Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2016

Menjawab Rengganis


Sebuah review penulis Rengganis: Altitude 3088

Saya banyak membaca review yang ditulis oleh rekan-rekan pembaca untuk novel kedelapan saya, Rengganis Altitude 3088, baik itu review yang mereka tulis di blog atau social media personal masing-masing, maupun yang disetorkan ke situs publik seperti Goodreads (untuk Rengganis, link Goodreadsnya bisa diklik di sini). Saya sangat berbahagia dan berterima kasih kepada mereka, para pembaca saya ini, yang tanpa keberatan memberikan pemikiran dan penilaian tertulis usai membacanya.

Respon positif banyak sekali saya terima melalui isi review para pembaca tersebut. Alhamdulillah. Mayoritas merasa puas, bahagia, terpesona, serta terinspirasi oleh gambaran setting di novel Rengganis. Ya, memang novel ini lengkap sekali membahas jalur pendakian Gunung Argopuro, utamanya dari jalur Baderan hingga ke Bermi. Jalur tersebut meliputi: KSDA Pegunungan Yang Timur Banyuwangi—Mata Air Pertama—Sabana Kecil—Sabana Besar—Sabana Cikasur—Cisentor—Rawa Embik—Sabana Lonceng—Puncak Rengganis—Puncak Argopuro—Puncak Arca—kembali ke Sabana Lonceng—Cisentor—Cemara Lima—Aeng Poteh—Danau Taman Hidup—hingga tiba di Desa Bermi. Tiap tempat dieksplorasi secara detail dan visual, sehingga pembaca—konon katanya—seolah bisa melihat sendiri pemandangan tersebut di depan mata dan seolah ikut diajak ke dalam petualangan pendakian para tokoh-tokoh muda di dalamnya. Kepuasan juga tercipta dari bahasa yang ringan, manis, lembut, dan sedikit romantis. Ini kata pembaca. Selain itu, ketakjuban juga tercipta dari penceritaan tentang misteri Dewi Rengganis sang putri Majapahit yang pernah mendiami puncak dan memiliki istana dan taman di sana, plus misteri bekas unfinished airport Belanda di sabana terluas di sana.

 Namun, di sisi lain, ada juga sejumlah kritikan, lontaran kekecewaan, kejenuhan, atau bahkan pertentangan terhadap bagian-bagian atau unsur tertentu dari novel ini. Dan saya justru, lagi-lagi sangat berterima kasih atas evaluasi dari pembaca sekalian. Sebagai penulisnya, saya menyadari betul, Rengganis Altitude 3088 memiliki banyak kekurangan. Tak ada karya sempurna, meski kita pastinya selalu berusaha untuk menulis dengan sebaik-baiknya.

Mari saya tuangkan satu per satu ya keluhan pembaca-pembaca tersayang, dan kemudian saya berikan sedikit pandangan yaa….

1.       Rengganis Altitude 3088 ini tipis sekali. Cerita di dalamnya pun jadinya kurang panjang. Kalau dibandingkan dengan Altitude 3676 Takhta Mahameru, kalah jauuh.
~ Betul. Jika dibandingkan dengan Altitude 3676 Takhta Mahameru, Rengganis paling hanya setengahnya. Hehe.

2.       Begitu detailnya unsur perjalanan dan tempat-tempat yang dilewati, bagi kalangan tertentu justru memantik rasa jenuh alias bosan. Alurnya lambat, konfliknya renggang.
~ Betul. Sejak membuat draft novel ini, bahkan sejak rencana membuat novel ini bentuknya masih di dalam otak, memang ceritanya khusus tentang pendakian full dari awal sampai akhir, dengan sedetail-detailnya. Se-riil mungkin, meski tokoh-tokohnya fiktif.

3.       Latar belakang dan kisah hidup masing-masing tokoh kurang tereksplor. Mungkin karena kebanyakan tokoh juga, sehingga kurang fokus. Lebih menarik jika kisah hidup tokoh-tokoh diceritakan, misal si A ikut tim ke Argopuro setelah patah hati. Atau si B mendapat mimpi berbau mistis atau apalah sehingga dia memutuskan untuk pergi mendaki.
~Right. Thanks, Readers. Luv u. Betul juga ya. Coba kalau kisah hidup yang melatarbelakangi sifat dan alasan mereka pergi mendaki dipaparkan, novel ini akan menjadi lebih tebal. Tapi ya itu, mungkin karena saya terlalu murni mengikuti rencana awal, yaitu bercerita tentang pendakian thok, ya jadinya begitu deh. Hehe. But thanks much for those suggestions, guys.

