Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Kamis, 05 November 2015

Catatan Pendakian Gunung Anak Krakatau

Krakatau: Pesona Gunung Mungil yang Menyembul di Tengah Lautan


Krakatau.

Krakatau Purba.

Anak Krakatau.

Setiap kali mendengar nama-nama ini, pikiran saya pasti langsung terasosiasi pada letusan dahsyat. Ya, gunung yang terletak di perairan Selat Sunda, pemisah pulau Sumatera dan Jawa ini adalah gunung berapi dengan tingkat keaktifan yang luar biasa.

Koleksi pribadi. Difoto oleh Azzura Dayana.
Ribuan tahun lalu Krakatau Purba diperkirakan adalah sebuah gunung berapi menjulang berbentuk kerucut, yang pada suatu ketika (tahun 416 Masehi) meledak dengan kekuatan tak terbayangkan oleh manusia. Hingga konon daya ledak tersebut mampu memisahkan pulau Sumatera dan Jawa yang tadinya bersatu menjadi terpisah. Tentu saja, ledakan tersebut memakan korban jutaan manusia dan menyebabkan efek nyata terhadap alam sekitarnya hingga radius ribuan mil.

Tiga perempat tubuh gunung ini hancur dan hanya menyisakan sisi-sisi tepi kawahnya yang menjadi tiga pulau yaitu Pulau Sertung, Pulau Rakata, Pulau Panjang, serta sebuah kaldera di tengah-tengahnya. Kemudian muncul dua gunung di sana yaitu Gunung Danan dan Gunung Perbuatan, yang lama-kelamaan menyatu dengan Pulau Rakata. Kesatuan pulau dan gunung ini kemudian dikenal sebagai Gunung Krakatau. Ketinggiannya mencapai 813 meter dari permukaan laut.

Sumber: internet
Di tahun 1883, gunung ini kembali beraksi dengan meledakkan dirinya kembali secara dahsyat. Tercatat sebanyak 36 ribu korban jiwa akibat bencana alam tersebut. Suara letusannya mencapai Australia, Amerika dan Afrika, menimbulkan awan panas, kegelapan matahari bercampur debu hingga tahun berikutnya, dan tsunami dengan ketinggian 40 meter.

Letusan maha dahsyat yang menggemparkan dunia ini lagi-lagi memusnahkan tubuh Krakatau hingga hanya menyisakan setengah kerucut.

Empat puluh tahun kemudian, dari tengah kaldera yang ada, tiba-tiba pada suatu hari muncullah cikal bakal anak dari sang gunung yang telah hilang. Para nelayan yang sedang melaut pada akhir tahun 1929 menjadi saksi kemunculan kepulan asap hitam dari permukaan laut di tengah kaldera.  Ternyata itulah awal kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Gunung mungil yang tumbuh menyembul perlahan dari dalam lautan dan terus bertambah ketinggiannya ini adalah fenomena alam luar biasa yang bisa kita saksikan di perairan Selat Sunda sambil berdecak kagum. Arungilah selat ini berawal dari Pelabuhan Canti di selatan Lampung dengan menumpangi kapal nelayan. Sekitar tiga jam kemudian, setelah melewati beberapa pulau yang indah besar dan kecil, mata kita akan terperangkap takjub saat menyaksikan pulau yang bentuk dan warnanya unik, berbeda sendiri. Khas. Itulah yang terekam kuat di ingatan hingga kita pulang nanti dan seterusnya.

Dalam perjalanan menuju Krakatau, kapal kecil yang saya tumpangi bersama teman-teman sempat mogok dua kali karena mesinnya rusak. Mogok yang kedua sampai menyemburkan asap yang membuat kami terkejut dan bahkan sudah siap jika kondisi mengharuskan kami meloncat ke laut (agak lebai dikit, hehe…). Dua kali pula jadinya kami terombang-ambing terdampar di tengah lautan lepas sambil menunggu kapal lain yang kiranya akan menjadi bala bantuan bagi kami para castaways.

