Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 November 2015

Catatan Pendakian Gunung Anak Krakatau

Krakatau: Pesona Gunung Mungil yang Menyembul di Tengah Lautan


Krakatau.

Krakatau Purba.

Anak Krakatau.

Setiap kali mendengar nama-nama ini, pikiran saya pasti langsung terasosiasi pada letusan dahsyat. Ya, gunung yang terletak di perairan Selat Sunda, pemisah pulau Sumatera dan Jawa ini adalah gunung berapi dengan tingkat keaktifan yang luar biasa.

Koleksi pribadi. Difoto oleh Azzura Dayana.
Ribuan tahun lalu Krakatau Purba diperkirakan adalah sebuah gunung berapi menjulang berbentuk kerucut, yang pada suatu ketika (tahun 416 Masehi) meledak dengan kekuatan tak terbayangkan oleh manusia. Hingga konon daya ledak tersebut mampu memisahkan pulau Sumatera dan Jawa yang tadinya bersatu menjadi terpisah. Tentu saja, ledakan tersebut memakan korban jutaan manusia dan menyebabkan efek nyata terhadap alam sekitarnya hingga radius ribuan mil.

Tiga perempat tubuh gunung ini hancur dan hanya menyisakan sisi-sisi tepi kawahnya yang menjadi tiga pulau yaitu Pulau Sertung, Pulau Rakata, Pulau Panjang, serta sebuah kaldera di tengah-tengahnya. Kemudian muncul dua gunung di sana yaitu Gunung Danan dan Gunung Perbuatan, yang lama-kelamaan menyatu dengan Pulau Rakata. Kesatuan pulau dan gunung ini kemudian dikenal sebagai Gunung Krakatau. Ketinggiannya mencapai 813 meter dari permukaan laut.

Sumber: internet
Di tahun 1883, gunung ini kembali beraksi dengan meledakkan dirinya kembali secara dahsyat. Tercatat sebanyak 36 ribu korban jiwa akibat bencana alam tersebut. Suara letusannya mencapai Australia, Amerika dan Afrika, menimbulkan awan panas, kegelapan matahari bercampur debu hingga tahun berikutnya, dan tsunami dengan ketinggian 40 meter.

Letusan maha dahsyat yang menggemparkan dunia ini lagi-lagi memusnahkan tubuh Krakatau hingga hanya menyisakan setengah kerucut.

Empat puluh tahun kemudian, dari tengah kaldera yang ada, tiba-tiba pada suatu hari muncullah cikal bakal anak dari sang gunung yang telah hilang. Para nelayan yang sedang melaut pada akhir tahun 1929 menjadi saksi kemunculan kepulan asap hitam dari permukaan laut di tengah kaldera.  Ternyata itulah awal kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Gunung mungil yang tumbuh menyembul perlahan dari dalam lautan dan terus bertambah ketinggiannya ini adalah fenomena alam luar biasa yang bisa kita saksikan di perairan Selat Sunda sambil berdecak kagum. Arungilah selat ini berawal dari Pelabuhan Canti di selatan Lampung dengan menumpangi kapal nelayan. Sekitar tiga jam kemudian, setelah melewati beberapa pulau yang indah besar dan kecil, mata kita akan terperangkap takjub saat menyaksikan pulau yang bentuk dan warnanya unik, berbeda sendiri. Khas. Itulah yang terekam kuat di ingatan hingga kita pulang nanti dan seterusnya.

Dalam perjalanan menuju Krakatau, kapal kecil yang saya tumpangi bersama teman-teman sempat mogok dua kali karena mesinnya rusak. Mogok yang kedua sampai menyemburkan asap yang membuat kami terkejut dan bahkan sudah siap jika kondisi mengharuskan kami meloncat ke laut (agak lebai dikit, hehe…). Dua kali pula jadinya kami terombang-ambing terdampar di tengah lautan lepas sambil menunggu kapal lain yang kiranya akan menjadi bala bantuan bagi kami para castaways.

Sementara dalam perjalanan pulangnya dari Krakatau, ceritanya beda lagi. Kapal kami sudah diganti dengan kapal yang lebih baik kondisi mesinnya. Tetapi kali ini ombak tak setenang saat kami berangkat tadi. Ombak sore telah lebih buas. Mengguncang-guncang bukan hanya tubuh kami di dalam kapal, tetapi juga kapal itu sendiri sampai terempas-empas. Ada kalanya tinggi ombak bahkan lebih tinggi dari tinggi kapal. Subhanallah. Alhamdulillah meski demikian kami semua selamat sampai tiba lagi di Pelabuhan Canti yang sederhana.