4.       Si tokoh pemuda yang lenyap karena mengejar Dewi Rengganis terlalu cepat ditemukan. Kirain bakal lama ditemukannya, atau sangat panjang dan berbelit-belit proses penemuannya, sehingga cerita makin seru dan menegangkan.
~ Sebab jika dia ditemukan lebih lama daripada itu, maka dia harus ditemukan dalam keadaan mati. Begitulah Argopuro. Pertama, saya sedang ‘tidak berminat ‘membunuh’ tokoh dalam novel kali ini. Kedua, lagi-lagi karena niat saya sejak awal adalah menceritakan pendakian Argopuro se-riil mungkin, sedekat mungkin dengan kenyaataan yang jamak terjadi pada pendakian-pendakian ke Argopuro. Mereka yang hilang ‘dipanggil’ oleh Rengganis dan lama tak kembali, lebih dari satu hari saja, maka biasanya ia memang tak akan benar-benar kembali lagi. Mereka yang hanya melihat sang dewi, atau dayangnya, atau pengawalnya, atau entah siapanya lagi, mereka lebih beruntung karena mereka ‘hanya melihat’ dan masih sempat pergi menyelamatkan diri. Beberapa kejadian mistis seperti yang diceritakan dalam novel Rengganis sungguh mendekati kejadian-kejadian nyata yang pernah dialami pendaki ke Argopuro, temasuk cerita Fathur tentang tiga teman pendaki di akhir novel.

5.       Tidak ada kisah cintanya, misal kisah cinta antara dua tokoh pendaki di dalamnya.
~ Hmm. Memang saya sedang ingin bercerita tentang cinta di taraf permukaannya saja sih. Tidak benar-benar menjadikannya sebagai unsur plot yang penting di dalam novel Rengganis ini. Maaf yaa… guys.

6.       Profil kedelapan tokoh kok malah letaknya di bagian belakang. Setelah ending cerita. Ini malah aneh.
~ Ssttt… kalau yang ini sih… sebenarnya kekecewaan saya juga. Ketika pertama menerima novel ini dalam bentuk buku, saya sempat mencari-cari profil kedelapan tokoh di halaman depan. Ketika tidak menemukannya, saya mengira bagian yang justru sangat krusial tu dihapus oleh editor. Dan saya terkaget-kaget ketika menemukannya di bagian akhir cerita. Oh, tidak! Padahal tujuan saya membuat profil tokoh-tokoh itu adalah supaya pembaca mendapat gambaran awal tentang mereka, karena tokoh utamanya ini cukup banyak, jadi saya berharap profil tersebut dapat membantu pembaca untuk mengingat mereka. Semoga jika novel ini dicetak ulang nanti, bagian profil tokoh-tokoh ini bisa dipindahkan lagi ke bagian depan yaa… aamiin J

Oke… sedemikian saja dulu yaa sharing saya tentang behind the novel. Intinya sih, saya berbahagia dengan respon apapun dan bagaimanapun dari pembaca sekalian. Doakan semoga saya konsisten untuk terus menulis novel-novel berikutnya, sehingga dapat kembali menemui pembaca dalam kisah yang berbeda. C u….





Minggu, 18 Oktober 2015

EVEREST

Sumber: internet


Sudah lama ingin menuliskan ini. A simple review about Everest. Sebuah film yang saya tonton di jelang akhir penayangannya di bioskop, sekira awal Oktober ini. Agak terlambat menontonnya, dan sekarang sangat terlambat menulis dan memosting review-nya. Hehe. Tapi tujuan tulisan ini memang bukan sebagai persuasi bagi pembaca untuk segera ikut menyaksikan filmnya, karena film ini tidak ada lagi di bioskop. Maka, jadinya, tulisan ini adalah sekadar sharing. Dan kalau pun pembaca jadi tertarik juga untuk menontonnya, masih ada dua cara, yaitu dengan cara mencari CD-nya atau menunggunya muncul di televisi.

Film Everest diangkat dari sebuah kisah nyata pendakian tragis yang berlangsung di tahun 1996. Melibatkan beberapa pendaki sungguhan dan bintang-bintang Hollywood, film besutan sutradara Baltasar Kormakur, Everest tampak seperti sangat luar biasa. Berkisah tentang serombongan pendaki dari berbagai latar belakang yang berjuang untuk mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Everest. Berbagai aral melintang mereka hadapi. Namun perjuangan itu akhirnya kalah oleh badai dahsyat yang melanda mereka, sehingga akhirnya beberapa anggota tim tewas.

Saya melihat Everest sebagai film yang ingin menampilkan kejadian nyata secara totally real. Proses alurnya tahap demi tahap dan klimaksnya tidak ditambahi bumbu-bumbu supaya lebih dramatis atau bombastis. Sebab alam Pegunungan Himalaya dan Puncak Everest di Nepal itu sendiri sudah lebih dari bombastis. Pendakinya adalah orang-orang terpilih. Bahkan yang terpilih saja masih berisiko untuk gagal mencapai puncak, apalagi mereka yang tak terpilih, dalam artian hanya pendaki amatiran yang tak tahu  banyak tentang pendakian pada umumnya dan pendakian gunung es pada khususnya.

Alam tak bisa dilawan. Meski manusia berencana selengkap dan serapi mungkin, faktor alam yang notabene adalah kekuasaan sepenuhnya milik Tuhan tak bisa dianggap sampingan. Salah satu anggota tim ekspedisi Everest tersebut, Yasuko Namba dari Jepang yang sudah mendaki enam dari Seven Summits of the World, bahkan harus mengakui kekalahannya di puncak terakhir yang sedianya akan melengkapi prestasinya mencapai tujuh gunung pencakar langit dunia.

