Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana
Tampilkan postingan dengan label tahta mahameru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tahta mahameru. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2012

Setelah Mereka Membaca Tahta Mahameru.... :-)

***




Gembira rasanya, karena Tahta Mahameru berbeda dari novel-novel saya sebelumnya, maka berbeda pula reaksinya. Dari sejumlah tulisan yang pernah saya hasilkan, jujur saya akui bahwa Tahta Mahameru adalah karya yang paling menyenangkan bagi saya. Menyenangkan di sini karena banyak hal: (1) karena saya menceritakan jejak-jejak traveling saya sendiri ke Tanjung Bira dan Mahameru (ditambah konflik fiktif antara tokoh-tokoh fiktif pula, yaitu Ikhsan-Faras-Mareta); (2) karena saya menuliskannya dengan gembira, mudah, dan cepat (total 2 bulan) dan hanya dihinggapi satu kali bad mood; (3) selalu disertai sisa-sisa kesan perjalanan yang sepertinya akan abadi di benak saya (dan menjadi lebih terabadikan lewat novel ini).

Dan pamungkasnya, (4) adalah karena pembaca novel saya yag satu ini benar-benar heterogen. Sejak di awal menuliskan novel ini sih sebenarnya saya sendiri juga tidak khawatir sama sekali bahwa pembaca saya hanya terbatas pada kalangan pendaki saja. Saya malah yakin pembaca saya nantinya akan lebih banyak yang berasal dari kalangan umum seperti mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, pegawai kantoran, dan sebagainya yang memang menyukai aktivitas baca buku, termasuk ratusan pembaca novel-novel saya sebelumnya yang di antaranya selalu bertanya-tanya kapan novel baru saya terbit lagi. Fyi, novel terakhir saya sebelum Tahta Mahameru terbit tahun 2009. Jadi, cukup lama vakum, kan?

Ketika buku ini selesai dicetak oleh Republika (ini adalah debut pertama pencetak harian umum bernama Republika ini menerbitkan buku-buku. Jadi, Republika dan Republika Penerbit itu berbeda, lho), Tahta Mahameru mulai masuk ke pasar buku. Kabar-kabar datang dengan cepat dari para pembaca kepada saya, baik via Facebook, e-mail, Twitter, sms, Goodreads, Mp, Bs, Wp, Republika Online, dan sebagainya, maupun laporan-laporan tidak langsung. 

Sungguh, ternyata inilah kalangan yang menjadi pembaca Tahta Mahameru: mahasiswa, pelajar, penulis, pegawai kantoran, ibu-ibu rumah tangga, muslim, non-muslim, perempuan dengan berbagai model rambut, perempuan berkerudung, pria berpenampilan rapi, pria berambut gondrong, pria merokok, orang yang tidak pernah atau jarang jalan-jalan, maniak jalan-jalan alias traveler sejati, pecinta alam, pendaki tulen alias setan gunung, pecinta buku; sampai mereka yang seumur hidup tidak pernah menyukai novel apalagi membacanya, akan tetapi Tahta Mahameru sanggup mereka tuntaskan karena segunung keingintahuan, dan menjadi novel pertama yang mereka tamatkan.

Kepada semua orang-orang ini, para pembaca saya, yang pernah bertemu dan berkumpul dengan saya, maupun yang belum pernah saling kenal sama sekali, saya ucapkan berjuta-juta terima kasih atas apresiasi kawan-kawan semua... #menjura. Kalian membuat saya bahagia sekaligus terharu. Kesan, pesan, saran, pendapat, dan kritik dari teman-teman semua adalah penyambung-hidup Tahta Mahameru ini.

Saya yakin pembaca adalah partner cerdas sepanjang masa. Mereka sanggup menemukan berbagai kesalahan di buku ini :) yang mudah-mudahan bisa diperbaiki penerbit di cetakan berikutnya. Untuk beragam ketidaknyamanan yang tertemukan itu, saya memohon maaf. Ada pembaca yang shock karena perubahan ukuran font di halaman 229-230, juga 275-280 bagian atas, dan 320-324. Lalu inkonsistensi keberadaan cetak tebal pada beberapa e-mail awal Ikhsan di halaman 199-200, perubahan tanda (‘) menjadi (>) di halaman 190, 191, 303. Sementara, beberapa kesalahan ketik kata-kata yang ada di novel ini adalah jelas-jelas kesalahan saya sebagai penulisnya.