Kembali membahas si Krakatau.

Sejak kelahirannya, Gunung Anak Krakatau ini tak pernah tenang. Aktivitas vulkaniknya terus berlangsung. Gempa vulkanik, semburan asap, hingga lontaran abu dan lava pijar, telah terjadi belasan kali.

Dari penjelasan petugas Cagar Alam Krakatau yang saya dapatkan, lokasi ini rupanya selalu ramai didatangi pengunjung tiap akhir pekan. Kondisinya saat ini aman untuk didaki, walaupun tetap saja kita tidak diperkenankan mendaki hingga benar-benar ke puncak. Pendakian hanya bisa dilakukan sampai ke bibir kawah.




Anak Krakatau saat ini ketinggiannya sekitar 450 meter tepat dari atas permukaan laut. Dan ketinggian ini akan semakin bertambah karena berdasarkan penelitian, gunung ini pertumbuhannya mencapai 7 meter setiap tahunnya, terus membesar, serta terus melebar tepian pulaunya. Di tepian pulau masih terlindung oleh pepohonan hutan. Memulai trek pendakian, kita masih akan melewati jalan yang kiri kanannya pepohonan. Kemudian pepohonan akan semakin berkurang dan jalan pasir yang ditapaki semakin lebar, sedikit berliku. Setelah itu, view mulai terbuka dan sedikit menanjak. Makin lama makin panjang dan terus menanjak, dengan trek pasir yang kering, tak ada lagi pepohonan.

Suasana sedemikian tandus sehingga menciptakan cuaca panas yang permanen. Semakin tinggi, pemandangan indah mulai terlihat. Dua pulau di sekitar Anak Krakatau tampil memesona. Tibalah kita di bibir kawah. Posisi jelasnya adalah begini: kita berdiri di bibir kawah setengah lingkaran, di hadapan kita adalah lembah yang memisahkan kita dari puncak Gunung Anak Krakatau yang gagah, bertekstur bebatuan keras dan hitam, serta menampakkan belerang hijau berasap yang menambah kesan fantastik sebuah puncak gunung berapi superaktif. Di sanalah terdapat kawah Anak Krakatau yang jika dilihat dari udara akan terlihat serupa lubang menganga bekas letusan yang hebat.


Nah, begini posisi dan bentuk si Anak Krakatau dari atas. Bagian hijau (hutan/pepohonan) itu adalah titik awal ketika kita menginjakkan kaki di pulau gunung ini. Pendakian dimulai dengan melintasi hutan tersebut, berjalan ke arah kiri dan naik hingga tiba di setengah bagian gunung. Sumber foto: simomot.files.wordpress.com

photo by azzura dayana

Saya, berlatarbelakang puncak Krakatau

Zoom puncak dari dekat, dari bibir kawah

Tipe dan karakteristik Gunung Anak Krakatau sama seperti induknya. Serius dan mematikan. Kandungan silica dalam magmanya sangat tinggi. Kandungan silica yang tinggi terkait dengan letusan tingkat tinggi pula. Bayangkan, dalam puluhan atau ratusan tahun ke depan, sudah berapa ketinggian gunung ini?

Maha Besar Allah. Pencipta langit bumi dan segala isinya….



Rabu, 10 Juni 2015

Hanin Magically Answered

Pagi yang cukup dingin di Kamis 14 Mei 2015, sekitar pukul enam. Saya membuka pintu sambil menggendong si bayi usia lima bulan. Cerah yang menyambut kami keluar. Jaket tebal berbulu yang dipakai Hanin saya rapatkan. Dari pintu itu, saya melangkah ke depan, lalu menghadapkan badan ke kiri. Gunung Dempo berdiri menjulang di hadapan. Saya memandanginya lekat. Begitu hijau, begitu anggun, begitu indah. Tiga ribu seratus delapan tiga meter dari atas permukaan laut tingginya.

Masih menggendong Hanin erat, telunjuk kanan saya angkat sedikit di hadapannya. Saya arahkan pada gunung itu, lalu setengah berbisik saya berucap padanya.

“Itu namanya Gunung Dempo, Nak. Ummi pernah satu kali berdiri di puncaknya. Ya, puncak yang itu. Abi sudah belasan kali naik ke sana dan ke puncaknya juga. Suatu hari nanti, Hanin akan ke sana juga, ya?”

