Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Selasa, 18 Oktober 2016

INFERNO The Movie

Sejak mendapat info bahwa Inferno sudah tayang di bioskop-bioskop di Indonesia, saya sudah kepincut berat pingin nonton. Saya lalu men-screenshoot jadwal film di tsb di web cineplex, saya kirim ke suami via whatsapp. Senangnya ketika suami menjawab dengan cepat dan positif. Maka jadilah weekend kemarin kami meluncur ke Palembang Indah Mall XXI.


Saya jarang-jarang nonton film thriller, kecuali beberapa saja. Dan karena saya pengagum berat Dan Brown terutama untuk karya masterpiecenya yakni, The Da Vinci Code, terang saja Inferno ini jadinya menarik untuk saya. Saya belum sempat baca bukunya. Ada tawaran e-booknya dari teman tapi saya sendiri tidak yakin sanggup menamatkan bacaan yang tebalnya nggak kira-kira itu melalui layar hp/laptop. Pening dan nggak leluasa, pasti. Jadi alternatifnya adalah menonton filmnya, meski saya tahu dan sudah siap dengan adanya perbedaan yang pasti ada dan menganga dengan versi bukunya.

Saya bukan lantas ingin menulis review lengkap tentang film ini, tetapi hanya menceritakan sudut pandang. Inferno dibuka dengan adegan keterkejutan Robert Langdon (Tom Hanks) yang bangun dengan kondisi setengah amnesia di sebuah rumah sakit di Firenze (Florence), Italy. Entah apa yang terjadi sampai ia terdampar di rumah sakit itu dengan luka di kepala dan potongan adegan-adegan mencekam yang terus melintas di pikirannya.

Tetapi usaha untuk bernostalgia dengan ingatan dan kejadian sesungguhnya tak bisa berlangsung lama. Denyut petualangan segera dimulai. Pemburu-pemburu yang datang menyeruak hendak menghabisi Langdon segera berdatangan. Sembari terus berlari menyelamatkan diri dan kita diajak keluar masuk bangunan-bangunan bersejarah lagi elok rupawan di sekujur kota Florence, sang profesor Simbologi Universitas Harvard ini terus berusaha memecahkan labirin misteri tentang Dante, mimpi-mimpi neraka Inferno, pembantaian manusia, dan beberapa wajah yang kemungkinan ia kenal. Apakah benang merah yang mengaitkan itu semua?


Saya sungguh menikmati setiap aksi dalam film ini, tanpa melewatkan sedetik pun, walaupun harus sedikit melawan gigil di dalam bioskop karena tidak bawa jaket. Hehe. Twistnya betul menyentak, walau itu adalah hal yang sudah dapat dipahami dari hampir tiap karya Dan Brown, petualangannya hidup, latar/settingnya memabukkan mata (kecantikan Florence, Venezia, dan Istanbul begitu diekspos), dialognya cepat dan tajam, cinematografinya keren. Soal plot, yah, plot Dan Brown memang selalu mematikan, walau kali ini tidak sekontroversial The Da Vinci Code karya pertamanya, atau The Lost Symbol yang karenanya diputuskan untuk tidak difilmkan.

Tetapi memang, soal simbol, kode, ikon, dan kontroversinya, Dan Brown memang ahlinya. Dan sampai kapan pun saya akan menyukai itu.

So, Inferno? Recommended to watch.




Kamis, 15 September 2016

Pesona Pantai Rambak, Suatu Sore

Traveling ke Pantai Rambak tak cukup rasanya jika tanpa bereksplorasi lebih jauh hingga ke ujung-ujungnya. Pantai yang terletak di desa Rambak, kabupaten Sungailiat, Bangka, ini tidak se-crowded pantai di sebelahnya yang sudah sangat populer yakni Pantai Tanjung Pesona. Tiket masuknya pun tidak lebih mahal. Pantai utama amat luas dan indah. Bebatuan raksasa nan elok menghiasi beberapa bagian pantai. Makin ke ujung kanan, makin indahlah pemandangan gugusan bebatuan granit raksasa yang terdapat di sana. Untuk sekadar liburan, duduk-duduk, mandi-mandi, main air dan pasir, atau bahkan untuk lokasi pre-wed... hmm, dijamin pantai ini recommended!