Usai pembaca menamatkan novel ini, banyak yang mengaku terobsesi untuk menapak Semeru alias Mahameru, dengan salah satu surganya itu, yaitu Ranu Kumbolo. Mereka yang belum pernah berkunjung ke sana atau baru mendengar saja. Ada yang yakin bisa, ada yang tidak yakin. Tapi saya katakan, beranilah saja bermimpi. “Saya dulu juga begitu,” kata saya. Dulu saya mengimpikan kapan bisa ke Semeru dan melihat langsung Ranu Kumbolo, setelah banyak membaca tentang tempat itu. Saya tanam mimpi itu. Sampai saya sadar bahwa ternyata akhirnya Allah memberikan jalan dengan sendirinya, berkat keberanian bermimpi itu. Akhirnya impian itu tercapai. Juga mimpi saya ke Tanjung Bira yang telah ada di benak saya sejak kelas 4 SD, yang akhirnya juga tercapai lama kemudian.

Pun, banyak pembaca Tahta Mahameru yang kemudian ‘bercita-cita’ menjadi backpacker yang menjelajahi sudut-sudut negeri, setelah mengikuti penjalanan Ikhsan dan Mareta dari tempat ke tempat. Juga karena deskripsi saya tentang eksotika Tanjung Bira: pantai-pantai aduhai, kemegahan kapal Pinisi, kegagahan para pelaut Bugis, serta rumah adat Suku Bugis yang unik dengan tangga beratap. Memang, Tanjung Bira hanyalah satu dari sekian banyak pesona alam dan budaya yang dimiliki Indonesia. Inilah inspirasi yang tak akan pernah habis untuk kita nikmati, hayati, dan manfaatkan.

Jangan berkecil hati jika kita merasa berkekurangan untuk mencapai tempat-tempat lain selain yang kita pijak. Kita tidak akan tahu banyak kalau kita tidak bergerak. Kemarin saya menonton Kick Andy Hope di Metro TV, dan salah satu tokoh inspiratif yang diceritakan di sana adalah seorang lelaki berkaki satu yang berhasil mendaki gunung-gunung tinggi di negeri ini, plus gunung-gunung es yang menjadi atap dunia di mancanegara sana. Betapa spekta! Padahal ya, kita-kita yang juga memiliki kekurangan—tapi kekurangannya itu sebenarnya jauh lebih sederhana daripada lelaki itu—yaitu kekurangan uang alias dana cekak, sudah begitu berbahagianya saat berhasil naik gunung atau berpackpacking ria ke pelosok-pelosok dengan berbagai cara. Iya, kan? Kita rela naik kereta api ekonomi, berdiri di atas jip berjam-jam, menumpangi truk bak terbuka, atau jalan kaki sekian kilometer (eh, saya jadi kangen momen-momen seperti ini bersama teman-teman backpacker:)). Tuhan telah menjamin kekuatan kaki kita, bukan?

Jadi begitulah. Mari terus bersemangat menjadi dan mencari apa saja yang kita minati, selama hal itu positif. Sekali lagi, terima kasih atas persahabatan ini. Seperti Faras yang ingin bersahabat dengan siapa saja :). Terima kasih pula bagi teman-teman yang nge-fans sama tokoh Ikhsan (padahal doi sinis yak), lalu yang nge-fans sama Mareta dengan gaya cueknya (sebenarnya banyak persamaan sih antara saya dan Mareta: sama-sama suka jalan, males makan kalau lagi jalan, sulit baca buku kalau lagi jalan, kadang-kadang merencana trip hanya bermodal insting dan peta, ngomong lu-gue juga walaupun kalau saya hanya pada teman-teman tertentu yang juga selalu ber-elu-gue); dan para fans-nya Faras, yang sampai-sampai mereka bilang kalau nanti mau ke Semeru mereka pengen mampir ke warungnya Faras di Ranu Pane, hehehe. Persamaan saya dan Faras juga ada, yaitu kami sama-sama pakai jilbab. Tapi saya belum sanggup mendaki pakai rok seperti Faras. Sebenarnya, tokoh Faras yang mendaki pakai rok ini terinspirasi dari seorang gadis berjilbab panjang dan rok panjang yang berpapasan dengan saya di trek gunung pasir menuju puncak Mahameru. Pikir saya, keren banget ini cewek. Tangguh. Suatu hari nanti, pengen deh saya mendaki pakai rok juga. Hoho.