Mungkin kemudian Everest akan menjadi tempat yang menakutkan tersebab keekstreman lokasinya. Tetapi bisa juga malah menjadi pelecut untuk menyuburkan semangat menaklukkan tantangan tingkat tinggi. Apapun itu, Everest bukan gunung biasa. Itulah sebab kemudian terlahir kelompok bisnis pemandu pendakian Everest semacam Adventure Consultant dan Mountain Madness yang memasang tarif fantastis.

Dengan menyaksikan film ini, wawasan budaya hingga wawasan sebagai insan penikmat dan penjelajah alam saya meningkat. Dari sisi hiburan, sajian pemandangan alam bentang Himalaya hingga puncak tertingginya benar-benar memanjakan mata. Dari segi cerita, karena ini adalah kisah nyata tragis yang dibuat semirip mungkin dengan kejadian aslinya, maka tentu jangan berharap banyak untuk mendapati happy ending atau percikan konflik yang dibuat-buat. Dari sisi spiritual, membuat keimanan dan tawakkal kepada Sang Maha Memiliki Alam Semesta dan Maha Mengatur-nya bertambah-tambah. Hingga satu pelajaran terpetik terkait kisah ini, bahwa ketika kita hendak menjelajah alam dengan beragam bentuk dan level risikonya, alangkah lebih baiknya jika kita justru menyungkur di hadapan Pemilik Alam itu, memohon keridhoan-Nya agar diberi keberhasilan, bukan malah menyongsongnya dengan bersenang-senang tiada batas dan tiada arti. Ya, meski itu adalah momen yang layak dihargai dengan cara pikir kita masing-masing.

Terakhir, saya teringat pada satu adegan, ketika para pendaki dalam tim itu ditanyai tentang motivasi mereka mendaki. Jawaban terakhir yang paling mengesankan beramai-ramai diserukan oleh beberapa pendaki, “Because it’s thereee!”

A fenomenal slogan. Sejuta makna. Wow!