Dan, ajaib!

“Iyo,” jawab Hanin. Ya, bayi saya yang baru belajar bicara ini menjawab!

Tidak tidak. Saya tidak bercanda. Saya sendiri tercengang takjub dan nyaris tak percaya mendengarnya. Satu kata itu benar-benar keluar dari mulut Hanin, tepat satu detik setelah rangkaian kata yang saya ucapkan kepadanya selesai. Bunyinya benar-benar “iyo,” bukan “iya” atau yang lain. Ya, bahasa Palembang. Hehe. Sangat terang ucapannya.

Sungguh, saya takjub. Sebelumnya, Hanin memang sudah bisa mengucapkan “ba ba ba” atau “bu bu”, “abu”, juga “enggeng, areng” dan sejenisnya. Tapi kali ini, dia mengucap “iyo.”

Ah, Nak, kamu menjawab Ummi rupanya. Mengiyakan dengan sebuah janji. Allah, terima kasih. Engkau memang Maha Indah.


Selasa, 25 Maret 2014

[Galeri Foto] Ranu Kumbolo, Gunung Semeru

Ranu Kumbolo, sebuah danau alami nan elok yang luasnya sekira 14 hektare ini merupakan salah satu surganya pegunungan yang menjadi favorit para pendaki Nusantara. Danau berbentuk hati ini dapat ditemui di jalur pendakian Gunung Semeru, pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut.

Galeri berikut adalah foto-foto Ranu Kumbolo yang saya ambil dari beberapa sisi menggunakan kamera Nikon kesayangan saya, pada pendakian Semeru bersama sobat-sobat tercinta.














Gunung Semeru sendiri terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Untuk tiba di Ranu Kumbolo, pendaki dapat memulai berjalan kaki selama kurang lebih enam jam dari desa Ranu Pane, desa terakhir yang dapat diakses kendaraan.

Ranu Kumbolo pada malam-malam di musim kemarau dapat mencapai suhu terdinginnya hingga -15 derajat celsius. Ekosistem di sekitar danau masih sangat alami, dilingkupi beberapa perbukitan hijau yang dirimbuni pepohonan dan bebungaan, termasuk di antaranya sedikit vegetasi edelweiss.

Di musim-musim puncak pendakian, pinggiran danau ini selalu dipadati tenda-tenda pendaki. Sebagai pecinta alam, diharapkan mereka senantiasa dapat menjaga lingkungan di lokasi-lokasi mana pun di sekitar gunung ini termasuk Ranu Kumbolo dengan bertanggung jawab terhadap sampah mereka. Jika tidak, bisa dipastikan, keelokan dan kealamian danau ini akan lambat laun sirna, lalu hanya menjadi cerita kenangan untuk anak cucu kita. Hmm, semoga saja tidak demikian.


Jumat, 21 Maret 2014

Catatan Pendakian Gunung Papandayan


Trekking ringan ke Gunung Papandayan kali ini hanya dilakoni oleh empat orang saja, yaitu saya, Kak Ian, dan Mbak Nur, plus Kang Dedi, seorang teman dari Garut. Maklum, rencana pendakian kali ini cukup mendadak, jadi beberapa teman lain menyatakan tidak bisa bergabung karena sudah punya agenda masing-masing.

Malam itu hujan deras mengguyur Jakarta Timur, tepatnya di kawasan tempat kami menunggu bus menuju Garut di luar terminal Kampung Rambutan. Tubuh kami dalam keadaan kuyup dan sedikit letih, sebab sebelum tiba di sini kami mesti berlari-larian sepanjang jembatan transit Halte Benhil-Semanggi yang aduhaai panjangnya, demi mengejar TransJakarta terakhir jurusan Cililitan. Supaya lebih cepat, kami lantas turun di depan Tamini Square, nyambung mikrolet menuju Terminal Kampung Rambutan. Kebetulan tadi saya mendapat suvenir berupa payung di acara yang kami ikuti malam itu sebelum bertolak ke terminal ini, jadi resmilah payung itu di-launching demi melindungi kepala dari hujan. Sementara ransel, pundak, sandal, dan beberapa bagian pakaian kami yang lain tetap saja kebasahan. Niatnya sih menunggu di luar terminal biar lebih cepat dapat bus tanpa menunggu busnya ngetem. Ternyata hujan begini, hmm… mau jalan kaki ke dalam juga sudah tanggung dan jalannya buanjir air hujan begitu….