Sementara dalam perjalanan pulangnya dari Krakatau, ceritanya beda lagi. Kapal kami sudah diganti dengan kapal yang lebih baik kondisi mesinnya. Tetapi kali ini ombak tak setenang saat kami berangkat tadi. Ombak sore telah lebih buas. Mengguncang-guncang bukan hanya tubuh kami di dalam kapal, tetapi juga kapal itu sendiri sampai terempas-empas. Ada kalanya tinggi ombak bahkan lebih tinggi dari tinggi kapal. Subhanallah. Alhamdulillah meski demikian kami semua selamat sampai tiba lagi di Pelabuhan Canti yang sederhana.

Kembali membahas si Krakatau.

Sejak kelahirannya, Gunung Anak Krakatau ini tak pernah tenang. Aktivitas vulkaniknya terus berlangsung. Gempa vulkanik, semburan asap, hingga lontaran abu dan lava pijar, telah terjadi belasan kali.

Dari penjelasan petugas Cagar Alam Krakatau yang saya dapatkan, lokasi ini rupanya selalu ramai didatangi pengunjung tiap akhir pekan. Kondisinya saat ini aman untuk didaki, walaupun tetap saja kita tidak diperkenankan mendaki hingga benar-benar ke puncak. Pendakian hanya bisa dilakukan sampai ke bibir kawah.




Anak Krakatau saat ini ketinggiannya sekitar 450 meter tepat dari atas permukaan laut. Dan ketinggian ini akan semakin bertambah karena berdasarkan penelitian, gunung ini pertumbuhannya mencapai 7 meter setiap tahunnya, terus membesar, serta terus melebar tepian pulaunya. Di tepian pulau masih terlindung oleh pepohonan hutan. Memulai trek pendakian, kita masih akan melewati jalan yang kiri kanannya pepohonan. Kemudian pepohonan akan semakin berkurang dan jalan pasir yang ditapaki semakin lebar, sedikit berliku. Setelah itu, view mulai terbuka dan sedikit menanjak. Makin lama makin panjang dan terus menanjak, dengan trek pasir yang kering, tak ada lagi pepohonan.

Suasana sedemikian tandus sehingga menciptakan cuaca panas yang permanen. Semakin tinggi, pemandangan indah mulai terlihat. Dua pulau di sekitar Anak Krakatau tampil memesona. Tibalah kita di bibir kawah. Posisi jelasnya adalah begini: kita berdiri di bibir kawah setengah lingkaran, di hadapan kita adalah lembah yang memisahkan kita dari puncak Gunung Anak Krakatau yang gagah, bertekstur bebatuan keras dan hitam, serta menampakkan belerang hijau berasap yang menambah kesan fantastik sebuah puncak gunung berapi superaktif. Di sanalah terdapat kawah Anak Krakatau yang jika dilihat dari udara akan terlihat serupa lubang menganga bekas letusan yang hebat.


Nah, begini posisi dan bentuk si Anak Krakatau dari atas. Bagian hijau (hutan/pepohonan) itu adalah titik awal ketika kita menginjakkan kaki di pulau gunung ini. Pendakian dimulai dengan melintasi hutan tersebut, berjalan ke arah kiri dan naik hingga tiba di setengah bagian gunung. Sumber foto: simomot.files.wordpress.com

photo by azzura dayana

Saya, berlatarbelakang puncak Krakatau

Zoom puncak dari dekat, dari bibir kawah

Tipe dan karakteristik Gunung Anak Krakatau sama seperti induknya. Serius dan mematikan. Kandungan silica dalam magmanya sangat tinggi. Kandungan silica yang tinggi terkait dengan letusan tingkat tinggi pula. Bayangkan, dalam puluhan atau ratusan tahun ke depan, sudah berapa ketinggian gunung ini?

Maha Besar Allah. Pencipta langit bumi dan segala isinya….



Tidak ada komentar:

Posting Komentar