Sekali lagi, makasih ya, teman-teman pembaca Tahta Mahameru :-). I love you all.

 **



Nb: sambil menulis bab-bab awal novel terbaru. Doakan ya, teman-teman.

Selasa, 24 Juli 2012

Yang Tak Lekang dari Kenang: Tanjung Bira


Tanjung Bira adalah salah satu dari setting utama yang terdapat dalam novel Tahta Mahameru. Desa bahari ini terletak di 'ujung telapak salah satu kaki' pulau Sulawesi  yang bentuknya mirip huruf 'k' kecil itu :).

Untuk mencapai desa yang terletak di Kabupaten Bulukumba ini,
dibutuhkan waktu sekitar 6-7 jam berkendara dari Makassar, Sulawesi Selatan.
Saat mengunjungi tempat ini dulu, saya menumpangi bus Aneka jurusan Pulau Selayar 
dari Terminal Malengkeri di Makassar dengan membayar ongkos Rp50.000. Berangkat jam 9 pagi.


Pukul 15.30, bus yang saya naiki memasuki areal pelabuhan. 
Sebelum bus menyeberang menuju Pulau Selayar menaiki kapal feri, saya turun.
Pelabuhan ini cukup sepi dan sangat panas di sore hari itu.





Di luar gerbang pelabuhan, saya melihat miniatur kapal pinisi ini di atas sebuah tanah tinggi. Kapal pinisi adalah budaya kreasi Suku Bugis sejak dulu yang kesohor hingga mancanegara. Lengkapnya tentang budaya ini juga terceritakan dalam Tahta Mahameru.


Saya berjalan kaki mencari pantai pasir putih Tanjung Bira yang kenamaan. Saya mengenal pantai ini sejak tahun 1992 dari sebuah mini seri jadul di TVRI dulu. Sejak itu saya bertekad, saat dewasa nanti saya akan menapakkan kaki di sini, dengan upaya (dana) sendiri. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian, dan malah terabadikan kenangannya dalam novel terbaru saya. Nah, inilah dia pantai barat Tanjung Bira berpasir putih yang saya temukan sore itu. Indah, ya? :-)

Ini beberapa anak lelaki warga desa Bira yang sedang bermain pasir bersama-sama, sambil menikmati senja. Saya asyik mengamati mereka yang sedang membuat bangunan pasir. Lalu tentu saja, mereka segera menjadi objek kamera Nikon saya.


***

Ini adalah pemandangan pelabuhan Bira di pagi keesokan harinya, saat saya bermaksud jogging menuju desa di wilayah timur pelabuhan ini (sementara tempat yang saya datangi kemarin sekaligus penginapan kecil saya terletak di desa bagian barat Bira). Saya ketinggalan moment sunrise karena bangun agak kesiangan, shalat Subuh pun terpaksa saya dirikan jam 5.30 :'-(




Kenapa bisa kesiangan? Pertama, lumayan letih setelah perjalanan jauh berhari-hari sebelumnya dari Sumatera dan Jawa. Kedua, kurang tidur sehingga terasa ngantuk. Ketiga, jam di hape saya lupa saya ganti dari WIB ke WITA. Saya bawa dua hape. Hape yang satu adalah hape pintar yang bisa berubah sendiri waktunya jika dibawa ke zona waktu yang berbeda. Hape yang satunya lagi adalah hape biasa. Salahnya saya, demi menghemat daya yang saya matikan saat tidur justru si hape pintar itu. Dan saya mengatur alarm di hape biasa. Ya nggak guna, dong! :-p


Ya, saya menuju pelabuhan sambil berlari-lari kecil. Sepi sekali desa ini sejak kemarin. Bira memang hanya meramai saat weekend tiba, begitu para pelancong berdatangan memenuhi semua penjuru. Tiba di pelabuhan, sudah panas sekali. Melipir sepanjang pantai menuju desa Bira timur, makin panas. Saya pun tidak jogging lagi. Jalan kaki saja. Mana ada kan jogging panas-panas?