Jam 23.30, bus jurusan Garut via Tol Cipularang yang ditunggu tiba di hadapan kami. Meski ternyata bus butut tersebut bocor dan membuat kami tidak bisa tidur, saya bersyukur karena setidaknya upaya kami berkejaran menuju Garut tengah malam begini sudah berhasil.

Selamat Pagi, Garut

Dulu, pertama kali ke Garut di tahun 2009, saya menjuluki kota ini sebagai Kota Seribu Gunung, saking banyaknya gunung yang menghiasi daerah ini. Belum lagi bukit-bukitnya. Saya merasakan sejuk yang nyaman di sini. Tapi nyatanya pada kunjungan kali kedua, hanya pagi dan malamnya yang dingin (ya iyyalah!), sementara siang di Garut terasa amat panas selayak Jakarta saja… :D

Perjalanan kami menuju Pos Lapor Pendakian Gunung Papandayan ternyata baru dimulai sekitar pukul 6 pagi. Sebelumnya kami bersih-bersih sejenak (bukan mandi) di markas kawan-kawan pendaki muda Garut, dan mencari sarapan bubur ayam sambil memandangi kegagahan Gunung Guntur yang telah memesona saya sejak pertemuan pertama. Hehehe. Garut pagi ini sungguh cerah, pun demikian view Gunung Guntur di depan mata kami ini. Padahal kemarin katanya Garut hujan terus dan Gunung Papandayan sendiri ditutup beberapa hari karena sempat reaktif terhadap aktivitas Gunung Kelud, termasuk terkena kiriman hujan abunya.

Jam 8 pagi kami tiba di pos lapor. Kami berempat dikenakan bea masuk Rp10.000. Tadinya kami tidak berniat menyewa seorang guide, sebab katanya kan gunung berketinggian 2.622 meter di atas permukaan laut ini medannya tidak ekstrem dan jalurnya sangat jelas. Tapi toh ketika kami sudah mulai berjalan, seorang guide tanpa diminta mengikuti kami. Keramahannya menyebabkan kami tidak mungkin memintanya berhenti. Lagipula, setelah melihat kawah terbuka yang sedemikian luasnya, yang katanya trek sangat jelas pun bisa jadi akan kabur bagi orang yang sama sekali masih buta tentang jalur Papandayan. Jadi, ya, daripada kita trial and error dan menyia-nyiakan sekian menit untuk salah, lebih baik guide ini diterima dengan senang hati. Sebab rencana pendakian ini memang tiktok, naik turun sehari tanpa kemping, mengingat waktu yang kami punya sangat terbatas. Cerita-cerita yang mengalir dari mulut sang guide pun nyatanya banyak menambah referensi kami tentang gunung ini khususnya, dan tentang pendakian gunung dan Garut pada umumnya.


Kawah Demi Kawah

Kawah Papandayan memang membentang sejauh mata memandang. Luas sekali. Di beberapa sisi tampak kawah ini masih dikawal oleh tebing-tebing dan punggung pegunungan hijau yang tinggi, di mana yang tertinggi di antaranya otomatis adalah puncaknya. Namun yang menjadi puncak gunung Papandayan ini justru tidak selalu digapai oleh para pendakinya, mengingat sering sekali ada larangan naik ke puncak sebab rawannya aktivitas vulkanik gunung ini, juga karena di puncak sebenarnya kita juga tidak disajikan view yang lebih spektakuler. Puncaknya hanya berupa tanah sempit yang dilintasi jalan setapak. Saat kami mendaki kali ini pun, puncak Papandayan ditutup untuk pendakian.

Trek Papandayan adalah jalan tanah kering nan berbatu-batu. Sekilas, tampak treknya sangat mudah dan terlihat datar-datar saja. Padahal saat dijalani ternyata sedikit demi sedikit menanjak dan berliku. Batu-batu vulkanik rapuhnya pun harus ditapaki dengan kehati-hatian dan ketepatan pemilihan alas kaki, sebab jika tidak, tentunya kita akan dengan mudah tergelincir.


Hutan Mati & Tegal Alun

Setelah berhasil melintasi kawah-kawah lama dalam terkaman garang matahari di tanah terbuka seperti ini, tujuan kami adalah Hutan Mati. Sebuah bekas hutan lebat yang kini menyisakan ribuan batang pohon menghitam tanpa daun lagi. Bersusun dengan kerapian alaminya sendiri sehingga tampak amat eksotik. Hutan Mati ini terbentuk akibat letusan Gunung Papandayan pada 2002 lalu.