:-)


photos taken by Azzura Dayana, from my traveling there two months ago








Ini foto favorit saya, yang saya ambil dengan melepas alas kaki dan memanjat bebatuan tinggi




Selasa, 17 Mei 2016

Refreshing Singkat Keluarga ke Negeri Singa




oleh Azzura Dayana

Singapura, salah satu kota dan negeri termahal di Asia ini bisa menjadi alternatif tujuan liburan praktis keluarga. Selain jaraknya yang dekat dan terdapat beberapa rute penerbangan langsung dari berbagai kota di Indonesia, ada berbagai cara lainnya untuk menyiasati supaya anggaran berlibur di sini tidak begitu membengkak. Salah satunya, dengan mempersingkat durasi perjalanan menjadi dua hari saja seperti yang baru saja kami lakukan. 

Kecanggihan teknologi Singapura dalam setiap infrastruktur dan kemewahan arsitekturnya memang sungguh menawan untuk kita saksikan. Meski begitu, nuansa etnik tetap dapat ditemukan di negeri yang warganya heterogen ini jika kita berkunjung ke beberapa kawasan, semisal Bugis dengan nuansa Arabnya, Little India dengan khas Indianya, dan Chinatown dengan pernak-pernik kultur Cinanya yang kental.


Menelisik Dua Masjid Tercantik di Negeri Singa

Di hari pertama tiba di Singapura, kami langsung membeli dua kartu Singapore Tourist Pass (STP) yang akan kami gunakan sebagai tiket transport dalam kota. Untuk dua hari, harganya 16 dolar Singapura (SGD) plus 10 SGD deposit yang akan kita dapatkan kembali ketika mengembalikan kartu. Ini jauh lebih hemat daripada kartu EZ-link biasa seharga 30 SGD. Dari Stasiun MRT (Mass Rapid Transportation) Bugis, kami berjalan kaki menuju Masjid Sultan sambil memanggul ransel di pundak dan mendorong stroller Hanin, putri kami yang berusia satu tahun empat bulan.

Masjid Sultan adalah masjid tertua dan terbesar di Singapura. Bernuansa putih dan kuning emas, masjid yang dibangun pada 1924 oleh Sultan pertama di Singapura yakni Sultan Hussein Shah ini terlihat sangat elok dan berkilau ditimpa sinar matahari. Bagian dalam masjid sangat bersih, rapi, dan segar. Kamar wudhunya bahkan dilengkapi beberapa kipas angin besar yang menyamankan pengunjung. Melakukan ibadah di masjid ini berhasil menghadirkan sensasi mengesankan tersendiri. Karena Masjid Sultan adalah lokasi wisata religi, maka terdapat peraturan bagi pengunjung untuk berbusana sopan. Pihak masjid bahkan menyediakan kerudung untuk dikenakan oleh pengunjung wanita.




Suasana di sekitar masjid siang itu sungguh ramai, baik itu oleh wisatawan, anak-anak sekolah, dan hiruk pikuk toko yang berjajar menyajikan makanan dan souvenir. Tepat di sebelah masjid, berhadapan dengan gerbang masjid yang artistik, terdapat sebuah bangunan berwarna kekuningan dengan lapangan luas dan kolam air mancur di depannya. Malay Heritage Centre namanya. Konon bangunan tersebut adalah hasil restorasi dari Istana Kampong Glam yang sekarang difungsikan sebagai museum pusat sejarah budaya melayu Singapura.

Masjid kedua yang kami kunjungi adalah Masjid Abdul Gafoor di Dunlop Street, dekat dengan penginapan kami. Nuansa India di masjid yang dibangun pada 1907 bagi muslim India Selatan yang banyak bermukim di Kampong Kapor ini sungguh terasa. Terdapat banyak pintu besar dengan bentuk dan ukiran bernilai seni tinggi. Bentuk dan ukiran yang sama indahnya juga dapat kita temukan pada bagian dalam masjid baik di lantai satu maupun lantai dua, serta pada menara masjid yang berbentuk heksagonal.




Wisata Malam Bertabur Cahaya

Setelah melepas lelah sejenak di penginapan, membiarkan Hanin puas bermain-main di kasur sambil dengan asyiknya menikmati view dari jendela yang langsung menghadap jalan raya yang sibuk nan teratur, dan menunggu terik mentari berangsur hilang, kami bersiap melakukan wisata senja hingga malam. Setelah menaiki MRT dan turun di Raffles Place, langkah berlanjut menyusuri Singapore River sambil memandangi Elgin Bridge dan Cavenagh Bridge, dua jembatan pejalan kaki yang klasik lagi elok. Berlanjut lagi menyeberangi jalan raya lalu turun tangga untuk tiba di Merlion Park, tempat patung singa yang ikonik itu berdiri. Sayangnya, di sini Hanin malah jatuh tertidur di stroller karena terbuai angin sore dengan perutnya yang sudah kenyang.




