Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Jumat, 12 Juni 2020

Memanfaatkan Kepala Udang menjadi Pempek nan Lezat


~Azzura Dayana


Kebetulan anak-anak saya suka sekali makan nasi dengan lauk udang. Namun, namanya juga anak-anak, pasti mereka enggan memakan bagian kepala udangnya juga. Saya pun selanjutnya selalu menyiasati untuk memisahkan terlebih dahulu bagian kepala udang dengan badannya. Badan udangnya saja yang dimasak untuk anak-anak.


Kemudian, daripada mubazir, kumpulan kepala udangnya saya olah menjadi bahan untuk membuat pempek. Ya, pempek kepala udang jadinya. Untuk warga Palembang yang menggemari pempek lahir batin, boleh juga nih dicoba.

Berikut ini saya bagikan resep ala saya, ya. 🙂

Bahan-bahan:
- 250 gram kepala udang
- 300 gram tepung tapioka
- 1 sdt garam halus
- 1/2 sdt gula pasir
- 1/2 penyedap rasa (opsional)


Cara membuat:

1. Bersihkan kepala udang terlebih dahulu. Buang kotoran dan kulitnya. Lalu cuci.

2. Haluskan kepala udang hingga sehalus mungkin.

3. Tambahkan garam, gula, dan penyedap rasa. Aduk rata. Saya menggunakan penyedap rasa Halawa karena mengandung probiotik dan tidak mengandung MSG. Namun silakan jika tidak ingin menambahkan penyedap.

4. Campur dengan tepung tapioka sedikit demi sedikit hingga adonan bisa diuleni. Sisakan untuk mengalasi telapak tangan supaya tidak lengket ketika membentuk pempek satu per satu. Hindari menekan-nekan ulenan terlalu sering supaya pempek tidak menjadi keras.

5. Rebus pempek dalam air mendidih. Diamkan minimal satu menit setelah pempek mengapung, baru angkat. Tiriskan.

6. Goreng pempek dengan minyak goreng di atas api sedang.


Nah, selamat mencoba variasi pempek yang satu ini ya, Teman.



#resepmasakan
#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu


Senin, 18 Mei 2020

[Artikel Islami] DOA

DOA
(artikel Azzura Dayana)

Bagi seorang muslim, doa adalah perisai.  Seseorang secara materi bisa jadi tak memiliki apa-apa. Tapi di hatinya, dia memiliki doa. Muslim sejati, yang telah kaffah akidahnya, yang menyempurnakan kesehariannya dengan rangkaian ibadah, tak pernah lupa untuk sekadar menadahkan tangan untuk meminta apa pun pada Khalik-nya. Lebih dari itu, dia sanggup bersimpuh dan bersujud dalam memohon kepada-Nya. Bahkan dalam keadaan terjepit, dia sanggup menguras air mata kesungguhan untuk mengharap pertolongan Tuhannya.

Seorang muslim mungkin lemah dan tak berdaya secara fisik. Tetapi jiwanya tetap kokoh ditopang doa-doa yang dia rutinkan di kegelapan malam, di saat insan lain lelap dalam nikmatnya tidur. Maka, keterkabulan menjadi niscaya. Sebab saat memohon, tidak mustahil dia masuk dalam antrean para pemohon teratas, disebabkan sedikitnya para pemohon, sehingga dia pun diprioritaskan. Siapa yang dapat memahami jiwa-jiwa yang mudah diijabah pintanya selain Dia Yang Maha Menentukan?


MENGAMBIL MOMEN

Seorang mukmin sejati amat pandai mengambil dan memanfaatkan momen. Dia amat paham mengenai waktu-waktu terbaik untuk berdoa yang segera diijabah. Selain dalam sujud di sepertiga malam, dia dengan sepenuh keyakinan memanfaatkan sepanjang hari Jumat, atau di sebakda Asar, atau di hari Rabu antara Zuhur dan Asar, atau di kala matahari sepenggalahan naik dalam sujud dan zikir dhuha, atau di waktu yang bersamaan dengan wukuf di Padang Arafah. Dia juga pandai mengambil kesempatan yang sempit di antara gema azan dan ikamah untuk bermunajat, atau di sela doa berbuka puasa dan makan-minum (berbuka), atau ketika sahur.