Senin, 02 Maret 2015

[Review] RENGGANIS: Altitude 3088 by Azzura Dayana

Pelajaran Mendaki Dari Sebuah Novel
Judul                            : Rengganis: Altitude 3088
cover rengganis: altitude 3088
cover rengganis: altitude 3088
Penulis                          : Azzura Dayana
Editor                          : Mastris Radyamas
Penerbit                       : Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit                : Pertama, Agustus  2014
Jumlah Halaman          : 232 halaman
ISBN                           :  978-602-1614-26-6
Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Pendiri Klub Pecinta Buku Booklicious
Belakangan ini novel-novel yang bercerita tentang pendakian banyak digandrungi pembaca. Sejak novel 5 CM best seller dan dijadikan sebuah film, novel pendakian masih tetap ada peminatnya. Bahkan, pada tahun 2012 novel tentang pendakian memenangkan sebuah lomba novel, yaitu Tahta Mahameru karya Azzura Dayana yang memenangkan lomba yang diadakan oleh Republika.
Selain menulis, Yana (sapaan akrab Azzura Dayana) memang suka mendaki gunung, maka tak heran jika novel-novel karyanya belakangan ini temanya tak jauh-jauh dari hobinya tersebut. Karya terbarunya berjudul Rengganis: Altitude 3088. Tidak seperti 5 CM dan karya Yana sebelumnya Tahta Mahameru (versi barunya Altitude 3676), Rengganis: Altitude 3088 dari awal sampai akhir bercerita tentang pendakian.
Dengan maksud begini, jika dalam novel 5 CM dan Altitude 3676 cerita pendakian hanya di beberapa halaman saja, tetapi dalam novel Rengganis: Altitude 3088 sejak lembar awal sudah memulai cerita pendakian sampai di akhir halaman. Gunung yang dijadikan setting pendakian dalam novel ini juga tidak terlalu terkenal bagi orang yang bukan maniak gunung, yaitu Gunung Argopuro. Meski begitu, dalam novel ini Yana mampu mendeskripsikan gunung Argopuro dengan begitu indah, sekaligus misterius sehingga memantik naluri penasaran pembaca untuk ikut bertualang bersama tokoh rekaan Yana, inilah salah satu kelebihan novel ini.
Tokoh-tokoh di dalamnya dari berbagai profesi. Beberapa tokohnya juga terikat dalam persahabatan seperti dalam 5 CM. Ada Dewo yang bertubuh tinggi dengan berat badan cukup ideal, sebagai karyawan sebuah pabrik. Dia memiliki teman yang dulu sekampus dengannya yakni Fathur dan Nisa. Fathur berpostur kurus tinggi, berprofesi sebagai wartawan. Sedangkan Nisa adalah seorang gadis yang periang, lincah namun penakut. Sudah mendaki gunung-gunung di Jawa Barat, Semeru, Merapi dan Rinjani.
Fathur membawa temannya dari Jakarta, yaitu Rafli. Bertubuh atletis dan juga memakai celana kargo (grey army) seperti Fathur. Orang yang melihat mungkin akan mengira dia adalah tentara, tetapi sebenarnya dia adalah fotografer. Tokoh lain bernama Dimas, tokoh yang bijak dan relijius. Dia seorang pengusaha muda dan novelis. Dimas membawa temannya yang bernama Acil dan Ajeng.
Acil asli Solo, bertubuh mungil dan agak kurus. Berprofesi sebagai pengusaha garmen dan satu-satunya di tim pendakian yang sudah menikah dan memiliki anak. Ajeng juga asli Solo, gadis manis dan tenang yang berprofesi sebagai biologist. Terakhir, Nisa membawa teman yang bernama Sonia. Gadis asli Manado yang tinggal di Surabaya. Berkulit paling terang dan satu-satunya wanita yang tidak berkerudung.
Sebagai penulis novel, Yana tidak hanya menceritakan novel yang menghibur pembaca. Tetapi, dia juga ingin memberi edukasi kepada pembaca, khususnya edukasi tentang mendaki gunung. Salah satu alasannya mungkin karena semakin banyak orang yang mendaki gunung, tetapi tidak tahu ilmunya, termasuk pula adab pendakiannya. Bahkan, seorang pecinta alam pun kadang tidak mengaplikasikan ilmu atas nama yang disandangnya. Misal, sebagai pecinta alam, seharusnya dia bukan hanya mendaki gunung tetapi juga merawatnya, termasuk tidak membuang sembarangan ketika di gunung.
Kelebihan lainnya dari novel ini adalah dari awal akan mendaki, Yana sudah memberikan pelajaran bagaimana seharusnya menjadi seorang pendaki itu. Tokoh-tokoh dalam novel ini semua sepakat menjadikan Dewo sebagai ketua. Nah, ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa ketika bepergian dalam berkelompok, maka harus dipilih salah satunya sebagai ketua perjalanan. Begitu pula dalam sebuah pendakian. Maka pemimpinlah yang menjadi penanggung jawab dalam pendakian tersebut.
Dewo pun melakukan tugas-tugasnya sebagai ketua,  seperti membagi tugas teman-temannya  ketika mempersiapkan pendakian, mengkoordinir pengumpulan uangsharing-cost ada yang membeli bahan-bahan logistik (makanan, dll), mencari carteran, termasuk shalat juga dia perhatikan (halaman 15). Persiapan menjelang mendaki termasuk hal yang jarang diperhatikan oleh pendaki ‘newbie’. Tidak tahu medan, tidak mempersiapkan, langsung nekat mendaki. Maka, bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi jika yang didaki adalah gunung Argopuro yang tidak cukup didaki dalam sehari.
Novel karya novelis Palembang ini juga dibumbui intrik karena ketidakpercayaan dan kesalahpahaman antara pendaki. Karena ada di antara mereka yang baru saja bertemu ketika akan pendakian, maka peluang kesalahpahaman cukup terbuka karena belum saling kenal betul. Namun, adanya tokoh yang bijak, dewasa, serta pemimpin yang mampu mengayomi anggotanya, maka masalah tersebut bisa teratasi.
Buku yang tidak setebal  Altitude 3676 ini tentu memiliki kekurangan, yaitu alur yang mudah ditebak bahwa akan ada pertengkaran kecil dalam kelompok dan anggota kelompok yang bersalah (tidak ramah pada alam) dan tidak taat pada pemimpin perjalanan akan mendapat balasan atau masalah dalam pendakian. Namun, tipis dan alur yang cepat sekaligus menjadi salah satu kelebihan novel ini. Begitu juga dengan pendakian yang penuh perjuangan, intrik antar pendaki, dan gunung yang penuh misteri menjadi kekuatan novel ini. Tak ayal, novel ini menjadi rekomendasi bagi pembaca khususnya yang sedang mengalami euphoria naik-turun gunung namun minim ilmu mendaki. Sebuah upaya edukasi yang cerdas! Menghibur, tanpa menggurui. Selamat membaca dan mendaki!
* Resensi ini diikutkan lomba menulis resensi buku karya-karya Penulis FLP dalam rangka Milad FLP ke-18.
sumber asli: https://ridhodanbukunya.wordpress.com/2015/02/26/rengganis-altitude-3088/

Rabu, 07 Januari 2015

[Review] Rengganis: Altitude 3088

Rengganis: Altitude 3088 by Azzura Dayana

“Selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya.” (Hal. 216)

Penulis: Azzura Dayana
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Ilustrator: Naafi Nur Rahma
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Syawal 1435 H/ Agustus 2014
Jumlah hal.: 232 halaman
ISBN: 978-602-1614-26-6
Dia baru saja menyelinap keluar. Terbangun oleh gemerisik angin yang menabrak-nabrak tenda. Dua lapis jaket membungkus tubuhnya. Satu jaket polar dan satu jaket parka gunung. Tak ada seorang manusia lain pun yang terlihat. Seluruh penghuni kerajaan sang dewi telah tertidur.