Dari pantai timur Bira yang panas ini, pelabuhan masih terlihat, meski sudah terbilang jauh.

Terus berjalan, saya menemukan ini. Pelabuhan rakyat desa Pangrangluhu. Konon adalah pelabuhan ikan bagi nelayan Bira timur yang pulang melaut. Tapi yang terlihat dan terasa, hanya sepi mengundang.
Makin jauh berjalan, saya berpikir, pulangnya nanti gimana ya? Masa jalan kaki lagi sejauh ini? Satu dua kali tadi saya lihat ada orang bermotor yang lewat. Pertama laki-laki, dan yang kedua perempuan. Pikir saya, nanti saya akan mencoba mencari tumpangan motor saja ke pelabuhan. Bayar juga tidak masalah.


Tapi sebelumnya, saya masih melanjutkan perjalanan dulu. Tetap sepi. Padahal saya berharap bisa bertemu nelayan yang bisa saya liput. Rumah-rumah warga suku Bugis mulai bermunculan memenuhi sisi pandang kiri saya. Rumah-rumah yang khas itu berderet. Terlindung pepohonan dan dinding tebing di belakang rumah-rumah tersebut. Hanya satu dua manusia yang saya lihat. Sementara di depan rumah-rumah dipenuhi ratusan kuburan. Rumah-rumah, kuburan, pohon kelapa, pantai, pinisi. Itu saja yang saya lihat. Sementara, apa yang saya dengar hanya suara ombak dan angin. Eh, saya kok mulai merinding disko. Semoga tidak ada yang nyulik saya :-).


Nah, ini yang terakhir saya dapati. Kapal pinisi megah yang sedang dalam proses pengerjaan. Tentang kedahsyatan kapal ini, silakan teman-teman telusuri di internet, atau baca aja Tahta Mahameru :) Yang pasti, kapal ini harga jual per unitnya minimal 2 milyar. Dan itu uang semua, nggak dicampur daun kelapa. Hehe.
Karena cuaca sudah semakiiiin panas (gimana kalau jam 12 siang nanti ya?), saya memutuskan untuk menyudahi penjelajahan saya. Tiba-tiba dari jauh muncul sebuah mobil pick up. Ini pertama kalinya saya melihat mobil melewati jalan tanah di tepi pantai ini. Mata saya membelalak, dan seperti merasa bahwa doa saya dikabulkan Tuhan, tanpa ragu saya menyetop mobil itu dan meminta izin pada orang-orang yang berada di atasnya untuk menumpang sampai pelabuhan. 
Orang-orang di mobil itu ternyata adalah para pekerja pelabuhan. Wah, senang bertemu mereka dan bisa mencari informasi yang banyak tentang desa Pangrangluhu ini, pantainya, sampai pelabuhannya. Bekal yang cukup banyak untuk saya muat dalam Tahta Mahameru, 
di kemudian hari sepulang saya dari sana.

Saya tiba dengan selamat di pelabuhan. Kemudian saya menunggu kedatangan mobil angkutan umum sejenis mikrolet yang mengantar saya sampai penginapan di kawasan pantai barat yang indah, dan komersil.

Allhamdulillah. Ini desa yang indah dan unik. Dan hingga detik ini, saya selalu merindukannya. Semoga suatu saat bisa kembali lagi ke sana. 
Mungkin bersama seseorang :-). Eh, aamiin ya Rabb.

Kamis, 19 April 2012

Tahta Mahameru meraih Juara Kedua (Catatan dari Awarding Lomba Novel Republika 2011)

Cukup mendadak keberangkatan saya ke Jakarta kali ini. Tanpa banyak persiapan termasuk membeli oleh-oleh untuk teman berupa kemplang khas Palembang seperti yang selalu saya lakukan jika ke Jakarta dulu. Apalagi, mengingat saya tak perlu repot-repot mencari tiket pulang pergi dan tempat menginap karena panitia sudah menyediakannya selama rangkaian acara berlangsung. Ditambah pula, rutinitas saya yang cukup padat dan menguras energi di minggu-minggu terakhir menjelang keberangkatan. Lengkaplah, saya merasa perjalanan kali ini penuh ketergesaan.