Seorang mukmin yang bersih hatinya dari dendam bahkan mengolah kezaliman yang dirasakannya menjadi momen berdoa. Sebab doa orang yang terzalimi amat makbul. Juga, ketika hujan turun menyirami bumi, dia kerap sibuk memanfaatkannya untuk berdoa.


MEREKA YANG TAK BERDOA

Ada orang-orang yang mungkin telah menggenggam dunia tanpa doa. Namun ingatlah, hidup di dunia yang sementara ini sebetulnya adalah ujian semata. Bisa jadi mereka yang terlihat menggenggam dunia itu sejatinya tidak memiliki apa-apa.

Ada juga orang-orang yang tampak sederhana. Apa yang dimilikinya sebatas kecukupan dalam kesehariannya. Namun siapa duga, di balik itu dia adalah saudagar sedekah. Sesungguhnya dia tak pernah terlihat memiliki segala sesuatu secara berlebihan karena dia memang tak menginginkan demikian, maka semua yang lebih atau seadanya telah dia bagi-bagikan dalam bentuk sedekah pada sesama. Dia tak pernah luput berdoa meminta limpahan rezeki, yang ketika dikabulkan, langsung pula dia bagikan.

Ada juga dua tipe orang-orang berbeda nasib namun hidup dengan seringkali berpapasan. Tipe pertama, orang-orang kaya yang rajin berdoa meminta rezeki berlimpah, dan amat terlihat segala apa jenis benda yang dimilikinya. Soal sedekah dan zakat, biar Allah yang tahu. Tipe kedua, orang-orang yang betul-betul tak memiliki apa-apa, sedikit berdoa, dan selalu malu meminta pada Penguasanya. Akibatnya, dia bertahan dalam kepapaannya.

Jika terbersit secuil rasa iri dalam hati si tipe kedua, siapa yang sebetulnya salah? Ibaratnya, ada saat-saat Allah, Sang Penggenggam kehidupan, bersedia membagi-bagikan harta kepada siapa saja insannya yang menadahkan tangan. Si tipe pertama tak malu-malu menadah, memohon-mohon, bahkan meratap-ratap. Sementara si tipe kedua adem ayem, ogah meminta-minta. Maka kemudian, bukan salah siapa-siapa, kan, jika para pemalu ini mesti gigit jari seumur hidup?

Wallahualam.


Palembang, 18 Mei 2020


#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu

Rabu, 15 April 2020

Membuat Hand Sanitizer dari Bahan-bahan Alami

Membuat Hand Sanitizer dari Bahan-bahan Alami

Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini masih terus berlangsung. Di negara kita, Indonesia, bahkan belum menunjukkan tanda-tanda menurunnya kuantitas terdampak wabah ini sama sekali. Justru semakin meningkat hari demi hari dari segi jumlah PDP, ODP, positif terjangkit, hingga yang meninggal.

Di samping rutin mengumumkan jumlah terdampak agar dapat diwaspadai oleh semua, Pemerintah terus menggaungkan seruan untuk tetap menjaga jarak aman dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Salah satu dari rutinitas yang harus dijalankan secara ketat oleh warga, terutama yang tinggal di zona merah adalah dengan rajin mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer.

Namun, langkanya ketersediaan hand sanitizer di pasaran saat ini menjadikan rutinitas ini agak terkendala. Akan tetapi jangan khawatir, bagi yang setia #diRumahAja, kita bisa mengeksplorasi bahan-bahan di sekitar kita untuk kemudian diolah menjadi hand sanitizer alternatif.

Berikut adalah beberapa bahan alami yang dapat disulap menjadi hand sanitizer alternatif:

1. Daun sirih & kulit rambutan/kulit manggis

Caranya, ambil 10-12 lembar daun sirih dan 6 kulit rambutan atau kulit manggis. Rebus bersama 300 ml air bersih hingga keluar sarinya. Daun sirih berfungsi sebagai antiseptik, sedangkan kulit rambutan atau kulit manggis sebagai antioksidan. Setelah air rebusan dingin, tambahkan beberapa tetes minyak zaitun yang dapat berfungsi untuk menjaga kelembutan kulit. Masukkan ke dalam botol spray. Hand sanitizer ini kemudian dapat dipakai langsung dalam jangka 3 hari.