Padangannya lurus ke depan. Kemudian, tiba-tiba saja tatapannya berubah menjadi tajam. Sangat tajam. Menatap lekat sesuatu. Atau lebih dari satu. Perlahan-lahan dia berjalan meninggalkan tenda. Meninggalkan teman-temannya yang tidur di dalam tenda. Menjejaki rerumputan basah dalam langkah-langkah pasti. Dermaga tua itu tujuannya. Mendekati tarikan magnet bercahaya. Memanggil-manggilnya dengan suara tak biasa.
Rengganis, pentas apa sebenarnya yang tengah dilangsungkan?

Hingg pagi hari datang, anak muda itu tak pernah kembali lagi ke tenda....

***

“A traveler without observation is like a bird without wings” (hal. 120)

Serombongan pemuda(i) berkumpul di Surabaya untuk memulai pendakian mereka ke Pegunungan Hyang. Lima laki-laki dan tiga perempuan yang menjadi satu tim dengan tujuan yang sama : menjejak Puncak Rengganis. Mereka adalah Fathur, Dewo, Dimas, Rafli, Acil, Ajeng, Nisa, dan Sonia. Delapan orang ini punya sifat yang berbeda-beda. Acil yang paling paham medan yang akan mereka lalui ditunjuk menjadi guide. Dewo didaulat menjadi pimpinan regu. Fathur sebagai asistennya. Nisa sebagai bendahara dan Ajeng sebagai komandan dalam hal masak-memasak. Yang lain bertugas sesuai kebutuhan tenaga bantuan yang sedang diperlukan saja.

Sejak awal mereka bergerak sebagai sebuah tim yang solid. Saling mengisi, hingga di tengah cerita Rafli sering menyelisihi instruksi Dewo. Ini sempat menimbulkan ketegangan. Ini lebih karena Rafli menyimpan ketertarikan pada Sonia. Hal ini membuat sikap dan reaksinya sedikit berlebihan dan mengganggu stabilitas kerja sama kelompok mereka. Interaksi kedelapan orang ini banyak diceritakan dalam novel ini.

Di samping itu hal lain yang disuguhkan dalam buku ini adalah keindahan yang digambarkan dapat ditemui selama perjalanan menuju Puncak Rengganis. Deskripsinya cukup jelas dan memantik rasa ingin tahu. Ini menjadi menarik sebab masih jarang yang membahas petualangan di jalur ini dalam bentuk novel. Umumnya lebih banyak membahas Semeru yang juga sesekali disebutkan dalam novel ini.

Namun yang paling banyak digambarkan adalah proses mereka menempuh perjalan menuju dan kembali dari Puncak Rengganis. Tentang informasi yang berseliweran tanpa terverifikasi lebih jauh akan adanya situs kerajaan yang dipimpin oleh perempuan bernama Dewi Rengganis. Tentang adanya sejumlah orang yang melihat sosok – sosok yang diduga Dewi Rengganis ataupun dayang-dayangnya. Namun keberadaan reruntuhan tersebut nyata adanya. Digambarkan pula adanya pengalaman mistis selama perjalanan mereka. Hingga puncaknya salah satu dari tim ini menghilang. Di saat itulah kerjasama tim mereka diuji. Sanggupkah mereka pulang dengan selamat dan lengkap?

***
“Leave nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but ego,” (Hal. 208)
Bagi orang yang tidak pernah punya keyakinan diri untuk mengikuti satu pun pendakian, maka membaca novel Rengganis: Altitude 3088 ini membuat kalimat, “Buku bisa membawamu pergi ke manapun,” terbukti nyata. Membaca buku ini membuat saya menjadi anggota tambahan dalam petualangan Dewo dan kawan-kawan. Deskripsi yang cukup detail tentang perjalanan dan apa yang mereka temui selama pendakian memudahkan timbulnya perasaan tersebut.

