cantik sekali di sisi kanan, yang ternyata itu adalah Tokyo Disneyland.

Meski hotel tujuan saya ada label Tokyo-nya, namun sebetulnya letaknya tak lagi di kota Tokyo, melainkan sudah masuk kawasan Makuhari, Prefektur Chiba. Letak hotel tersebut memang menghadap Teluk Tokyo. Perjalanan saya di Jepang sudah hampir berakhir. Besok adalah hari terakhir penjelajahan saya dan lusa saya sudah harus menuju bandara. Selamat tinggal Tokyo, kota canggih di negara maju ini. Kota yang mengajarkan saya banyak hal baru, di antaranya tentang toilet dan self-service.

Toilet? Ya, klosetnya canggih. Tombolnya banyak, dengan fungsi beragam. Ada tombol siram untuk buang air kecil, tombol siram untuk buang air besar, tombol bilas kloset dengan jumlah air banyak, tombol bilas dengan jumlah air sedikit, juga tombol suara untuk menyamarkan aktivitas di kloset. Saya sempat mencari-cari kotak sampah untuk membuang tisu saat berada di toilet bandara atau stasiun. Eh, ternyata tisu toilet Jepang dirancang untuk cepat hancur di dalam kloset, oleh karena itu tempat buangnya ya justru di dalam kloset itu sendiri.

Tombol-tombol toilet Jepang (foto dari Google)


Self-service? Contohnya, bayar parkir, kita pencet-pencet sendiri tombolnya di parking machine, lalu bayar sendiri. Di swalayan, kita scan sendiri barang-barang yang kita beli dan masukkan sendiri ke mesinnya nominal uang yang diminta. Wah, ini berarti tingkat kejujuran warganya tinggi dong, ya? Lalu, di beberapa restoran, contohnya resto suki, setelah kita pencet-pencet tombol di layar komputer untuk memilih makanan dan di-submit, pesanan kita akan diantar oleh robot berbentuk mobil-mobilan atau kereta. Tak ada waiter. Setelah kita mengambil antaran tersebut dan menyusunnya di meja, si mobil atau kereta akan melesat kembali ke dapur.

Akan tetapi, tampaknya, selain karena faktor kecanggihan teknologi, mode self-service seperti ini juga disebabkan turunnya tingkat populasi penduduk Jepang, sehingga SDM untuk beberapa posisi nyaris tak tersedia.

Malam itu, saya baru bisa rebahan di kamar hotel pada jam 22 lebih, setelah salat dan bersih-bersih singkat tanpa mandi. Selama di Jepang, tercatat saya tak pernah mandi sore (ataupun malam), selain tak sanggup karena suhunya, juga karena tak berkeringat sama sekali. Di sini bebas debu, bebas keringat, bebas bau badan. Hehe. Baju yang dipakai berhari-hari pun bisa tetap wangi, lho.

Tampilan utama TV kamar Apa Hotel


Saya sempat menyibak gorden jendela untuk melihat pemandangan di luar kamar. Gemerlap lampu jalanan, lalu lintas agak lengang, lautan yang agak gelap beberapa ratus meter di depan sana, dan hujan yang masih setia. 

Baiklah, saatnya istirahat.


(bersambung ke bagian 4)


#JapanTrip
#Japan


Jumat, 19 April 2024

Bagian 2. Mengunjungi Matsudo, Mito, Hitachi

#MyJapanJournal



"Fabii ayyi 'alaa irobbikumaa tukazzibaan..."

Ada sekarung motivasi saya berangkat ke Jepang: melihat momen sakura mekar, observasi sejumlah objek untuk referensi karya, a big me time, self-healing, sampai merasakan pengalaman berpuasa di negeri asing minoritas muslim. Begitu minta izin suami, ternyata berhasil dengan mudahnya. Beliau mendukung penuh dan bahkan dengan senang hati mau menggantikan tugas menemani anak-anak. Maka sungguh, tak ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur sebanyak-banyaknya.

"Pokoknya kalau ada foto yang bagus, kirimin, ya," katanya sebelum berpisah di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Saya pun memulai perjalanan dengan keyakinan yang kuat bahwa saya pasti bisa. Semoga Allah memudahkan segalanya.

Dapat melihat empat pohon sakura mekar di Sumida Park adalah salah satu kemudahan itu. Setelah cukup puas menikmatinya, saya lanjut jalan kaki berpatokan Gmaps, untuk menemukan letak Senso-ji Temple dengan Nakamise Dori yang fenomenal di hadapannya. Senso-ji adalah sebuah kuil antik, cantik, dan artistik serta sangat populer di kalangan wisatawan. Sementara Nakamise Dori adalah shopping street sepanjang 250 meter dengan sisi kiri kanan dipenuhi toko souvenir khas Jepang.


Matsudo

Malam ini rencananya saya akan menginap di tempat teman di Matsudo, sekitar 20 menit berkereta dari Stasiun Ueno, Tokyo, lalu ditambah jalan kaki 20 menitan (1,7 km). Sebetulnya saya ingin menghindari stasiun besar seperti Ueno. Tapi karena posisi penjelajahan sore saya sudah tak begitu jauh dari Ueno, dan kereta paling efektif ke Matsudo memang dari Ueno, tadi ya tak terelakkan. Stasiun besar di sini luasnya ngalah-ngalahin mal besar Jakarta, dan dipadati manusia dengan mobilitas tingkat tinggi. Peronnya pun banyak sekali. 

Berhasil menemukan mesin tiket di antara lalu lintas manusia, berhasil mencetak karcis tiket, lalu harus berhasil pula menemukan peron yang benar untuk kereta yang dipilih. Sistem perkeretaan Jepang kompleks sekali. Tak seperti di Indo yang perkeretaannya dipegang oleh satu perusahaan, di sini ada banyak perusahaan kereta yang menaungi banyak jenis kereta serta banyak jalur pula dengan banyak nama kereta. Meski demikian, yang pusing sepertinya para pendatang seperti saya saja, jadi memang butuh waktu lama untuk mempelajarinya. 

Warga Jepang gemar jalan kaki untuk kemudian naik turun kereta, karena armadanya amat sangat banyak dan stasiun kereta pun tersebar di segala penjuru. Ada juga bus sebagai alternatif kedua, namun peminatnya tak sebanyak kereta. Motor langka sekali terlihat di jalanan. Mobil? Banyak juga, meskipun tak sampai menciptakan kemacetan. Bus pun ada, namun peminatnya tak sebanyak kereta.

Tiba di  Stasiun Matsudo lebih awal (teman saya janji bertemu jam 20.00 JST), udara sudah jauuh lebih dingin lagi di luar stasiun, 6°C. Tak ada satu kursi pun saya temukan di stasiun. Jadi terpaksa memang harus menunggu di luar. Tapi karena tak kuat, saya pun memilih masuk ke mininarket terdekat untuk menghangatkan diri saja. Setelah hampir satu jam, teman saya pun datang.

Alhamdulillah, semalaman saya bisa istirahat dengan nyaman karena adanya AC di kamar yang dapat menghangatkan udara, pagi ini kami jalan kaki mencari sakura. Senang sekali berhasil menemukan beberapa pohon sakura yang mekar dengan indahnya di dua tempat, yaitu area kampus Chiba dan tepi sungai menuju Stasiun Matsudo. 


Siang itu kami berpisah karena saya harus melanjutkan perjalanan meninggalkan Prefektur Chiba menuju kota Mito, ibukota dari Prefektur Ibaraki.


Mito

Mito adalah kota bersejarah yang mengesankan. Singkatnya, saya menghabiskan dua hari di Mito untuk menyelami sejarahnya melalui observasi ke situs-situs peninggalan abad ke-12 dari periode kekaisaran Edo. Yang pertama saya kunjungi adalah Kastel Mito dengan bebarapa strutur bangunan asli yang direstorasi. Area kastel ini luaas sekali dan bikin kaki pegal maksimal. Hehe.