11 April 2012

Rabu pagi, saya masih harus ke sekolah dan mengajar kelas intensif persiapan kelulusan di UN. Jam 2 siang, kelas usai dan saya masih harus berberes sebentar, tanpa sempat mengisi perut saya dengan nasi siang itu, sebelum harus segera meluncur ke bandara. Saya hanya membawa satu ransel berisi pakaian dan satu tas tangan sedang berisi barang-barang penting seperti dompet, ponsel, kamera, tiket, dan lain-lain. Perlengkapan mengajar saya titipkan di sekolah.

Pesawat yang seharusnya take-off kurang dari jam lima ternyata mengalami delay. Sebenarnya sudah saya duga karena sudah menjadi kebiasaan maskapai ini. Tampaknya cukup pantas jika namanya diganti dari Singa menjadi Kura-kura :).

Jam 7 malam, saya tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Petugas dari Republika yang menjemput saya secara pribadi sudah nongkrong di sini sejak jam 5 kurang. Kami langsung meluncur ke Hotel Ambhara di bilangan Blok M. Alhamdulillah tidak terlalu macet. Jam 8 kami tiba di hotel, disusul kedatangan Mas Gegge dari Makassar dan Pak Harri dari Jember, sama-sama finalis sepuluh besar lomba ini.

Tak sampai setengah jam berada di kamar masing-masing yang mewah (keren juga panitianya, menyediakan akomodasi bintang empat ini untuk kami), kami bertiga berkumpul kembali di bawah karena alasan yang sama: lapar. Finalis lain, Mas Toni (Malang) yang sudah tiba lebih dulu dari kami dan sudah makan malam, tak keberatan ikut kami ke luar. Meski panitia memberitahukan via sms bahwa biaya makan malam kami akan diganti, nyatanya langkah kaki kami tetap saja berakhir di salah satu warung gerobak kaki lima, di terminal luar Blok M yang ramai, dan tentu saja penjualnya tak punya nota, hehehe. Saya memesan nasi soto, sedangkan dua rekan memesan nasi goreng. Sambil makan, perkenalan dan obrolan hangat seputar naskah kami berlangsung.

Saya hanya menghabiskan setengah porsi dari makanan yang saya pesan. Malamnya pun saya nyaris tidak bisa tidur di kamar hotel. Suasana hati saya sih yang nggak enak. Saya juga terlalu lelah sehingga biasanya bisa mengakibatkan dua hal yang bertolak belakang: tidur lelap dan lama, atau tidak bisa tidur. Kali ini, saya baru bisa tidur jam setengah tiga malam dan terbangun lagi jam lima pagi. Tapi saya bersyukur masih bisa tidur. Daripada tidak bisa tidur sama sekali?


12 April 2012
Pagi-pagi kami sudah harus bersiap. Sarapan pagi lalu menunggu jemputan yang akan membawa kami ke rumah makan Pendopo Kemang, Jaksel, tempat acara penganugerahan akan diselenggarakan. Lagi-lagi saya males makan pagi itu. Sebenarnya ini memang kebiasaan saya sih, males makan kalau sedang rangkaian acara di luar atau saat ngetrip. Sesuatu yang dilarang untuk dicontoh ya.

Jam 11, acara belum dimulai rupanya. Meskipun tertera jelas-jelas di kartu undangan bahwa acara dimulai jam segitu. Para tamu dipersilakan menikmati hidangan brunch. Saya bertemu dengan teman-teman perempuan di sini: Puput (finalis dari Jakarta), Violet (finalis dari Solo), Laura Khalida (finalis 25 besar), Pita (FLP Depok); serta para senior tercinta di FLP: Mbak Asma Nadia (yang rupanya adalah salah satu dari juri akhir),  Mbak Helvy Tiana Rosa, dan Mbak Intan Savitri (ketua umum FLP). Kami juga berkumpul dengan Mas Hendra Veejay (finalis 10 besar dari Bandung), para panitia yang sedikit banyak pernah kontak dengan kami sebelum acara ini, serta beberapa teman lainnya.