Buku ini bagi orang yang sangat awam dalam kegiatan pendakian akan menjadi petualangan yang menarik. Pengetahuan-pengetahuan umum bagi pendaki pun banyak bertebaran di dalam buku ini. Hal ini menambah pengetahuan saya. Lihat saja penjelasan Fathur berikut,
“Seandainya kita tersesat atau kehabisan makanan saat di gunung, salah satu cara bertahan hidup alias sebagai survivor adalah mengikuti apa yang biasa dimakan oleh kera, monyet, lutung atau apa pun yang sebangsanya. Karena pencernaan mereka relatif sama dengan manusia. Jadi, tumbuhan yang menjadi makanan mereka insya Allah aman untuk pencernaan kita. ....  Kamu pastikan tumbuhan itu tidak gatal saat kamu gosokkan ke tangan. Dan juga pilih tumbuhan yang daun atau batangnya tidak berbulu. Yang seperti itu biasanya aman untuk pencernaan kita.” (hal. 215 -216)
“Benar. Allah menciptakan alam ini dengan prinsipp-prinsip keseimbangan. .... Di gunung, beberapa contoh terpapar nyata. Sumber air panas dan belerang biasanya ada di ketinggian, berkhasiat menyembuhkan penat di tubuh kita kala mendaki. Bunga lavender tumbuh di lembah basah, dan harumnya bunga ini bermanfaat melindungi tubuh kita dari serangan nyamuk hutan lembab atau tempat gelap. Tumbuhan cantigi, yang batangnya pendek namun sangat kokoh, tumbuh di ketinggian atau tebing, membantu pendaki untuk berpegangan. Bahkan walaupun pohonnya sudah  mati atau ditebang, batangnya masih tetap kuat. Dan, masih ingatkah kalian pada kebun-kebun tembakau selepas dari Baderan? Olesan tembakau bisa membuat kita terhindar dari serangan pacet yang banyak dijumpai pada musim hujan di trek sebelum sabana.” (Hal. 216 -217)
Ada sebuah point yang bagi saya bagai pedang bermata dua di dalam buku ini. Yaitu kehadiran delapan orang tokoh yang seolah menjadi pemeran utama bersama. Atau simplenya saya menyebutkan bahwa tim mereka adalah tokoh utama dalam cerita ini. Ini menarik karena penulis berhasil menggambarkan mereka memiliki karakter yang berbeda-beda meski akhirnya latar belakang setiap tokoh kurang tereksplorasi dengan baik. selain itu, meski mereka secara keseluruhan adalah sebuah tim dan sama-sama menjadi tokoh utama, namun ada tokoh yang lebih menonjol seperti Rafli dan Sonia karena pengalaman mereka lebih banyak “dibocorkan” atau sikapnya lebih mencolok.

Dibanding Sonia, tokoh Ajeng dan Nisa cukup tenggelam. Selain itu entah kenapa ada peluang konflik yang tidak diolah lebih jauh oleh penulis yakni hubungan yang terjalin antara Dewo, Nisa dan Ajeng. Sebab di awal cerita saya sempat mendapat “kode” bahwa bisa jadi Nisa menyukai Dewo (tapi bisa jadi saya yang salah membaca kode *selalu gak paham bahasa perkode-kodean*), sedangkan Dewo menyukai orang lain dalam tersebut.

Hm.. saya suka dengan apa yang saya baca di buku ini. Memberi saya sensasi petualangan yang asing namun tidak membuat saya bosan.

Btw, kok nggak dibahas gimana keseharian Nisa dan Ajeng sebagai perempuan berjilbab di dalam petualang ini? *penasaran* (^_^)

***

Sumber: http://atriadanbuku.blogspot.com/2014/12/rengganis-altitude-3088.html, diposkan oleh Atria Sartika pada Rabu 31 Desember 2014.
Thanks so much ya ^_^

[Review ALTITUDE 3676] Kisah Backpacker: Tanjung Bira Hingga Puncak Tertinggi Jawa


Sebuah Review Novel Altitude 3676 Takhta Mahameru Karya Azzura Dayana

Oleh Afifah Afra


Lahirnya sebuah karya, memang cermin zamannya. Apa yang terjadi pada sebuah masa, terdokumentasi dari karya-karya yang tercipta di masa tersebut. Maka, pekerjaan seorang penulis, khususnya fiksi, sebenarnya tak sekadar menjahit kata menjadi lembaran cerita yang enak dibaca dan karenanya membuat kita terhibur. Tetapi, seorang penulis sejatinya juga pendokumentasi kehidupan.

Bahwa pernah ada sebuah masa saat anak-anak muda di negeri ini ‘keranjingan’ ber-bacpacker, salah satunya berhasil dijepret oleh Azzura Dayana, novelis muda yang tinggal di tepi Sungai Musi, Palembang, dan dicetak dalam sebuah potret karya bertajuk “Altitude 3676 (Takhta Mahameru)”. Tajuk tersebut adalah judul baru dari edisi lama “Takhta Mahameru”, sebuah novel yang berhasil memenangkan sayembara novel  yang diselenggarakan Harian Republika sebagai juara kedua. Ketika novel tersebut di-republish oleh Penerbit Indiva Media Kreasi, novel tersebut diganti judul menjadi “Altitude 3676”, dengan tetap menyertakan judul lama sebagai identitas, karena novel ini memang telah dikenal cukup luas di kalangan para pembaca novel Indonesia. Altitude artinya ketinggian, 3676 meter adalah ketinggian dari Gunung Semeru, alias Mahameru, puncak tertinggi di Pulau Jawa.

Azzura Dayana memang sedang berada di track para juara. Edisi republish ini kembali berhasil menggondol predikat Fiksi Dewasa Terbaik di ajang penghargaan “IKAPI-IBF Award 2014” di Senayan, Jakarta, 1 Maret kemarin. Sementara, di Anugerah Pena 2013 yang diselenggarakan FLP di Bali kemarin, novel ini ikut menjadi nominator novel terbaik. Apa sebenarnya yang membuat  novel ini mendapat sambutan positif bukan hanya dari kalangan pembaca, tetapi juga juri berbagai event?