2. Daun kemangi & lidah buaya

Di sini daun kemangi berfungsi sebagai antiseptik dan lidah buaya sebagai antioksidan. Kupas kulit lidah buaya, ambil bagian dagingnya, di-blender bersama daun kemangi untuk mendapatkan ekstraknya. Tambahkan sedikit air lalu saring dengan sedikit ditekan. Hasil saringan dapat digunakan untuk cairan pembersih tangan.


3. Serai & sirih merah

Ambil 5 batang serai besar dan 10 lembar sirih merah, lalu rebus bersama 300 ml air bersih selama 15 menit. Setelah itu angkat dan saring. Dinginkan dan masukkan ke dalam botol spray.


4. Cuka putih

Cuka putih atau cuka makan memiliki tingkat konsentrasi asam yang tinggi, sehingga dapat membasmi bakteri dan virus yang terdapat di permukaan benda. Campurkan cuka dengan sedikit saja air lalu masukkan ke dalam kulkas untuk menjaga kualitasnya. Campuran ini dapat langsung digunakan untuk membersihkan tangan.


5. Lemon

Campurkan air perasan lemon dengan sedikit air. Lemon juga mengandung kadar keasaman yang tinggi, meski tidak setinggi cuka putih. Karena itu, untuk membuatnya lebih ampuh membasmi bakteri dan virus, disarankan untuk menambahkan alkohol berkadar minimal 70% ke dalam air perasan lemon ini.

Itulah beberapa bahan alami yang dapat kita olah menjadi hand sanitizer alternatif. Meskipun pembersih alami ini cukup mudah dibuat, tetap harus diingat bahwa rentang pemakaiannya tidak begitu lama. Apabila cairan/campuran tersebut berubah wangi dan/atau warnanya, segeralah buang dan gantikan dengan yang baru.

Stay safe and healthy, Gaes....


15/04/2020
*diramu dari berbagai sumber


#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumsel
#dirumahaja


Minggu, 15 Maret 2020

[Puisi] PULANG PISAU


pulang pisau


2010
di sini jarak telah melipat diri
di antara deru mobil travel ringkih dan siaran radio bernuansa jadul, merdumu hadir

sesuatu yang tersayat telah pulang
seperti nama yang disandang sungai dan jembatan teramat panjang tadi
seperti tertera di papan nama rumah makan terlalu sederhana, di tepi jalan berdebu

seperti dulu, aku kembali ke pertengahan waktu
di jam tanganku jam satu, di arlojimu jam dua. kita bersua di setengah dua yang sama.
selekas lagi. selepas ini.

katamu,
selalu ada yang tersirat dari perjalanan seorang diri
hati yang sekarat
atau rindu berkarat

di kelok trans kalimantan ini, pantang kuseka linang yang tersisa 

demang, 150320



#flpsumselmenginspirasi
#WAGFLPSumselMenulis
#setoranke15

===


*puisi ini fiktif belaka... 😁

Selasa, 10 Desember 2019

[puisi] HUJAN BERBISIK

azzura dayana

hujan berbisikbisik suatu senja ke telinga bumi
akan datang malam tanpa sebaris puisi
tentang mereka yang kembali ke pangkuan sujud
pasrah belaka tanpa selubung maksud

udara laun mencatat, malam katanya akan lama titipkan bulan
tidur di rengkuhan awanawan
sampai ibu pulang
sampai lagu letih didendang
tak lagi ada perlawanan

hujan tak akan pulang sampai engkau mengantar
ikrar anakanak lanang yang kelak tinggikan bubungan rumah
gadisgadis seduhkan teh di meja ayah
sampai ibu pulang

tapi hujan makin meremang selarut ini
udara selesai mencatat nama yang takkan jua kembali

Palembang, 101219


#flpsumsel
#wagflpsumselmenulis
#lampauibatasmu



Minggu, 22 September 2019

Merasakan Mati, Merasakan Hidup

Merasakan Mati, Merasakan Hidup

Mati

Kapan saya pernah merasakan mati itu begitu dekat? Seingat saya, dua kali. Pertama, beberapa waktu lalu saat penyakit menyinggahi badan. Rasa sakit yang senyeri-nyerinya, sehingga hampir saja saya mengira saya mungkin saja akan mati karena ini. Namun ternyata, hanya perkiraan saya. Sebab dengan terus bergerak mencari cara untuk bertahan, akhirnya hidup pun bertahan.