Jam 11.30, acara masih belum dimulai. Saya kepikiran pengen ngelayap di luar sana, sebenarnya, daripada cuma duduk manis di sini setelah obrol-obrol dengan Mbak Asma dan teman-teman selesai. Host mempersilakan tamu untuk menyantap makan siang kali ini. Saya bercanda dengan Mbak Laura, “Kayaknya nggak mulai-mulai nih acara. Setelah makan pagi, kita disuruh makan siang. Setelah makan siang, kita pasti dipersilakan shalat Zuhur. Setelah shalat Zuhur, snack sore. Setelah snack sore, shalat Asar. Pulang aja, yuk?”

Hehehe. Saya mulai eror. Dari porsi kecil banget yang saya ambil untuk makan siang, saya cuma menghabiskan sedikit. Kaki saya pengen banget ke luar, sebenarnya. Bosan di sini.

Usai shalat Zuhur, ternyata acaranya dimulai euy. Sekitar jam 13. Gak jadi pulang, deh. Hehe. Dibuka dengan beberapa kata sambutan dari pihak Republika. Ada 458 naskah yang masuk ke lomba yang deadlinenya dulu adalah 15 Oktober 2011. Naskah-naskah tersebut berasal dari 133 daerah tingkat dua yang tersebar di 22 provinsi. Jumlah yang spektakuler, ya. Saya aja nggak nyangka pesertanya bisa sampai sebanyak itu. Nah, dari jumlah ini, sebanyak 393 naskah dinyatakan lulus persyaratan administrasi. Kemudian dari jumlah inilah yang diseleksi hingga menjadi 100 besar, 50 besar, 25 besar, hingga 10 besar. Pengumuman 10 besarnya baru diinfokan pada Januari 2012 lalu. Mbak Asma Nadia dan Mas Salman Aristo (yang terkenal sebagai penulis skenario andal ini, beberapa besutannya di antaranya Brownies, Sang Penari, Jomblo, Ayat-ayat Cinta, dll) maju ke panggung. Tanpa banyak basa-basi, mereka mengumumkan pemenang tiga, dua, dan satu.


Tentang Si Tahta Mahameru

Naskah saya, Tahta Mahameru (judul awal ketika saya mengirimkannya dulu adalah Mahameru), meraih juara ke 2, alhamdulillah. Juara pertamanya adalah Gegge Mappangewa (Makassar) dengan judul naskah Lontara Rindu. Juara ketiganya Pak Harri Ash-Shiddiqie (Jember) dengan naskah Bila Cinta Mencari Cahaya.

Selanjutnya, begitu hectic. Talkshow dimulai di atas panggung, dan saya tahu kondisi saya saat itu tidak cukup baik. Akhirnya saya merasa seperti bukan diri saya yang berada di atas panggung, dan jadinya saya kurang maksimal menceritakan latar belakang Tahta Mahameru. Tapi ya, ini salah saya sendiri juga sih (apa ya obat nafsu makan yang mantap?).

Ditanya oleh sang moderator (Adenita, penulis novel 9 Matahari) tentang inspirasi dan proses kreatif novel ini, saya ceritakan secara sederhana: Bahwa novel ini memang saya rencanakan untuk ditulis berdasarkan pendakian ke Gunung Semeru pada Mei 2011 lalu ditambah trip solo saya ke Tanjung Bira di Sulsel. Setelah vakum menulis novel sejak 2009, saya butuh pemicu untuk kembali membuka gerbang kreativitas menulis novel. Dan saya memutuskan, pemicunya saat itu adalah pendakian Mahameru (alias Semeru). Maka, setelah segala persiapan pendakian matang, saya segera mengonsep ide novel tersebut hingga lengkap, dan langsung menuliskan 2 bab pertamanya. Lalu saya pergi mendaki. Dari Palembang, saya naik kereta api ekonomi sendirian ke Lampung. Menginap di Lampung satu malam. Paginya saya ke terminal Rajabasa, naik bus ekonomi ke Pelabuhan Bakauheni dan lanjut naik kapal feri menyeberang Selat Sunda. Tiba di Merak, saya naik bus ke Jakarta. Di Jakarta sempat kesana-kemari dulu, dan sempat ngetrip sendirian dulu ke beberapa kota di beberapa provinsi lain. Lalu saya terdampar di Malang, dan saya mengontak teman-teman yang pada hari H akan tiba di stasiun Malang pagi hari. Kami ketemuan di sana. Lalu pendakian dimulai. Inspirasi dikumpulkan.