Spot kedua, Kodokan, sebuah sekolah samurai terbesar di periode Edo, beserta taman yang luas di sekitarnya dengan koleksi pohon sakura, ume (plum), dan Japanese apricot yang banyak. 


Ketiga, Danau Senba yang bersejarah dan menjadi sumber pengairan Kerajaan Mito. Kini, penataan modern di sekeliling danau membuatnya menjadi area favorit warga lokal dan turis untuk bersantai dan menikmati keindahan sakura saat musim semi tiba.


Hitachi

Sekitar 40 menit berkendara dari kota Mito, di tepi laut kota Hitachi, terdapat sebuah taman bunga kenamaan. Hitachi Seaside Park namanya, yang masuk ke dalam daftar sepuluh taman bunga terindah di dunia. Sayangnya, bunga-bunga unggulan di sini belum tiba waktunya mekar saat saya tiba, seperti Nemophilia yang akan menjadi lautan bunga cantik berwarna biru muda bersinar putih (karena koleksi bunga ini ada sekitar 5.300.000 tangkai), juga tulip dan bunga kochia.


Jelang akhir Maret begini, yang sedang mekar adalah early flowering narcissus yang berwarna kuning cerah, narcissus putih, dan rape blossoms berwarna kuning muda. Bunga-bunga lainnya ada, seperti nemophilia, poppy, dan lain-lain namun dalam jumlah kecil. Saya juga berhasil menemukan beberapa tulip merah muda yang masih menguncup kelopaknya. Masya Allah... Begitu saja sudah terasa indah dan saya bahagia sekali bisa melihatnya. Alhamdulillaah ala kulli haal...

(bersambung ke bagian 3)

Rabu, 17 April 2024

Bagian 1. Selamat Datang di Jepang

#JapanJournal


Bagian 1
Selamat Datang di Jepang


Hidup boleh sederhana, tapi pengalaman harus kaya. Sebuah prinsip yang senantiasa membuat saya, seorang ibu beranak tiga ini, akan terus berupaya sesekali tetap menjelajah meski dengan cukup banyak keterbatasan yang ada. Bumi Allah yang mahaluas menyediakan hamparan hikmah yang dapat kita raup dari tiap-tiap langkah, pertemuan, dan penemuan. Sebab itulah, mari kita berjalan lagi. Kali ini, ke Negeri Sakura atau yang kerap juga digelari dengan Negeri Matahari Terbit.

Terletak di belahan timur bola dunia, Jepang memang merupakan salah satu negeri yang menyambut kedatangan matahari terlebih dahulu. Di Ramadan 2024, saat saya berkesempatan mengunjungi Jepang, waktu subuh tiba di jam 4 lebih sedikit. Dan kira-kira satu setengah jam kemudian, negeri ini sudah mulai bermandikan cahaya pagi. Subuh yang begitu awal dan magrib yang nyaris sama dengan jadwal magrib di Indonesia menyebabkan durasi berpuasa di Negeri Sakura ini menjadi sekira 15 jam. Namun, meski pagi datang lebih cepat, denyut aktivitas warga baru terlihat sedikit lebih siang. Contohnya, jam kantor dan jam perkuliahan saja umumnya dimulai di jam 9 atau 10. Kemudian biasanya aktivitas warga Jepang akan terus berlanjut sampai malam.

Perjalanan saya dari Palembang ke Tokyo menghabiskan total 15 jam, karena harus terbang ke Jakarta dulu, lalu menunggu penerbangan dini hari, transit satu jam di bandara Ninoy Aquino Manila (yang pernah dinobatkan sebagai salah satu bandara terburuk di dunia beberapa waktu lalu), baru setelah itu terbang lagi ke Narita, Jepang. Kebalikan dari bandara Ninoy Aquino, bandara Narita justru masuk di antara 10 bandara terbaik di dunia. Alhamdulillah, episode transit pagi di Manila membuat saya dapat teman baru. Seorang gadis Jakarta yang usianya 10 tahun lebih muda dari saya, enerjik dan berparas mirip artis Marissa Christina, serta sudah pernah tiga kali 'main' ke Jepang sebelumnya. Berdua jadi terasa lebih mudah untuk 'mengarungi' luasnya Narita dan panjangnya proses imigrasi. Tidak kalah penting, jadinya ada yang bisa motoin saya di spot berlatar belakang 'Welcome to Japan' yang ada di sana. Haha. Tujuan kami di jam 2 siang itu sama-sama Tokyo, namun beda wahana. Dia memilih (dan sempat menyarankan ikut) naik Skyliner dengan harga tiket 2.400 yen. Itu sih terlalu mahal. Di buku catatan, saya sudah menetapkan bahwa saya akan ke Tokyo dari Narita dengan keisei line (kereta listrik). Harganya 1.700 yen atau sekitar 180.000 rupiah. Kami pun berpisah.




Saya sempat mengecek suhu udara di Narita saat itu. Wah, 10°! Saya juga sempat bertanya pada pak petugas tentang "di mana ini" dan "di mana itu". Agak ribet karena tak selalu warga Jepang mengerti Bahasa Inggris. Maka, bahasa tubuh adalah jalan ninjaku. Hehe. Saya bergegas ke toilet, bersih-bersih sedikit dan mengisi botol minum kosong saya dengan air keran (yang memang seantero Jepang aman untuk diminum). Gegas lagi ke konter keisei untuk antre beli tiket. Lanjut jalan agak ngebut menuju peron dan langsung naik kereta setelah memastikan itu kereta yang benar.

Pemandangan di sepanjang perjalanan kereta membuat perasaan saya membuncah. Masya Allah, saya sudah di Jepang! Ini bukan mimpi lagi. Di awal musim semi ini, penampakan pohon-pohon masih didominasi ranting tanpa daun, boro-boro bunga, ya! Semoga sakura bisa saya jumpai di tempat-tempat yang sudah ada dalam rencana saya. Aamiin. Kisaran satu jam kemudian, saya tiba di stasiun tujuan. Honjo Azumabashi nama stasiunnya. Sengaja memilih stasiun kecil untuk mengurangi ribet. Keluar dari badan kereta, saya terkejut bukan main. Udara yang menerpa dinginnya kebangetan! Seperti tak ada artinya jaket yang sudah saya kenakan. Ya wajar, sih, 10° kan tadi? Sambil menggigil saya tap karcis mungil di mesinnya, melangkah ke kursi kosong dekat tangga, membongkar ransel dan mengeluarkan jaket tebal yang saya simpan paling bawah. Barulah terasa mendingan setelah berjaket dua lapis.

Keluar dari stasiun, saya berseru bahagia sekaligus terkejut lagi. Bahagia karena mata saya langsung bertemu dengan si menara menjulang Tokyo Skytree yang cakep sekali, dan terkejut karena ternyata saya masih kedinginan juga di luar stasiun itu, di naungan kota Tokyo. Kepala saya agak berdenyut karena dingin yang kelewatan. Sambil mencoba bertahan, saya sempat minta bantuan ibu muda yang lewat untuk mengambilkan foto saya berlatar Skytree yang berketinggian 634 meter itu. Setelah cukup banyak foto yang saya hasilkan sendiri, saya sudah tak tahan untuk terus berdiri di situ. Harus segera bergerak nih, mudah-mudahan dengan itu bisa mengurangi rasa dingin. Saya buka Gmaps untuk menentukan ke arah mana saya harus memulai langkah di perempatan lampu merah ini.




Di Jepang, pejalan kaki sangat tertib. Mereka hanya boleh menyeberang jalan di zebra cross, ketika lampu merah menyala dan tanda orang berjalan menyala hijau. Saat itulah suara 'kicau burung' akan terdengar, pertanda pejalan kaki boleh menyeberang. Konon, 'kicau burung' di semua zebra cross besar yang ada di Jepang ini akan menimbulkan kerinduan bagi telinga turis ketika telah meninggalkan Jepang (dan ternyata saya pun begitu).