Novel ini bercerita tentang 3 tokoh, yang masing-masing menggunakan sudut pandang orang pertama dalam bertutur: Raja Ikhsan, Faras dan Mareta. Pada sebuah perjalanan, Faras bertemu dengan Mareta, dan akhirnya menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Mereka bertemu di Borobudur, lalu menuju Sulawesi Selatan, Tanjung Bira. Untuk apa Faras melakukan perjalanan begitu jauh, meninggalkan rumahnya di lereng Gunung Mahameru? Ternyata Faras mengikuti jejak yang tertinggal dari sebuah email. Faras begitu ingin bertemu dengan sosok yang mengiriminya email. Tentu bukan karena kebetulan si pengirim email adalah seorang Raja Ikhsan yang beberapa kali bertemu dengannya saat melakukan pendakian di Mahameru (lebih lazim dikenal sebagai Gunung Semeru). Tetapi karena suatu sebab….

Bagian inilah yang paling mengesankan saya membuat saya terhenyak dan nyaris menahan napas dari novel ini.

Raja Ikhsan, sosok yang ‘remuk-redam’, meninggalkan ingar-bingar kehidupan perkotaan dan mencoba mencari kedamaian di sejuknya Ranu Pane dan Ranu Kumbolo.  Di tempat itulah dia bertemu dengan seorang gadis 'ndeso', 'hanya' lulusan SMA, namun pintar, puitis dan menyukai sajak-sajak Kahlil Gibran. Gadis itu bernama Faras, yang berkali-kali harus berhadapan dengan Ikhsan, si bad boy yang menyebalkan.

Meski menyebalkan, pertemuan itu meninggalkan kesan di hati keduanya. Namun, persoalan sepenting apa yang akhirnya membuat Faras rela mengejar Ikhsan dengan cara mengikuti jejak yang tertinggal lewat email? Email tanpa berita apapun, kecuali foto-foto lokasi yang diyakini Faras sedang dikunjungi Ikhsan. 

Sebegitu istimewakah sosok Ikhsan di mata gadis selugu Faras? 

Kisah Backpacker
Daya tarik dari novel ini selanjutnya adalah perjalanan Faras dan Mareta yang enak disimak. Bagi yang menggemari aktivitas backpacker, ini bab yang paling menggirangkan. Saya sendiri menikmati betul bagian ini. Makasar dan Tanjung Bira dipaparkan lumayan detil dalam novel ini, termasuk adat-istiadat masyarakat Bugis yang mengagumkan. Juga pembuatan perahu pinisi yang legendaris, serta kecintaan masyarakat bugis terhadap laut. Sayangnya, justru narasi yang terlalu panjang ini seperti agak menutupi usaha Yana dalam mengeksploitasi Ranu Pane, Ranu Kumbolo serta berbagai lokasi di Gunung Mahameru yang semestinya menjadi setting dominan di novel ini.

Bisa membaca Altitude tanpa skip, itu pertanda bahwa saya bisa masuk ke dalam novel ini, menikmati setiap diksinya, dan berkelindan dalam setting dan tenggelam dalam kisahnya. Tetapi, beberapa kali harus mengernyitkan kening, karena dalam beberapa kerikil kecil seakan menjadi pengganjal kehalusan kisah ini. Nama Faras, bagi saya aneh. Orang Jawa, apalagi ndeso, jarang yang menggunakan nama itu. Mengapa tidak Saras atau Saraswati? Lebih ‘njawani’. Logat dan bahasa Jawa yang digunakan juga beberapa terasa kurang pas. Faras yang digambarkan sangat lembut dan santun, mestinya tidak berbahasa ngoko, tetapi krama halus. 

Faras yang ‘pasrah’ terlalu baik, dan nyaris tak punya perlawanan juga menggemaskan. Jika ada sedikit gejolak yang dimunculkan, mungkin akan terasa lebih manusiawi dan diterima nalar, ketimbang saat dia ditampilkan ‘suci tanpa noda’.

Lepas dari berbagai kekurangan, saya suka dengan novel ini, dan yakin bahwa Azzura Dayana memiliki masa depan yang sangat cerah di dunia kepenulisan, khususnya fiksi, di Indonesia, bahkan dunia.

***

Sumber: http://www.afifahafra.net/2014/04/kisah-para-backpacker-dari-tanjung-bira.html

Senin, 10 Maret 2014

[Review Buku] Kesturi dan Kepodang Kuning


Judul novel: Kesturi dan Kepodang Kuning
Penulis: Afifah Afra
Penerbit: Elex Media Komputindo
Harga: Rp49.800


----------



Kata orang pintar, jika ada orang yang mengatakan ‘kau ini idealis’, sebenarnya, dia sedang mengatakan, ‘kau ini masih manusia’. (hal. 241)

Jadi, orang pragmatis itu sebenarnya mayat hidup yang bergentayangan, ya? Atau drakula yang selalu bergairah mengisap darah orang yang lemah? (hal. 241-242)

**

Demikian beberapa kalimat yang sempat menyekap perhatian saya saat sedang mengunyah lembar demi lembar sajian kata dalam buku ini. Serius dan menggigit. Kesturi dan Kepodang Kuning, sebuah novel yang tetap tampil elegan dan lembut meski konflik utamanya bersinggungan dengan tema berbau politis yang sebenarnya cukup berat. Berkisah tentang persahabatan seorang bayi cantik dari tepian hutan desa dengan burung-burung kepodang, konflik pribadi kehidupan sang ibu muda, dan dibalut dengan konflik eksternal terkait wilayah desa dan proyek para politisi hitam mengeruk keuntungan dengan mengeksploitasinya atas nama pembangunan.