Dua minggu kemudian, saya kembali ke Palembang, rehat sebentar sekitar tiga hari. Kemudian saya kembali ke laptop, meneruskan naskah ini dengan begitu menggebu. Dan selesai pada akhir Juli 2011. Tadinya naskah ini saya niatkan untuk dimasukkan ke sebuah penerbit besar nan profesional, tapi dikarenakan penerbit tersebut sedang mengutamakan naskah-naskah fiksi terjemahan, saya akhirnya menyimpan naskah ini tanpa merevisinya. Lalu beberapa teman menyarankan saya untuk mengirimkan naskah ini ke lomba novel Republika yang kebetulan sedang digelar saat itu. Setelah dipertimbangkan, saya pun menyepakati ide itu.

Maka beginilah hasilnya. Alhamdulillah. Mbak Asma Nadia yang menjadi salah satu juri benar-benar membuat saya merasa terpacu untuk terus berkarya. Di matanya, naskah saya ini bagus, jauh lebih bagus dari novel-novel saya sebelumnya yang sudah beliau baca. Saya merasa beberapa bab di awal novel saya lambat, sebelum kisahnya masuk ke setting Ranu Pane. Tapi kata beliau, tidak, sudah pas. Di atas panggung, beliau mengatakan bahwa yang paling berkesan dari Tahta Mahameru adalah beliau sangat menikmati petualangan tokoh-tokohnya, sehingga seperti terlibat langsung.


Usai Acara

Sebenarnya saya cukup stres di sore dan malam hari seusai acara inti. Tapi alhamdulillah saya sempat bertemu dengan sahabat yang juga adalah kakak angkat saya di Jakarta. Dan kebetulan dia bersedia menemani saya malam itu di hotel karena saya sendirian finalis perempuan yang belum pulang karena masih ada urusan terkait event ini besok. 

Malam itu kami mencari makan malam di salah satu sudut mal Blok M yang masih buka. Hidangan yang membuat saya mau makan adalah sayur hijau dan buah. Dan dia juga setipe sejiwa dengan saya. Akhirnya malam itu saya berhasil menghabiskan seporsi makan malam dengan baik, saudara-saudara. Mungkin karena dua faktor itulah: sahabat sejati dan capcai segar. Hehehe. Yaah, walaupun malam itu lagi-lagi saya sulit tidur (hanya bisa tidur jam 11 kemudian bangun jam 2 dan tidak tidur lagi), dan mesti diurut karena pegal-pegal :-D


13 April 2012

Pagi-pagi sekali, tanpa sempat sarapan di hotel, kami meluncur ke kawasan SCBD Sudirman, tepatnya ke gedung Jak TV untuk syuting talkshow secara tapping di Alif TV.  Alhamdulillah hari ini saya cukup segar dan rileks, karena semalam bisa tidur 3 jam, makan malam dengan benar, sudah mengomunikasikan beberapa masalah terkait buku saya hingga mencapai kesepakatan-kesepakatan, bertemu sahabat, dan sarapan pagi yang sempat-sempatnya dibelikan panitia untuk dimakan di mobil. 


Di acara inilah yang saya anggap lebih berhasil saya lalui dibanding acara kemarin di Kemang. Inti pembicaraan dalam talkshow ini nyaris sama, yaitu mengenai karier kepenulisan kami masing-masing, hingga inspirasi dan proses kreatif naskah yang memenangkan event nasional Republika ini. Tapi belum tahu kapan acara ini akan tayang di TV berbayar ini. Yang pasti, kata crew-nya kami akan dikirimi rekaman videonya.


~Azzura Dayana