Singapura memang amat memanjakan wisatawannya dengan banyak membangun taman-taman gratis, jembatan dan jalan khusus pejalan kaki yang nyaman, juga water tap gratis di beberapa titik public area sehingga kita bisa mengisi botol air minum yang kosong. Jembatan dan jalan yang tersedia untuk pejalan kaki sambil menikmati pemandangan Teluk Marina dan sekaligus bisa dijadikan jogging walk didesain menghubungkan Merlion Park, gedung teater Esplanade, hingga The Helix Bridge dan seterusnya.



Betapa kota modern satu ini sungguh memukau dari segi pembangunannya. Itulah yang saya rasakan dalam tiap langkah, senja itu hingga tiba di jembatan lengkung pertama di dunia, The Helix Bridge. Semua bangunan masterpiece seputaran Teluk Marina bertabur cahaya. Bahkan ketika langkah berbelok ke kiri setelah turun dari The Helix, dan suasana berganti dari kota modern menjadi hutan dan kebun, gemerlap cahaya tetap ada. Gardens By The Bay, kebun raya dengan koleksi tumbuhan terlengkap dari berbagai penjuru dunia ini dibangun di atas tanah reklamasi seluas 101 hektare tepat di belakang Marina Bay Sands. Yang terunik, di sini terdapat Supertree Grove, yakni 18 bangunan setinggi 90 meter berbentuk pohon yang sangat indah pada siang hari dan akan bercahaya warna-warni sepanjang malam. Supertrees ini juga berfungsi sebagai pengumpul air hujan dan penyeimbang suhu taman. Kombinasi kecanggihan, kecerdasan, dan konsistensi keseimbangan alam yang akan membuat kita terkagum-kagum. 


Banyak Belajar dari Sini

Saya banyak belajar dari negeri maju yang satu ini. Selain hal terakhir yang baru saja saya sebutkan di atas, saya belajar banyak tentang toleransi. Negeri ini memang tidak lagi pure status Timur atau Melayunya. Bertemu dan berinteraksi dengan orang Barat sama mudahnya dengan bertemu orang Cina, India, Arab, dan Melayu itu sendiri. Keheterogenan ini justru membuat tingkat toleransi mereka amat tinggi. Dari dulu penduduk Singapura terkenal ramah pada pejalan kaki. Saat menyeberang jalan selain di persimpangan lampu merah, beberapa kali saya alami langsung pengendara mobilnya mempersilakan kami menyeberang di depan mereka dan mereka bersedia menunggu sambil memperlambat laju mobilnya. Dua kali saya ke Singapura, dua kali pula saya selalu mereguk kekaguman yang bertambah-tambah tersebab pengalaman-pengalaman terkait transportasi. Salut! Bayangkanlah, betapa rasa aman dan nyaman akan hadir dengan sendirinya ketika berada di negeri mereka.



Ketika berada di Immigration Check Point pun, kami sangat dimudahkan. Ketika petugas melihat saya berdiri sambil menggendong Hanin mengantre di antara ratusan orang, buru-buru mereka mempersilakan saya memroses urusan imigrasi lebih dulu dan setelah itu barang-barang bawaan kami tidak dibongkar satu pun. Belum kalau saya cerita tentang toleransi di dalam kereta MRT. Hmm… jempol!


Satu Prinsip dalam Trip Singkat

Sebelum menyiapkan perjalanan pulang, kami menyempatkan diri menyusuri kawasan Little India dengan full jalan kaki mulai dari sudut Dickson Road, Jalan Besar, hingga Syed Alwi Road dan mampir ke Mustafa Centre untuk membeli oleh-oleh; berlanjut lagi menyusuri Serangon Road. Makin ke sini, makin terasa seperti berada di negeri India saja. Pertokoan bercat warna-warni memenuhi tepi jalanan, pernak-pernik etnis India juga menghiasi pemandangan dan menghadirkan aroma, mulai dari rempah-rempah hingga bebungaan.




Traveling itu tak perlu lama dan mahal. Cukup sebentar, asal berhasil mengunjungi icon-icon pentingnya. Bersiap saja dengan tenaga ekstra yang akan digunakan, meski tetap upayakan kenyamanan bagi anggota keluarga, termasuk tidur yang efektif dan makan yang cukup.

Rabu, 27 April 2016

Wisata Malam ala Keluarga Abi Hanin di Marina Bay

Beberapa foto yang kami ambil dengan menggunakan Hp dan kamera Nikon dalam perjalanan wisata malam beberapa hari lalu di seputaran Teluk Marina, Singapura.