Dengan ransel yang masih setia di punggung, serta tas selempang di depan badan, saya mulai melangkahkan kaki, menuju Genmori Bridge sambil terus mengagumi Skytree, melewati Kuil Ushijima yang cantik, menyeberang Sumida River yang besar itu untuk tiba di Sumida Park. Sungguh perjalanan panjang yang tak akan pernah saya lupakan. Dan, di taman apik tepi sungai itulah akhirnya saya melihat deretan pohon berbunga sakura merah muda, lengkap dengan sekerumunan turis, juga beberapa gadis berkimono tebal.


(bersambung ke bagian 2)


#japantrip
#japan
#tokyo

Kamis, 10 Juni 2021

Sebab Kata adalah Sepotong Hati

*Sebab Kata adalah Sepotong Hati*

~Azzura Dayana


"Kata adalah sepotong hati." Demikian ujaran seorang cendekiawan muslim asal India, Abul Hasan 'Ali An-Nadwi. Ini berarti, setiap kata yang keluar dari lisan atau tulisan kita adalah cerminan hati kita. Seperti apa kata atau rangkaian kata yang engkau hasilkan, seperti itulah keadaan hatimu, dan itulah gambaran kualitas hatimu. Hati yang suci akan menghasilkan kata-kata yang suci, tulus, dan bersih. Hati yang baik akan menebar kata yang cenderung membawa ke arah kebaikan, dan mengajak kepada kebermanfaatan. Sebaliknya, hati yang buruk, akan menggambarkan dirinya ke dalam rangkaian kata yang mengandung mudarat. Seterang apa pun diksi yang dipilihnya, atau setebal apa pun selubung yang ia pakai untuk menyamarkan atau mengiaskannya, buruk akan tetap menjadi buruk, dan dapat menyeret sekitarnya untuk ikut kepada keburukan pula apabila tak kuat pegangannya.


Seseorang yang pandai merangkai kata melalui tulisan kerap dapat memengaruhi orang lain dengan apa yang ia tulis. Dengan kesadaran akan kekuatan yang bisa jadi kita miliki ini, sejatinya penulis patut menempatkan dan mencita-citakan diri sebagai penuntun kebaikan, bukan sebaliknya. Sebagai penulis fiksi misalnya, sepatutnya membatasi diri dari menulis vulgaritas, takhayul tanpa batas, dan hal mudarat lainnya tanpa diiringi pelurusan setelahnya. Jangan sampai pembaca jadi tersesat dengan membaca isi tulisan kita. Jangan sampai, hanya dengan melihat judul atau melirik gambar kaver, dapat langsung memunculkan emosi negatif pembaca. Jangan sampai, kita menjadi jalan bagi mereka untuk sesat pikir dan tingkah polah. Jangan sampai, kita yang dituntut di pengadilan Allah atas dosa jariyah ini.


Apalah artinya jadi penulis yang dikenal luas, tapi hilang keberkahannya? Apalah gunanya pundi-pundi emas yang melimpah ruah apabila taruhannya adalah berani menyeburkan diri dalam tema yang tak pantas, atau yang sesungguhnya jauh dari kita tapi kita paksakan untuk meraupnya demi ini dan itu. Tiap-tiap kata yang kita pilih akan menjadi berkah atau malah laknat. Inilah ujian untuk kita terus bertahan dengan idealisme atau melipir ke ruang pinggir. 


Maka, jika ada yang bertanya mengenai makna kata sebagai penulis, saya hanya akan menjawab dengan simpel, "Setiap kata adalah pertanggungjawaban."


Demang Lebar Daun, 31 Mei 2021


#WAGFLPSumselMenulis

#menulisuntukmencerahkan

#menulisuntukkeberkahan

#lampauibatasmu

#bataspositif


Rabu, 23 Desember 2020

Surga Ibu

 "Bahkan jika kau gendong ibumu dari rumah hingga ke Mekkah bolak-balik, bolak-balik, tidak akan bisa menggantikan darah yang dikeluarkan ibumu untuk melahirkanmu."

Kalimat yang diucapkan dengan bergetar dan penuh penekanan dalam nada suaranya itu disampaikan oleh seorang ustadz di hadapan murid-muridnya. Dan kalimat ini adalah salah satu yang berkumandang dalam pembuka sebuah film apik bertahun-tahun lalu, namun nyata masih tergiang jelas di telinga hingga kapan pun, seolah akan terpatri dalam benak ini selama-lamanya. Film yang sungguh mengentak sanubari sejak di awal pembukanya. Tak terlupakan.

Ada pun judul film yang saya maksud itu adalah Ada Surga di Rumahmu. Besutan Aditya Gumay, sutradara kelahiran Sumsel, dan kisahnya terinspirasi dari Ustadz Abu Bakar Al Habsy yang juga merupakan tokoh asal Sumsel. Film ini ditayangkan perdana pada 2 April 2015 dan saya menjadi salah satu penonton di hari perdana pemutarannya tersebut. Saat itu, qadarullah saya sudah diberi karunia dan amanah Allah sebagai seorang ibu. Putri pertama saya saat itu berumur hampir empat bulan.

Sontak, kalimat menggetarkan di awal tulisan ini tadi langsung membuat mata dan hati saya menangis. Ya Allah, betapa mulianya kedudukan seorang ibu. Betapa tak dapat diukur dengan apa pun pengorbanan seorang ibu. Film yang mengambil setting di Palembang, tepatnya di sebuah kawasan konvensional di tepi Sungai Musi ini (kita bahkan dapat menikmati suasana berlayar dengan perahu di atas sungai terbesar di Sumatera itu, lengkap dengan rumah-rumah rakitnya) menyematkan pesan moral yang begitu berharga bagi penontonnya. Semakin kota disadarkan untuk berbuat baik kepada ibu kita, tidak melukai hatinya, dan bersyukur jika sosok ibu masih ada di dekat kita sebab itu adalah kesempatan emas seorang anak untuk mengoptimalkan baktinya. Jangan sampai kita jauh-jauh membawa diri melanglang buana, demi katanya mencari kebahagiaan, kesejahteraan serta ketenteraman hidup, padahal ternyata surga paling sejati di dunia ini ada di rumah kita sendiri, di pelukan cinta seorang ibu dan hangatnya ridha ibu. 

Semakin mengerti saya, bahwa betul tak ada duanya kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu dalam eksistensinya. Titik balik kesadaran itu sebetulnya telah bermula sejak saya mengetahui secara terang benderang bagaimana proses mengandung dan melahirkan; bagian paling luar biasa dari hidup seorang perempuan sebagai istri sekaligus ibu. Sejak saya melahirkan anak sulung, saya betul-betul disadarkan. Betul-betul menyesali kesalahan dan dosa-dosa selama ini pada ibu sendiri. Dan saat menonton film itu bersama suami, kesadaran itu digedor-gedor lagi. Saat melahirkan, ribuan urat syaraf perempuan putus, dan tingkat rasa sakitnya juga ribuan kali lebih sakit daripada semua rasa sakit yang pernah ada di dunia. Maka wajar, jika seorang ibu wafat ketika atau karena melahirkan, maka ia dianugerahi jannah oleh-Nya.

Allah, berkahilah semua ibu salihah di dunia ini, yang telah menghadirkan generasi tiap lapisnya di muka bumi.