Kapan yang kedua? Di Semeru. Saat itu, pagi buta di gunung pasir menuju puncak tertinggi tanah Jawa, matahari baru separuh nyata, tapi mata tetap harus dipaksa terbuka, melawan kantuk yang tiada tara. Selama dua malam sebelumnya tak bisa tidur. Tak-bisa-tidur yang saya baru pahami sebabnya belakangan ini...

Ibarat duduk di atas perosotan. Bedanya, kalau kita membiarkan diri meluncur, entah kapan akan selesainya. Entah berapa lama. Ini seperti menghadapi semua semesta. Kita duduk bersandar pada tubuh gunung pasir yang curam. Umpama seekor anak semut bersandar gemetar di dinding mangkok terbalik raksasa seukuran rumah gedong. Ya, begitulah rasanya. Terpeleset sedikit saja, maka selamat tinggal semua. Dalam kantuk, tubuh harus tetap melakukan pergerakan. Tak boleh terlalu lama berhenti jika tak ingin mati kedinginan. Tak boleh terlalu lama diam dan tertidur panjang jika tak ingin tersedot ke dalam tidur panjang nan dingin selama-lamanya.

Begitulah. Ternyata kita bisa merasakan amat dekatnya mati ketika dunia terus berputar dan (harus) terus bergerak.


Hidup

Kapan saya merasakan bahwa perjalanan telah mempertemukan dengan betapa hidupnya hidup? Pada dua momen yang hampir serupa namun tak sama tempatnya.
Pertama, pada suatu malam di lembah antara puncak Gunung Gemuruh dan puncak Gunung Gede. Langit begitu dekat. Purnama bak bola emas raksasa. Bintang hadir berjuta. Sesi menatap adalah sesi surga. Dan di situlah waktu menjadi berhenti berputar. Semua berpusar pada pesona malam itu.

Yang kedua, suatu malam di desa kecil di kecamatan Bayah, pesisir barat daya Banten. Pertama kalinya menyaksikan jutaan, atau mungkin trilyunan bintang kecil berwarna putih dengan jarak kerapatan tingkat tinggi. Maha cantik. Dan waktu seolah harus berhenti di sana untuk bisa menyaksikannya lebih lama. Inilah indahnya hidup yang sesungguhnya. Jika tak hidup, mana bisa mata menyaksikan ini.

Kita merasakan hidup ketika dunia seperti berhenti.


Palembang, 21 September 2019



#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumsel
#lampauibatasmu



Sabtu, 20 Juli 2019

[Review] KALILUNA: LUKA DI SALAMANCA

Judul Novel: KALILUNA: LUKA DI SALAMANCA
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Moka Media, Jakarta
Tahun terbit: 2014
Tebal: 270 halaman


Kaliluna: Luka di Salamanca, sebuah novel dengan tampilan kaver tak begitu cerah yang saya temukan berada di dalam tumpukan bazaar novel lama di salah satu pusat perbelanjaan di Palembang. Saya menyempatkan diri membaca cepat beberapa resensi tentang buku ini sebelum akhirnya memutuskan membeli. Setting Salamanca, sebuah kota antik di Spanyol, yang menjadi salah satu pemicu ketertarikan saya.

Ditulis oleh seorang penulis asal Indonesia, novel ini bercerita tentang tokoh utama yang berasal dari Indonesia. Namun, Indonesianya sendiri sama sekali tak menjadi satu pun setting di dalam novel ini, melainkan hanya disebut amat sekadarnya sebagai kilas balik kisah di masa lalu tokoh-tokohnya. Selebihnya, semua tentang Salamanca: alam, lingkungan sekitar tempat tinggal beberapa tokohnya, budaya dan arsitektur, aktivitas relijius (Katholik), serta kuliner.

Kaliluna, seorang gadis tujuh belas tahun yang piawai dalam olahraga panahan, memutuskan pindah ke Salamanca dengan membawa perihnya luka. Impiannya untuk lolos seleksi Sea Games dan menjadi kebanggaan telah hancur seiring hancurnya kehormatan sebagai seorang perempuan pada suatu malam. Kejadian tragis itu terus menghantuinya dalam mimpi-mimpi tidurnya. Ia lalu menemui Frida, ibu kandung yang meninggalkannya saat kecil dan tinggal di Salamanca. Frida tinggal di sebuah apartemen di tepi Sungai Tormes, tempat yang indah dan tenang, namun tetap saja tak berhasil mengembalikan Kaliluna menjadi gadis ceria dan enerjik lagi.