Hutan Mati
Hutan Mati
Puas menikmati eksotika Hutan Mati, perjalanan kembali diteruskan. Break hanya sesekali dilakukan untuk menghela napas dan mengunyah perbekalan. Kami memang tidak mengunjungi Pondok Salada, dataran luas yang menjadi favorit pendaki untuk kemping di Papandayan. Selain karena tidak nge-camp, jalurnya pun berlawanan dengan Tegal Alun. Jadi, kami langsung tembak Tegal Alun saja. Jalur menuju surganya Papandayan ini mulai menukik. Untungnya, barang bawaan kami memang cukup minimal sehingga tidak terlalu membebani.

Jam 11 siang itu, rasa lelah kami otomatis terbayar oleh sajian hamparan edelweiss. Ah, betapa rindunya saya pada bunga-bunga abadi ini. Konon Tegal Alun adalah habitat bunga edelweiss terbanyak se-Jawa Barat, mengalahkan Padang Suryakencana di Gunung Gede. Tapi, melihat kenyataannya di Tegal Alun kini, sepertinya faktanya tidak begitu lagi, sebab vegetasi ini telah banyak berkurang sejak letusan terakhir Papandayan yang memusnahkan sekian jumlah edelweiss. Belum lagi ulah tangan jahil manusia yang dengan sadar ‘menculik’ edelweiss dan membawanya ke peradaban.

Edelweiss di Tegal Alun
Edelweiss Tegal Alun belum banyak yang mekar pada bulan Maret begini. Puncak musim mekarnya kalau tidak salah bulan Mei. Tapi itu tidak menyurutkan antusiasme saya untuk hunting rimbunan tercantiknya dan membuat foto-foto makro edelweiss.



Sungai-sungai Belerang

Turun dari Tegal Alun, sayang sekali kalau tidak menjelajahi spot-spot lain dan langsung pulang. Maka, setelah lagi-lagi menembus Hutan Mati dan tiba di Kawah Lama, langkah kami menyerong ke kanan, menuruni kawah, melintasi sungai-sungai kecil yang eloknya tingkat tinggi, danau-danau kawah kecil berwarna hijau dan merah, sumber belerang panas yang menguarkan asap yang ketika melintasinya kami justru harus menahan napas supaya tidak pingsan (baunya ciin!), juga tumpukan belerang salju yang luar biasa cantiknya. Untungnya, belerang salju ini tidak begitu menguar baunya.

Belerang salju
Belerang salju
Sementara sungai-sungai yang dilewati adalah sungai belerang panas yang bisa dipakai untuk berendam tapi tidak boleh diminum. Ada juga sungai yang airnya aman untuk diminum. Lainnya adalah sungai-sungai perawan yang macam-macam warna air dan bebatuannya.



Danau Kawah Baru

Akhirnya… inilah tempat berlabuh kami yang terakhir. Sebuah danau luas nan cantik berwarna hijau, dilingkupi oleh tebing dan perbukitan. Rasanya pingin nyebur, eh tapi tidak bawa baju ganti dink... :-) Udara yang dingin memaksa kami merapatkan kembali jaket. Respiro saya bahkan rasanya masih kurang tebal. Tetapi kehangatan hati sebab kebahagiaan perjalanan nyatanya telah menjadi obat. Danau ini baru terbentuk setelah letusan Papandayan pada 2002 juga, sama seperti terbentuknya Hutan Mati.



Setengah satu siang, kami kembali ngebut turun gunung. Yang namanya turun gunung biasanya memang lebih mudah dan mengasyikkan. Seperti turun dari Tegal Alun menuju Hutan Mati tadi, misalnya, tinggal melompat-lompat saja menuruni tanjakan. Tapi setelah bertemu jalur kawah lagi, kita mesti lebih hati-hati karena tanahnya berbatu-batu. Untungnya, untuk pulang ke Pos Lapor Pendakian dari Kawah Baru ini kami bisa melewati jalur pintas yang tanahnya tidak serapuh trek naik di sebelah sana tadi. Jadi untuk ngebut pun, masih terhitung aman.

Jam setengah dua siang, kami tiba di Pos Lapor. Pendakian yang cepat tapi tetap saja menyenangkan. Alhamdulillah.