Palembang, 22 Desember 2020


#HariIbu

#mothersday

#myweddinganniversaryday

#wagflpsumselmenulis

#lampauibatasmu

Rabu, 11 November 2020

Sekelumit Pernik dari Masa Kecil

Banyak hal yang masih saya ingat betul dari masa kecil saya. Semua yang kebanyakan indah-indah. Kalaupun pernah ada hal-hal menyedihkan dari masa kecil saya, amat sedikit yang saya berhasil ingat, dan rasanya tak penting pula untuk terlalu dibahas. Kenangan indah masa kecil, bagi saya bak harta. Karenanya, saya berupaya untuk selalu menjaganya, dan bila perlu, akan saya bagikan kisahnya hingga ke anak cucu.

Dulu, rumah kami nyempil di antara rumah kakek dan dua paman. Semuanya dari keluarga pihak bapak saya. Tanah Kakek luas memanjang, paling depan adalah halaman, lalu ada rumah Paman Kedua, lalu rumah Kakek (yang ukurannya paling besar), dan di belakangnya barulah rumah kami. Di belakang rumah kami, ada rumah Paman Pertama, si sulung dari tujuh bersaudara Bapak.

Halaman rumah Kakek yang luas dan terletak persis di tepi jalan raya itu, saya ingat betul, adalah lahan eksplorasi saya, kadang bersama kakak atau sepupu-sepupu saya juga. Di sana, tumbuh bermacam pohon, mulai dari kelapa, jambu air, nangka, hingga belimbing. Ada juga kebun serta kolam yang kami sebut kambang. Salah satu tumbuhan yang paling saya ingat di kebun itu adalah kumis kucing. Sebetulnya ada satu lagi jenis tumbuhan yang saya ingat, namun sayang saya kurang tahu namanya. Di kebun itu, sepulang sekolah biasanya saya main, berkejaran dan menangkap kinjang besar warna-warni (sebutan kami untuk capung). Saya menangkapnya dengan menggunakan ranting panjang dan di ujungnya diberi getah dari pohon nangka. Dengan itu, mudah sekali bagi saya untuk membuat kinjang tak berkutik di ujung ranting. Kalau saya ingat lagi sekarang, kasihan juga nasib kinjang-kinjang itu.

Saya juga sering memetiki kumis kucing, mematahkan bagian di bawah kelopak dan mengisap secuil air yang terkandung di dalamnya. Ada rasa manis-manisnya. Aneh memang, sering betul saya dan sepupu-sepupu berbuat demikian walaupun jadi kenyang juga tidak.

Spot main kami berikutnya adalah kambang kecil yang terletak di pinggir tanah luas Kakek. Kecil katanya, tapi bagi kami kambang itu besar juga untuk kami ceburi bersama-sama. Kadang sambil menariki tetumbuhan yang rajin berkembang di sekitaran kambang itu. Dan tak lama kemudian, setelah kehebohan cebur-cebur dan air kambang menjadi keruh luar biasa, kami pun tergopoh-gopoh naik setelah mendengar teriakan Kakek yang membahana. Kakek memang paling jengkel kalau kami telah beraksi habis-habisan di kambang.

Saat malam tiba, usai sudah durasi bermain di luar rumah. Saya tak pernah begadang dan tak begitu merasakan letih. Mungkin kegembiraan masa anak-anak telah menjadi faktor yang melatih raga untuk tetap sehat-sehat saja. Sambil belajar, saya rajin menyaksikan tayangan di layar hitam putih televisi 21 inchi milik kami. Filmnya bagus-bagus. Dan tayangan sore juga kadang bagus-bagus. Ada Oshin, Ohara, Little House on The Prairie, dan lain-lain. Yang paling saya sukai adalah drama-drama yang mengangkat budaya dari bermacam daerah di Indonesia. Dari situ saya banyak belajar tentang kekayaan negeri. Kelak, karenanya saya menjadi penyuka pelajaran Geografi dan Sejarah saat SMP. Makin dewasa, saya makin kecanduan menikmati peta. 

Sebetulnya amat banyak yang berkesan dari kenangan-kenangan dan pengalaman-pengalaman masa kecil. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan lagi untuk bercerita. Intinya, masa kecil itu membahagiakan. Pantas saja kalau ada orang dewasa yang berangan-angan untuk tetap menjadi anak kecil saja. Hehe.

---


#flpsumsel

#wagflpsumselmenulis

#lampauibatasmu

Kamis, 01 Oktober 2020

Mengapa Saya Ingin Terus di FLP?

 *Mengapa Saya Ingin Terus di FLP*


Awalnya saya hanya mencari satu, tetapi akhirnya menemukan banyak. Sederhana, dulu saya hanya ingin belajar banyak tentang kepenulisan. Itulah sebabnya saya bergabung dalam inisiasi pembentukan FLP Sumsel. Berjumpa dan berkumpul dengan orang-orang pertama yang menginisiasi FLP Sumsel, dan ternyata, langkah-langkah bersama mereka masih diridhai Allah hingga detik ini. Meski memang, jumlah personel lama yang bertahan sampai jelang usia kedua puluh organisasi ini tak lagi sama. Namun alhamdulillah, patah tumbuh hilang berganti. Roda organisasi berhasil bertahan hingga hari ini dengan generasi-generasi terbarunya. 


Kini, jika dihitung-hitung, alangkah banyak yang saya peroleh selama ikut menggerakkan organisasi kepenulisan ini. Hampir dua puluh tahun sudah saya ikut melangkah dan bergerak bersama FLP. Tiga pilar FLP terus digembleng. Kepenulisan, seiring sejalan dengan Keorganisasian dan juga Keislaman. Selama perjalanan itu, bukan tak pernah kita merasai yang namanya lelah, bosan, atau sedih. Tapi semua proses dan pengalaman yang pernah terjadi bersama FLP selalu saja menjadi harga. Harga yang saking bernilainya, tak bisa lagi dibeli.



Bagaimana dan dengan cara apa engkau akan membelinya jika ia telah memberimu begitu banyak hal? Keluarga, sahabat, guru, mitra, hingga jaringan di hampir segala penjuru negeri. Bersamanya engkau diajarinya membaca dan menulis, hingga engkau terbaca tak hanya oleh dirimu sendiri. Engkau diberinya tangis dan tawa, bahkan kadang secara bersamaan. Engkau diberinya hal-hal yang dimiliki, sekaligus bersama kehilangan-kehilangan. Engkau diajarinya kesetiaan, pengertian, hingga kematangan.


Aku akan terus di sini. Meski sesekali patah, sesekali payah. Setiap proses yang ada semakin memantapkan jiwa.

Senin, 17 Agustus 2020

Merdeka atau Cinta

 


#puisi
#HUT75RI
#DirgahayuIndonesia
#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu

Selasa, 28 Juli 2020

Meski Tak Berhaji atau Berkurban, 8 Ibadah Ini Bisa Menjadikan Iduladha Kita Penuh Berkah dan Pahala


Seperti halnya hari raya Idulfitri di tahun 2020 yang telah kita lalui tadi, kali ini suasana lebaran Iduladha akan berlangsung sama, yakni tak bisa banyak bersilaturahmi fisik secara leluasa. Meskipun demikian, kita harus dapat melalui ujian pandemi ini dengan sabar dan tawakal, hingga Allah memperkenankannya berakhir kelak.
Sebagaimana kita ketahui bahwa tahun ini kegiatan ibadah haji bagi jamaah asal Indonesia tidak diselenggarakan. Di Arab Saudi sendiri, ibadah haji sebetulnya tetap dilaksanakan, akan tetapi diperuntukkan hanya kalangan khusus dan terbatas.

Lalu bagaimana jika kita tak bisa berhaji dan belum bisa pula berkurban tahun ini? Jangan berkecil hati, kita bisa tetap menjadikan lebaran kali ini penuh hikmah, berkah, dan menuai pahala. Berikut ini adalah 8 jenis ibadah yang bisa kita lakukan:

1.Puasa Arafah

Arafah artinya mengetahui. Di hari Arafah, yakni tanggal 9 Zulhijah Nabi Ibrahim mengetahui makna dari mimpinya, yakni sebagai wahyu dari Allah. Dan ia pun tak ragu lagi untuk melaksanakan perintah Allah. Bagi kita yang melakukan ibadah puasa Arafah dengan ikhlas, Allah akan mengampuni dosanya selama dua tahun.