Sampai akhirnya, pertemuannya dengan Ibai, seorang pemuda Vasco yang perhatian dan gigih, lambat laun mengubah semuanya. Tentu saja, novel setebal hampir tiga ratus halaman ini banyak menceritakan apa yang mereka berdua lakukan sebagai healing, dan tak bisa saya sebutkan satu per satu tempat mana saja yang mereka kunjungi dan renungi, puisi mana yang mereka bahas dan nikmati, tumbuhan apa yang mereka amati dan hayati, makanan apa saja yang mereka cicipi.... Sangat banyak dan cukup detail. Bahkan tentang makanan, saya sampai agak 'mabuk' membacanya. Bukan tentang adegan makan sup yang kuahnya berasal dari darah babi itu juga, sih... Tapi terutama karena begitu banyak nama makanan dalam bahasa Spanyol dan untuk nama-nama tertentu disebut terlalu berulang. Padahal, menurut saya, sudah pas jika kemudian disebutkan dalam bahasa Indonesia saja. Apalagi ketika nama makanan yang dimaksud tidak terdiri dari satu atau dua kata saja. Jadinya, kan, ribet.

Novel ini sesungguhnya sangat manis dan indah, meskipun memang, torehan luka yang sulit sembuh adalah pokok ceritanya. Dan bagi orang yang suka jalan, novel ini akan memberikan kesan yang cukup mendalam. Bagaimana view Sungai Tormes dengan latar Jembatan Enrique Estevan dan Katedral Salamanca dari sudut dermaga kecil tempat favorit Kaliluna, bagaimana gambaran filosofis musim semi, kebun cantik di dekat Katedral, dan sumur dengan gembok-gembok bertulis nama yang bergelantungan di atasnya, suasana kota, dan sebagainya.

Kota Pendidikan, itulah julukan yang disematkan pada kota ini lantaran di sana terdapat University of Salamanca yang kenamaan. Kota yang sunyi di waktu pagi, dan riuh di malam hari. Usai menamatkan novel yang saya baca selama dua hari ini, saya browsing di internet untuk mengetahui lebih banyak tentang kota ini. Tentang suasana, cukup sama dengan apa yang digambarkan di novel. Mahasiswanya berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk kuliah di sana, tapi di malam hari sudah menjadi kebiasaan (banyak) mahasiswanya hura-hura dan mabuk-mabukan di kafe dan bar.

"Lalu kapan mereka belajarnya?" tanya Kaliluna yang keheranan melihat fenomena itu, dan dijawab Ibai secara abstrak.

Dengan kekayaan bangunan arsitektur dari salah satu kota tertua di Eropa ini, Salamanca memang termasuk kota favorit tujuan wisata di Spanyol. Dulunya, kota ini pernah berada dalam naungan kejayaan peradaban Islam Kerajaan Cordoba, namun kini jejak warisan Islam tak bisa ditemui barang secuil lagi di sini.

Secara keseluruhan, novel ini asyik untuk dibaca. Dengan diksinya yang ringan namun apik, membuatnya tidak membosankan.

Sebagai penutup, saya tuliskan kembali di sini beberapa dialog dan kalimat unik-cantik yang menjadi favorit saya:

"Kata mamaku, jangan pernah percaya pada laki-laki yang menyukai puisi."
"Kenapa?"
"Sebab laki-laki seperti itu biasanya kantongnya kosong." (hal 13)

"Seseorang baru matang jiwanya jika dia bergelut dengan api kehidupan, ditempa terus-menerus. Namun ada juga orang yang matang jiwanya hanya dengan berdiam diri dan menerima apa yang terjadi dengannya. Kadang kala bertahan, kadang kala hanyut." (hal 65)

"Saat kamu menarik senar busur menjauh dari busurmu, sebenarnya semua yang ada dalam dirimu baik yang berlawanan maupun yang searah justru berkumpul di suatu tempat. Kamu tahu di mana? Di batinmu. Mereka berkumpul untuk menentukan takdirmu." (hal 90)

"Aku ingin melakukan denganmu apa yang musim semi lakukan dengan pohon ceri." (penggalan Pablo Neruda, hal 96)


~αzzurα dαyαnα
Palembang, 20 Juli 2019

#flpsumsel
#WAGFLPSumselMenulis
#literasiberkeadaban