Kamis, 06 Maret 2014

[Galeri Foto] Tegal Alun, Gunung Papandayan

Tegal Alun, surganya Gunung Papandayan, terletak di punggung puncak Papandayan di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Gunung Papandayan sendiri adalah salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia, dengan ketinggiannya mencapai 2.622 meter di atas permukaan laut (telah mengalami penurunan ketinggian semenjak gunung ini terakhir meletus pada tahun 2002 silam).





Gunung ini tak pelak adalah salah satu habitat terluas bunga edelweiss di Pulau Jawa. Habitat terbanyak edelweiss lainnya seperti kita ketahui adalah juga di Padang Suryakencana Gunung Gede, Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango, Gunung Sindoro, dan lain-lain. Namun, sejak erupsi 2002, vegetasi ini berkurang cukup drastis dari semula.





Edelweiss Papandayan biasanya mengalami musim mekar sekitar bulan April dan Mei. Ketika kami datang pada awal Maret ini, edelweiss yang kami temui baru sebagian kecil yang mekar. Lainnya belum mekar sama sekali, sementara yang lainnya lagi mekar dalam kondisi dan warna yang kering.

Rasa lelah melintasi jalur pendakian Papandayan yang berbatu-batu seperti terbayar begitu saja ketika kaki telah mencapai alun-alun bunga abadi nan memesona ini. Saya pun segera beraksi dengan Nikon saya, dan menciptakan beberapa foto mikro.




Subhanallah... Bersyukur sekali telah berkesempatan menikmati salah satu 'surga dunia' ini. Semoga edelweiss di sini tetap lestari, dijaga oleh alam dan para pendaki-pendaki sejati. :-) 





*Siap-siap menulis catatan pendakian Papandayan setelah ini.

Senin, 06 Januari 2014

Tugu Rimau Kembali (Gerbang Pendakian Gunung Dempo)

.

Hari terakhir di tahun masehi 2013, saya menginjak tempat ini lagi, seperti persis satu tahun yang lalu (31 Desember 2012). Tugu Rimau, Pagar Alam, Sumatera Selatan. Di lokasi yang terletak di ketinggian 1.820 meter di atas permukaan laut ini terdapat pos lapor pendakian Gunung Dempo. Gunung yang merupakan titik tertinggi kedua di Pulau Sumatera (3.183 meter di atas permukaan laut).

Saya hanya pergi berdua dengan Kak Ian ke tempat ini, mengendarai motor Yamaha putih-hijau, menembus gerimis yang datang dan pergi, juga menembus udara begitu dingin yang entah berapa suhunya. Tiba di Tugu Rimau yang merupakan satu dari dua jalur pendakian Dempo, suasana cukup ramai oleh pengunjung. Tidak semuanya pendaki. Ada juga para wisatawan saja yang sekadar ingin rekreasi. Mungkin termasuk juga kami. Saya bertemu dengan adik-adik dari Teknik Pertambangan Unsri yang mengenal saya. Berceritalah kami sejenak. Kak Ian juga bertemu dengan beberapa rekannya di sana, yang termasuk di antaranya adalah para panitia Festival Gunung Dempo. Dari informasi yang kami peroleh, telah terdata 600 pendaki yang mendaki Gunung Dempo di momen tahun baru masehi 2014 ini. 

Kami sendiri tidak bermaksud mendaki. Hanya kangen dengan tempat ini, dan sekalian ingin melihat-lihat suasana persiapan pendakian rombongan teman-teman pendaki. Kebetulan pula kami memang sedang berada di Pagar Alam untuk silaturahim keluarga. Itulah sebabnya kami tidak membawa peralatan apa pun, bahkan sarung tangan sekalipun, meski jemari tangan sudah nyaris membeku rasanya.

Tugu Rimau 1820 mdpl

Suasana di titik awal pendakian Dempo

Spanduk Dempo Green Community

Festival Gunung Dempo II:
- Pendakian gunung bersama
- Bersih gunung
Penanaman bibit pohon
- Malam keakraban pecinta alam
- Lomba bersih gunung

Spanduk selamat datang para pendaki

Suasana siang berkabut di Tugu Rimau
Patung Si Rimau jadi rebutan untuk teman berfoto :-)

Kami tak ketinggalan :D

Pos lapor

Selamat datang para peserta festival

Here is the pin
"Selamatkan Bumi"