2. Puasa pada 1-9 Zulhijah

Awal-awal bulan Zulhijah dipenuhi banyak keutamaan, sehingga kita dianjurkan untuk mengisinya amalan-amalan shalih. Selain Puasa Arafah di tanggal 9 Zulhijah, kita juga bisa melengkapinya dengan berpuasa selama delapan hari sebelumnya sejak hari pertama Zulhijah. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam biasa melakukan puasa pada sembilan hari awal Zulhijah.

Adapun di antara para sahabat yang tekun melaksanakan puasa Sunnah 1-9 Zulhijah ini adalah Ibnu Umar.

3. Memperbanyak Salat Sunnah

Ibadah selanjutnya yang dapat kita lakukan pada Iduladha di masa pandemi ini adalah dengan memperbanyak salat sunnah. Baik itu salat rawatib sebelum dan sesudah salat fardu, salat dhuha, ataupun qiyamulail.

4. Zikir

Selanjutnya, perbanyak juga zikir baik selepas salat ataupun di luar waktu salat fardu. Tasbih, tahmid, istighfar, Asmaul Husna, dan sebagainya.

5. Takbiran

Di malam Iduladha dan pagi Iduladha, gemakanlah takbir sebagai penyemarak jiwa. Suasana sakral Iduladha tetap akan dapat kita teguk meskipun kita tak dapat berhaji, bersilaturahmi, atau juga belum dapat berkurban.

6. Doa

Doa adalah perisai kaum muslimin. Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi’i berkata, terdapat lima malam untuk menghaturkan doa yang mudah diijabah, antara lain malam Jumat, malam Iduladha, malam Idulfitri, malam pertama Rajab, dan malam Nishfu Sya’ban.

7. Sedekah

Meski sebetulnya dapat dilakukan kapan saja, bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita dapat menambah makna dan kebahagiaan tersendiri bagi kita dalam menyambut Iduladha.

8. Mengeluarkan Zakat Harta

Zakat harta berfungsi menyucikan harta dan jiwa. Bagi muslim yang hartanya telah mencapai nisab, tak ada salahnya memaknai Iduladha dengan mengeluarkan zakat harta atau zakat mal. Adapun ukuran nisab bagi muslim adalah ketika ia memiliki harta yang jumlahnya setara dengan 20 dinar dan telah dimiliki selama minimal satu tahun, maka ia berkewajiban mengeluarkan zakat harga sejumlah setengah dinar.


Nah, itulah delapan ibadah selain berhaji, berkurban, dan bersilaturahim yang dapat kita lakukan untuk membuat lebaran kali ini tetap penuh makna dan bermandi pahala. Semoga bermanfaat dan Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk melaksanakannya. Aamiin.



~Azzura Dayana
Palembang, 28 Juli 2020


#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu

Minggu, 12 Juli 2020

Kaya Laut, Miskin Air


Indonesia dijuluki negara maritim dikarenakan banyaknya pulau-pulau yang dimiliki, diperantarai selat, lautan kecil dan besar, serta dikelilingi dua samudera. Luasnya perairan mencapai 71% dari seluruh wilayah negeri kepulauan ini. Namun, meski dengan luasnya lautan yang kita miliki itu, nyatanya cukup banyak di bagian-bagian negara kita ini yang kekurangan air.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mendatangi sebuah pulau mungil di Kepulauan Spermonde. Letaknya kurang lebih hanya satu jam berperahu dari kota Makassar. Luas pulau yang memiliki pesona bawah laut yang cukup indah ini hanya 3,4 hektare saja. Dengan mudahnya kita bisa menyelesaikan penjelajahan keliling pulau dalam hitungan menit saja dan menikmati suasana lautan dari sudut mana saja.

Selesai snorkeling sendirian di laut yang sepi sunyi (karena kebetulan satu-satunya kawan yang menemani saya ke pulau itu tidak mau ikut snorkeling), saya dikejutkan oleh sesuatu. Kalau harga sewa peralatan snorkeling sih masih wajar, ya. Yang berada di atas rata-rata itu adalah, tarif untuk buang air kecil, buang air besar, dan mandinya di tempat bersih-bersih yang disediakan. Rumah-rumah di pulau itu memang sedikit. Penduduknya tentu sesedikit yang bisa ditampung oleh rumah-rumah itu. Melihat tarif tadi, barulah saya sadar, meski mereka kaya oleh air (laut) yang mengelilinginya, tapi mereka miskin air bersih; air untuk minum, masak, mandi, dan mencuci.

Pernah tak sengaja terminum air laut ketika sedang berenang di pantai atau snorkeling? Ya, asin. Kita semua tahu tentunya dengan karakteristik air satu itu. Beda dengan sungai, danau, dan air hujan. Air laut mengandung kadar garam 3%. Jika diminum oleh manusia, bukannya menghilangkan haus, air laut justru semakin membuat kita dahaga. Makin banyak air laut yang masuk ke perut, ginjal akan menggunakan lebih banyak air yang tersimpan dalam tubuh untuk menetralisir kadar garamnya, sehingga akhirnya justru kita terancam dehidrasi.

Tak hanya pulau kecil yang saya singgahi itu, pulau-pulau kecil lainnya di Spermonde dan rata-rata kepulauan lain di hamparan Nusantara atau juga daerah pesisir yang jauh dari perkotaan dan sumber air tawar, mengalami kekurangan itu. Memang, ada beberapa pulau yang memiliki sumur, namun kapasitas airnya terbatas. Mereka yang tanpa ketersediaan sumur, hanya mengandalkan hujan atau pula harus mengangkut air bersih dari kota-kota terdekat, dan berlayar melintasi lautan untuk membawanya tiba di rumah.

Selepas itu saya kemudian berpikir, adakah teknologi yang memungkinkan untuk 'mengubah' air asin menjadi tawar, supaya dapat dinikmati manusia? Saya pun mencari tahu informasinya dari jagat maya. Rupanya, ada beberapa solusi selama ini yang pernah diupayakan. Air laut bisa diproses melalui penyulingan dengan beberapa teknologi dan metode. Salah tiganya adalah teknologi Reverse Osmosis (RO), Seawater Reverse Osmosis (SWRO), dan Piramid Desalinator. Mungkin masih ada yang lain lagi selain ini. Namun, masing-masing teknologi ini masih memiliki kelemahannya tersendiri, mulai dari mahalnya peralatan, hingga hasil penyulingan yang cukup jauh dari standar sempurna (misalnya tingkat kekeruhan, hasil sulingan masih mengandung unsur solid/padat di dalamnya yang terbilang masih tinggi, dan sebagainya).

Seiring makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, saya berharap semoga makin banyak temuan baru yang dapat dijadikan solusi bagi penduduk di daerah pesisir, pulau-pulau terpencil, atau daerah-daerah tandus. Dengan demikian, kebutuhan mereka akan air bersih yang menjadi prasyarat sehat raga jiwa dapat tertangani.

Ah, kalau mengingat hal-hal begini, kadang saya betul-betul tersadar, betapa zalimnya jika di sini kita dengan seenaknya menghambur-hamburkan air...


Palembang, 11 Juli 2020


#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu


Jumat, 12 Juni 2020

Memanfaatkan Kepala Udang menjadi Pempek nan Lezat


~Azzura Dayana


Kebetulan anak-anak saya suka sekali makan nasi dengan lauk udang. Namun, namanya juga anak-anak, pasti mereka enggan memakan bagian kepala udangnya juga. Saya pun selanjutnya selalu menyiasati untuk memisahkan terlebih dahulu bagian kepala udang dengan badannya. Badan udangnya saja yang dimasak untuk anak-anak.