Mbak Afifah Afra selaku penulisnya, lagi-lagi kali ini hadir dengan karyanya yang tak pernah seringan kapas. Selalu ada ‘napas berat’ yang ia sebar dalam rangkaian alurnya untuk dihirup pembaca. Bahwa hidup memang tak pernah selalu sederhana, kecuali dengan kesyukuran. Menariknya, napas berat ini, dengan kecerdasan penulisnya, berhasil disuguhkan menjadi jamuan yang cukup mudah dicerna, tidak dengan bahasa berat ala politisi. Dan meski konflik itu tetap saja mengundang sejuta miris dalam dada dan prihatin yang membuncah, selayaknya fiksi ia tetap menghadirkan ‘keindahan’ warna lain yang menjadi penyeimbangnya. Di sinilah sebab mengapa mengunyah fiksi tetap menjadi aktivitas yang sungkan ditinggalkan oleh para pecintanya, karena seolah selalu ada oasis tempat kesegaran itu hidup dan membahagiakan di sela-sela kepahitan. Atau setidaknya, jika pun tidak tersaji dengan ending yang melegakan atau romantisme dan harmoni di titik-titik tertentu alurnya, keindahan kelindan diksi sang penulis adalah keseimbangan dan kebahagiaan fiksi itu sendiri.

Seperti demikian jugalah Kesturi dan Kepodang Kuning. Kepahitan itu ada sejak kehidupan yang sepi milik Sriyani, ibu bayi Kesturi, dimulai. Orangtuanya yang telah tiada, dua adiknya yang hidup jauh dari sisinya, menyebabkan ia mesti menggantung harapan pada Pak Suseno dan istrinya yang menjadi majikan tempat ia bernaung menyambung hidup. Semakin pahit ketika babak pelecehan seksual dialaminya justru di saat ia belum punya pemahaman apa-apa. Lantas ia hidup menepi bersama bayinya dan para kepodang. Oh iya, sebagai info, baru melalui buku inilah saya tahu ada satwa unik bernama kepodang, yang statusnya mulai endemik pula. Penggambaran tentang kepodang itu sendiri di dalam novel ini cukup memancing kepenasaran saya untuk suatu saat bisa melihat langsung burung jenis ini.

Tokoh-tokoh lainnya dihadirkan dengan kepribadian yang cukup hidup. Selain warga desa, ada juga profil dokter, bidan, pejabat, pengusaha, aktivis LSM, dan juga ekolog. Hanya saja, saya menemukan dalam dialog-dialog antar beberapa tokoh, sepertinya banyak sekali kemiripan gaya verbal satu sama lain. Alias, tak begitu khas antara masing-masing tokoh, kecuali beberapa. Padahal, dengan begitu banyak tokoh yang terlibat dan peran mereka yang sangat esensial, semestinya kekhasan itu menjadi semacam pembeda, sehingga setidaknya pembaca tidak dengan mudah lupa (atau melupakan) siapa-siapa saja tokoh yang silih berganti mengambil posisi dalam bacaannya tadi.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu yang menyorot langsung sejumlah tokoh secara bergantian, sesungguhnya memang terasa lebih variatif saat dinikmati pembaca. Penggunaan kata ‘aku’ dan ‘saya’ kerap dipakai secara jamak dan pula bergantian saat tokoh-tokohnya berdialog. Akan tetapi, di beberapa tempat seringkali kata ganti ‘aku’ atau ‘saya’ ini mendadak berubah menjadi ‘daku’. Jujur, penggunaan kata ‘daku’ ini terasa agak menggelitik dan terkesan janggal. Selain munculnya tidak pas dan sekonyong-konyong, kata ‘daku’ ini kerap muncul dari tokoh-tokoh yang berbeda. Artinya, bukan kekhasan dari satu tokoh saja.

Yang paling menarik dari novel ini selain deskripsi kepodangnya, adalah pada endingnya yang menarik. Meski ini terkesan melompati kejadian-kejadian pahit yang mungkin memang akan mengundang ‘kejengkelan’ pembaca apabila dihadirkan secara gamblang sebagai antiklimaks. Dan, meski saya menamatkan novel ini tidak dalam waktu secepat yang saya inginkan tadinya, saya ucapkan selamat kepada sang penulis untuk karyanya yang cukup berbeda warna ini. Selamat untuk segala kelebihan dan kekurangan karya ini. Sebab, ya, dengan kelebihan sekaligus kekurangannyalah, maka memang benar itulah karya manusia. 

Terus berkarya, Mbak Afra! :-)

-------

Azzura Dayana
Palembang, 10 Maret 2014