Kemudian, daripada mubazir, kumpulan kepala udangnya saya olah menjadi bahan untuk membuat pempek. Ya, pempek kepala udang jadinya. Untuk warga Palembang yang menggemari pempek lahir batin, boleh juga nih dicoba.

Berikut ini saya bagikan resep ala saya, ya. 🙂

Bahan-bahan:
- 250 gram kepala udang
- 300 gram tepung tapioka
- 1 sdt garam halus
- 1/2 sdt gula pasir
- 1/2 penyedap rasa (opsional)


Cara membuat:

1. Bersihkan kepala udang terlebih dahulu. Buang kotoran dan kulitnya. Lalu cuci.

2. Haluskan kepala udang hingga sehalus mungkin.

3. Tambahkan garam, gula, dan penyedap rasa. Aduk rata. Saya menggunakan penyedap rasa Halawa karena mengandung probiotik dan tidak mengandung MSG. Namun silakan jika tidak ingin menambahkan penyedap.

4. Campur dengan tepung tapioka sedikit demi sedikit hingga adonan bisa diuleni. Sisakan untuk mengalasi telapak tangan supaya tidak lengket ketika membentuk pempek satu per satu. Hindari menekan-nekan ulenan terlalu sering supaya pempek tidak menjadi keras.

5. Rebus pempek dalam air mendidih. Diamkan minimal satu menit setelah pempek mengapung, baru angkat. Tiriskan.

6. Goreng pempek dengan minyak goreng di atas api sedang.


Nah, selamat mencoba variasi pempek yang satu ini ya, Teman.



#resepmasakan
#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu


Senin, 18 Mei 2020

[Artikel Islami] DOA

DOA
(artikel Azzura Dayana)

Bagi seorang muslim, doa adalah perisai.  Seseorang secara materi bisa jadi tak memiliki apa-apa. Tapi di hatinya, dia memiliki doa. Muslim sejati, yang telah kaffah akidahnya, yang menyempurnakan kesehariannya dengan rangkaian ibadah, tak pernah lupa untuk sekadar menadahkan tangan untuk meminta apa pun pada Khalik-nya. Lebih dari itu, dia sanggup bersimpuh dan bersujud dalam memohon kepada-Nya. Bahkan dalam keadaan terjepit, dia sanggup menguras air mata kesungguhan untuk mengharap pertolongan Tuhannya.

Seorang muslim mungkin lemah dan tak berdaya secara fisik. Tetapi jiwanya tetap kokoh ditopang doa-doa yang dia rutinkan di kegelapan malam, di saat insan lain lelap dalam nikmatnya tidur. Maka, keterkabulan menjadi niscaya. Sebab saat memohon, tidak mustahil dia masuk dalam antrean para pemohon teratas, disebabkan sedikitnya para pemohon, sehingga dia pun diprioritaskan. Siapa yang dapat memahami jiwa-jiwa yang mudah diijabah pintanya selain Dia Yang Maha Menentukan?


MENGAMBIL MOMEN

Seorang mukmin sejati amat pandai mengambil dan memanfaatkan momen. Dia amat paham mengenai waktu-waktu terbaik untuk berdoa yang segera diijabah. Selain dalam sujud di sepertiga malam, dia dengan sepenuh keyakinan memanfaatkan sepanjang hari Jumat, atau di sebakda Asar, atau di hari Rabu antara Zuhur dan Asar, atau di kala matahari sepenggalahan naik dalam sujud dan zikir dhuha, atau di waktu yang bersamaan dengan wukuf di Padang Arafah. Dia juga pandai mengambil kesempatan yang sempit di antara gema azan dan ikamah untuk bermunajat, atau di sela doa berbuka puasa dan makan-minum (berbuka), atau ketika sahur.

Seorang mukmin yang bersih hatinya dari dendam bahkan mengolah kezaliman yang dirasakannya menjadi momen berdoa. Sebab doa orang yang terzalimi amat makbul. Juga, ketika hujan turun menyirami bumi, dia kerap sibuk memanfaatkannya untuk berdoa.


MEREKA YANG TAK BERDOA

Ada orang-orang yang mungkin telah menggenggam dunia tanpa doa. Namun ingatlah, hidup di dunia yang sementara ini sebetulnya adalah ujian semata. Bisa jadi mereka yang terlihat menggenggam dunia itu sejatinya tidak memiliki apa-apa.

Ada juga orang-orang yang tampak sederhana. Apa yang dimilikinya sebatas kecukupan dalam kesehariannya. Namun siapa duga, di balik itu dia adalah saudagar sedekah. Sesungguhnya dia tak pernah terlihat memiliki segala sesuatu secara berlebihan karena dia memang tak menginginkan demikian, maka semua yang lebih atau seadanya telah dia bagi-bagikan dalam bentuk sedekah pada sesama. Dia tak pernah luput berdoa meminta limpahan rezeki, yang ketika dikabulkan, langsung pula dia bagikan.

Ada juga dua tipe orang-orang berbeda nasib namun hidup dengan seringkali berpapasan. Tipe pertama, orang-orang kaya yang rajin berdoa meminta rezeki berlimpah, dan amat terlihat segala apa jenis benda yang dimilikinya. Soal sedekah dan zakat, biar Allah yang tahu. Tipe kedua, orang-orang yang betul-betul tak memiliki apa-apa, sedikit berdoa, dan selalu malu meminta pada Penguasanya. Akibatnya, dia bertahan dalam kepapaannya.

Jika terbersit secuil rasa iri dalam hati si tipe kedua, siapa yang sebetulnya salah? Ibaratnya, ada saat-saat Allah, Sang Penggenggam kehidupan, bersedia membagi-bagikan harta kepada siapa saja insannya yang menadahkan tangan. Si tipe pertama tak malu-malu menadah, memohon-mohon, bahkan meratap-ratap. Sementara si tipe kedua adem ayem, ogah meminta-minta. Maka kemudian, bukan salah siapa-siapa, kan, jika para pemalu ini mesti gigit jari seumur hidup?

Wallahualam.


Palembang, 18 Mei 2020


#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu

Rabu, 15 April 2020

Membuat Hand Sanitizer dari Bahan-bahan Alami

Membuat Hand Sanitizer dari Bahan-bahan Alami

Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini masih terus berlangsung. Di negara kita, Indonesia, bahkan belum menunjukkan tanda-tanda menurunnya kuantitas terdampak wabah ini sama sekali. Justru semakin meningkat hari demi hari dari segi jumlah PDP, ODP, positif terjangkit, hingga yang meninggal.

Di samping rutin mengumumkan jumlah terdampak agar dapat diwaspadai oleh semua, Pemerintah terus menggaungkan seruan untuk tetap menjaga jarak aman dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Salah satu dari rutinitas yang harus dijalankan secara ketat oleh warga, terutama yang tinggal di zona merah adalah dengan rajin mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Namun, langkanya ketersediaan hand sanitizer di pasaran saat ini menjadikan rutinitas ini agak terkendala. Akan tetapi jangan khawatir, bagi yang setia #diRumahAja, kita bisa mengeksplorasi bahan-bahan di sekitar kita untuk kemudian diolah menjadi hand sanitizer alternatif.

Berikut adalah beberapa bahan alami yang dapat disulap menjadi hand sanitizer alternatif:

1. Daun sirih & kulit rambutan/kulit manggis

Caranya, ambil 10-12 lembar daun sirih dan 6 kulit rambutan atau kulit manggis. Rebus bersama 300 ml air bersih hingga keluar sarinya. Daun sirih berfungsi sebagai antiseptik, sedangkan kulit rambutan atau kulit manggis sebagai antioksidan. Setelah air rebusan dingin, tambahkan beberapa tetes minyak zaitun yang dapat berfungsi untuk menjaga kelembutan kulit. Masukkan ke dalam botol spray. Hand sanitizer ini kemudian dapat dipakai langsung dalam jangka 3 hari.


2. Daun kemangi & lidah buaya

Di sini daun kemangi berfungsi sebagai antiseptik dan lidah buaya sebagai antioksidan. Kupas kulit lidah buaya, ambil bagian dagingnya, di-blender bersama daun kemangi untuk mendapatkan ekstraknya. Tambahkan sedikit air lalu saring dengan sedikit ditekan. Hasil saringan dapat digunakan untuk cairan pembersih tangan.


3. Serai & sirih merah

Ambil 5 batang serai besar dan 10 lembar sirih merah, lalu rebus bersama 300 ml air bersih selama 15 menit. Setelah itu angkat dan saring. Dinginkan dan masukkan ke dalam botol spray.


4. Cuka putih

Cuka putih atau cuka makan memiliki tingkat konsentrasi asam yang tinggi, sehingga dapat membasmi bakteri dan virus yang terdapat di permukaan benda. Campurkan cuka dengan sedikit saja air lalu masukkan ke dalam kulkas untuk menjaga kualitasnya. Campuran ini dapat langsung digunakan untuk membersihkan tangan.


5. Lemon

Campurkan air perasan lemon dengan sedikit air. Lemon juga mengandung kadar keasaman yang tinggi, meski tidak setinggi cuka putih. Karena itu, untuk membuatnya lebih ampuh membasmi bakteri dan virus, disarankan untuk menambahkan alkohol berkadar minimal 70% ke dalam air perasan lemon ini.

Itulah beberapa bahan alami yang dapat kita olah menjadi hand sanitizer alternatif. Meskipun pembersih alami ini cukup mudah dibuat, tetap harus diingat bahwa rentang pemakaiannya tidak begitu lama. Apabila cairan/campuran tersebut berubah wangi dan/atau warnanya, segeralah buang dan gantikan dengan yang baru.

Stay safe and healthy, Gaes....


15/04/2020
*diramu dari berbagai sumber


#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumsel
#dirumahaja


Minggu, 15 Maret 2020

[Puisi] PULANG PISAU


pulang pisau


2010
di sini jarak telah melipat diri
di antara deru mobil travel ringkih dan siaran radio bernuansa jadul, merdumu hadir

sesuatu yang tersayat telah pulang
seperti nama yang disandang sungai dan jembatan teramat panjang tadi
seperti tertera di papan nama rumah makan terlalu sederhana, di tepi jalan berdebu

seperti dulu, aku kembali ke pertengahan waktu
di jam tanganku jam satu, di arlojimu jam dua. kita bersua di setengah dua yang sama.
selekas lagi. selepas ini.

katamu,
selalu ada yang tersirat dari perjalanan seorang diri
hati yang sekarat
atau rindu berkarat

di kelok trans kalimantan ini, pantang kuseka linang yang tersisa 

demang, 150320



#flpsumselmenginspirasi
#WAGFLPSumselMenulis
#setoranke15

===


*puisi ini fiktif belaka... 😁

Selasa, 10 Desember 2019

[puisi] HUJAN BERBISIK

azzura dayana

hujan berbisikbisik suatu senja ke telinga bumi
akan datang malam tanpa sebaris puisi
tentang mereka yang kembali ke pangkuan sujud
pasrah belaka tanpa selubung maksud

udara laun mencatat, malam katanya akan lama titipkan bulan
tidur di rengkuhan awanawan
sampai ibu pulang
sampai lagu letih didendang
tak lagi ada perlawanan

hujan tak akan pulang sampai engkau mengantar
ikrar anakanak lanang yang kelak tinggikan bubungan rumah
gadisgadis seduhkan teh di meja ayah
sampai ibu pulang

tapi hujan makin meremang selarut ini
udara selesai mencatat nama yang takkan jua kembali

Palembang, 101219


#flpsumsel
#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu



Minggu, 22 September 2019

Merasakan Mati, Merasakan Hidup

Merasakan Mati, Merasakan Hidup

Mati

Kapan saya pernah merasakan mati itu begitu dekat? Seingat saya, dua kali. Pertama, beberapa waktu lalu saat penyakit menyinggahi badan. Rasa sakit yang senyeri-nyerinya, sehingga hampir saja saya mengira saya mungkin saja akan mati karena ini. Namun ternyata, hanya perkiraan saya. Sebab dengan terus bergerak mencari cara untuk bertahan, akhirnya hidup pun bertahan.

Kapan yang kedua? Di Semeru. Saat itu, pagi buta di gunung pasir menuju puncak tertinggi tanah Jawa, matahari baru separuh nyata, tapi mata tetap harus dipaksa terbuka, melawan kantuk yang tiada tara. Selama dua malam sebelumnya tak bisa tidur. Tak-bisa-tidur yang saya baru pahami sebabnya belakangan ini...

Ibarat duduk di atas perosotan. Bedanya, kalau kita membiarkan diri meluncur, entah kapan akan selesainya. Entah berapa lama. Ini seperti menghadapi semua semesta. Kita duduk bersandar pada tubuh gunung pasir yang curam. Umpama seekor anak semut bersandar gemetar di dinding mangkok terbalik raksasa seukuran rumah gedong. Ya, begitulah rasanya. Terpeleset sedikit saja, maka selamat tinggal semua. Dalam kantuk, tubuh harus tetap melakukan pergerakan. Tak boleh terlalu lama berhenti jika tak ingin mati kedinginan. Tak boleh terlalu lama diam dan tertidur panjang jika tak ingin tersedot ke dalam tidur panjang nan dingin selama-lamanya.

Begitulah. Ternyata kita bisa merasakan amat dekatnya mati ketika dunia terus berputar dan (harus) terus bergerak.


Hidup

Kapan saya merasakan bahwa perjalanan telah mempertemukan dengan betapa hidupnya hidup? Pada dua momen yang hampir serupa namun tak sama tempatnya.
Pertama, pada suatu malam di lembah antara puncak Gunung Gemuruh dan puncak Gunung Gede. Langit begitu dekat. Purnama bak bola emas raksasa. Bintang hadir berjuta. Sesi menatap adalah sesi surga. Dan di situlah waktu menjadi berhenti berputar. Semua berpusar pada pesona malam itu.

Yang kedua, suatu malam di desa kecil di kecamatan Bayah, pesisir barat daya Banten. Pertama kalinya menyaksikan jutaan, atau mungkin trilyunan bintang kecil berwarna putih dengan jarak kerapatan tingkat tinggi. Maha cantik. Dan waktu seolah harus berhenti di sana untuk bisa menyaksikannya lebih lama. Inilah indahnya hidup yang sesungguhnya. Jika tak hidup, mana bisa mata menyaksikan ini.

Kita merasakan hidup ketika dunia seperti berhenti.


Palembang, 21 September 2019



#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumsel
#lampauibatasmu



Sabtu, 20 Juli 2019

[Review] KALILUNA: LUKA DI SALAMANCA

Judul Novel: KALILUNA: LUKA DI SALAMANCA
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Moka Media, Jakarta
Tahun terbit: 2014
Tebal: 270 halaman


Kaliluna: Luka di Salamanca, sebuah novel dengan tampilan kaver tak begitu cerah yang saya temukan berada di dalam tumpukan bazaar novel lama di salah satu pusat perbelanjaan di Palembang. Saya menyempatkan diri membaca cepat beberapa resensi tentang buku ini sebelum akhirnya memutuskan membeli. Setting Salamanca, sebuah kota antik di Spanyol, yang menjadi salah satu pemicu ketertarikan saya.

Ditulis oleh seorang penulis asal Indonesia, novel ini bercerita tentang tokoh utama yang berasal dari Indonesia. Namun, Indonesianya sendiri sama sekali tak menjadi satu pun setting di dalam novel ini, melainkan hanya disebut amat sekadarnya sebagai kilas balik kisah di masa lalu tokoh-tokohnya. Selebihnya, semua tentang Salamanca: alam, lingkungan sekitar tempat tinggal beberapa tokohnya, budaya dan arsitektur, aktivitas relijius (Katholik), serta kuliner.

Kaliluna, seorang gadis tujuh belas tahun yang piawai dalam olahraga panahan, memutuskan pindah ke Salamanca dengan membawa perihnya luka. Impiannya untuk lolos seleksi Sea Games dan menjadi kebanggaan telah hancur seiring hancurnya kehormatan sebagai seorang perempuan pada suatu malam. Kejadian tragis itu terus menghantuinya dalam mimpi-mimpi tidurnya. Ia lalu menemui Frida, ibu kandung yang meninggalkannya saat kecil dan tinggal di Salamanca. Frida tinggal di sebuah apartemen di tepi Sungai Tormes, tempat yang indah dan tenang, namun tetap saja tak berhasil mengembalikan Kaliluna menjadi gadis ceria dan enerjik lagi.

Sampai akhirnya, pertemuannya dengan Ibai, seorang pemuda Vasco yang perhatian dan gigih, lambat laun mengubah semuanya. Tentu saja, novel setebal hampir tiga ratus halaman ini banyak menceritakan apa yang mereka berdua lakukan sebagai healing, dan tak bisa saya sebutkan satu per satu tempat mana saja yang mereka kunjungi dan renungi, puisi mana yang mereka bahas dan nikmati, tumbuhan apa yang mereka amati dan hayati, makanan apa saja yang mereka cicipi.... Sangat banyak dan cukup detail. Bahkan tentang makanan, saya sampai agak 'mabuk' membacanya. Bukan tentang adegan makan sup yang kuahnya berasal dari darah babi itu juga, sih... Tapi terutama karena begitu banyak nama makanan dalam bahasa Spanyol dan untuk nama-nama tertentu disebut terlalu berulang. Padahal, menurut saya, sudah pas jika kemudian disebutkan dalam bahasa Indonesia saja. Apalagi ketika nama makanan yang dimaksud tidak terdiri dari satu atau dua kata saja. Jadinya, kan, ribet.

Novel ini sesungguhnya sangat manis dan indah, meskipun memang, torehan luka yang sulit sembuh adalah pokok ceritanya. Dan bagi orang yang suka jalan, novel ini akan memberikan kesan yang cukup mendalam. Bagaimana view Sungai Tormes dengan latar Jembatan Enrique Estevan dan Katedral Salamanca dari sudut dermaga kecil tempat favorit Kaliluna, bagaimana gambaran filosofis musim semi, kebun cantik di dekat Katedral, dan sumur dengan gembok-gembok bertulis nama yang bergelantungan di atasnya, suasana kota, dan sebagainya.

Kota Pendidikan, itulah julukan yang disematkan pada kota ini lantaran di sana terdapat University of Salamanca yang kenamaan. Kota yang sunyi di waktu pagi, dan riuh di malam hari. Usai menamatkan novel yang saya baca selama dua hari ini, saya browsing di internet untuk mengetahui lebih banyak tentang kota ini. Tentang suasana, cukup sama dengan apa yang digambarkan di novel. Mahasiswanya berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk kuliah di sana, tapi di malam hari sudah menjadi kebiasaan (banyak) mahasiswanya hura-hura dan mabuk-mabukan di kafe dan bar.

"Lalu kapan mereka belajarnya?" tanya Kaliluna yang keheranan melihat fenomena itu, dan dijawab Ibai secara abstrak.

Dengan kekayaan bangunan arsitektur dari salah satu kota tertua di Eropa ini, Salamanca memang termasuk kota favorit tujuan wisata di Spanyol. Dulunya, kota ini pernah berada dalam naungan kejayaan peradaban Islam Kerajaan Cordoba, namun kini jejak warisan Islam tak bisa ditemui barang secuil lagi di sini.

Secara keseluruhan, novel ini asyik untuk dibaca. Dengan diksinya yang ringan namun apik, membuatnya tidak membosankan.

Sebagai penutup, saya tuliskan kembali di sini beberapa dialog dan kalimat unik-cantik yang menjadi favorit saya:

"Kata mamaku, jangan pernah percaya pada laki-laki yang menyukai puisi."
"Kenapa?"
"Sebab laki-laki seperti itu biasanya kantongnya kosong." (hal 13)

"Seseorang baru matang jiwanya jika dia bergelut dengan api kehidupan, ditempa terus-menerus. Namun ada juga orang yang matang jiwanya hanya dengan berdiam diri dan menerima apa yang terjadi dengannya. Kadang kala bertahan, kadang kala hanyut." (hal 65)

"Saat kamu menarik senar busur menjauh dari busurmu, sebenarnya semua yang ada dalam dirimu baik yang berlawanan maupun yang searah justru berkumpul di suatu tempat. Kamu tahu di mana? Di batinmu. Mereka berkumpul untuk menentukan takdirmu." (hal 90)

"Aku ingin melakukan denganmu apa yang musim semi lakukan dengan pohon ceri." (penggalan Pablo Neruda, hal 96)


~αzzurα dαyαnα
Palembang, 20 Juli 2019

#flpsumsel
#WAGFLPSumselMenulis
#literasiberkeadaban

Selasa, 18 September 2018

[Sayembara Puisi] Hari Sumsel Berpuisi




Liksitera Chapter Sumsel menggelar:

Hari Sumsel Berpuisi

Mengundang semua pencinta puisi untuk berpartisipasi mengirimkan puisi terbaiknya dalam event Hari Sumsel Berpuisi.

Persyaratan:
1. Event terbuka untuk umum, tanpa batasan usia dan domisili
2. Tema puisi bebas, dengan memasukkan penyebutan nama kota, desa, atau daerah di Sumatera Selatan
3. Puisi harus asli, bukan saduran, belum pernah dipublikasikan, dan tidak sedang diikutkan dalam event atau lomba apa pun, serta tidak mengandung unsur sara dan pornografi
4. Peserta wajib mengirimkan maksimal 2 puisi disertai biodata (maksimal 5 baris) dalam 1 file.
5. Puisi ditulis dalam bentuk MS Word, jenis huruf Times New Roman ukuran 12 spasi 1. Masing-masing puisi tidak melebihi 1 halaman.
6. Puisi dikirimkan berupa lampiran (subject: nama_judul puisi), tidak ditulis di badan email.
7. Puisi dikirim ke email: sumselberpuisi@gmail.com
8. Batas akhir pengiriman puisi tanggal 31 Oktober 2018 pukul 23.59 WIB
9. Peserta wajib mengikuti (follow) akun instagram Liksitera Sumsel (@liksiterasumsel) untuk mengikuti info dan perkembangan terbaru mengenai event ini
10. Biaya administrasi Rp10.000 bagi tiap pengirim. Transfer ke rek Mandiri 9000015475859 a.n Siti Fatimah. Konfirmasi via WA dengan menyertakan bukti transfer ke 081367529773

Hadiah dari Sponsor:
Juara 1: Rp.500.000 + paket buku + sertifikat
Juara 2: Rp.250.000 + paket buku + sertifikat
Juara 3: Rp.150.000 + paket buku + sertifikat

- Semua puisi yang masuk akan diseleksi oleh dewan juri berkompeten yang telah ditentukan
- 200 puisi terbaik akan dibukukan dalam antologi eksklusif yang diendors oleh penyair-penyair nasional
- Para pemenang akan diundang pada bulan Desember di acara puncak Hari Sumsel Berpuisi dan berhak mengikuti workshop penulisan puisi bersama penyair nasional.


(Copas from ig @liksiterasumsel)