*belum selesai menulis catatan perjalanan versi lengkapnya nih

The Helix Bridge

Ummi and Hanin

Hanin menyusuri The Helix

Supertrees @Gardens by The Bay

Abi Hanin @Merlion Park, jelang senja

Selasa, 22 Maret 2016

Seminar Talent Mapping & DNA

POSITIVE THINKING akan melahirkan GOOD HABIT... Good Habit akan melahirkan SUCCESS DESTINY..kehidupan yg sukses! Namun adakah faktor keturunan (baca: DNA) berpengaruh terhadap cara berpikir seseorang? Yang bisa jadi berpengaruh terhadap bakat yang dimilikinya sehingga membentuk kebiasaan yang baik dan mampu mengantarkannya pada kehidupan yang sukses? Ikuti seminarnya...

CP: Hp/WA 089696383004

Selasa, 19 Januari 2016

:: Rindu ::

Kadang rindu masa ketika tangan ini kebas sehingga untuk membukakan tutup botol atau menyobek bungkus snack saja harus minta tolong Icha...

Atau ketika mengurangi kecepatan motor saat melewati tanjakan atau polisi tidur demi yang ada di naungan rahim...

Kita memang akan rindu pada kemanjaan. Dan akan sedih karena kemarahan...

Rabu, 13 Januari 2016

Catatan Perjalanan Menjelajahi Taman Nasional Sembilang (part 2)

Ahad pagi 10 Januari 2016 lalu saya menyaksikan tayangan My Trip My Adventure di Trans TV. Kebetulan perjalanan kru MTMA kali itu adalah ke Pulau Bintan di Kepulauan Riau. Hostnya adalah Nadine Candrawinata dan Denny Sumargo. Mereka berperahu menyusuri Sungai Segong yang pemandangan kiri kanannya adalah hutan mangrove. Sesekali sang guide menjelaskan tentang jenis-jenis mangrove yang mereka lihat sepanjang perjalanan tersebut. Nadine juga mengatakan bahwa di sekitar sungai itu merupakan habitat buaya. Perjalanan sempat berhenti sejenak dengan menyinggahi nelayan yang mereka temui. Bincang-bincang dengan sang nelayan pun terjadi, sambil kemudian sang nelayan menunjukkan hasil tangkapannya yaitu kepiting-kepiting bakau.

Hmm…. perjalanan Nadine dan Densu ini betul-betul mengingatkan saya akan penjelajahan yang pernah saya lakukan sebulan lalu ke Taman Nasional Sembilang. Taman alami seluas dua ratusan hektar itu terdiri dari kawasan daratan, hutan, dan perairan. Perairannya meliputi sungai-sungai besar dan kecil (ada sekitar 70 anak sungai) sedangkan perairannya meliputi laut dan selat (Selat Bangka). Hutannya didominasi hutan bakau dengan 17 spesies mangrove sejati dan 6 spesies mangrove ikutan. Dan kawasan daratannya meliputi daratan lumpur, pulau, pantai, dan beberapa semenanjung. Kawasan yang dilindungi ini saking luasnya dibagi-bagi lagi menjadi 4 wilayah. Wilayah awal dimulai dari Sungsang dan wilayah akhir berbatasan dengan provinsi Jambi, bertemu dengan Taman Nasional Berbak yang juga banyak didominasi kawasan hutan rawa.














TN Sembilang sangat kaya akan flora dan fauna. Jika ingin berpuas menikmati semua sajian alamnya di empat pembagian wilayah, tampaknya kita butuh waktu seminggu. Kami hanya sempat mengunjungi hanya sampai 2 wilayah. Menjelajahi sungai-sungai besar hingga kecil dengan pemandangan hutan mangrove yang menawan dengan akar-akarnya yang berada di atas air seolah mencakar-cakar permukaan air. Aktivitas lainnya adalah mencari buaya, lumba-lumba sungai, biawak, harimau Sumatra, lutung, ular, dan lain-lain. Serta menikmati ‘pertemuan’ yang indah dan tak terlupakan bersama ratusan burung-burung elang, camar laut, dan bangau yang menemani kami berenang di perairan antara sungai dan selat Bangka, sehingga airnya terasa begitu asin. Kami juga menyinggahi nelayan-nelayan ikan dan kepiting bakau. Ngomong-ngomong, kata guide kami, kepiting bakau itu masih berada dalam perdebatan soal halal haramnya. Yaa… karena hewan pencapit ini hidup di dua alam, yaitu darat dan air. Kalau soal rasa ya sebenarnya konon nggak kalah saing dengan kepiting laut.


Dan, Sembilang bukanlah satu-satunya taman nasional yang dimiliki oleh provinsi saya Sumatera Selatan ini. TN Sembilang terletak di kabupaten Banyuasin. Berbatasan dengan Jambi dan juga Bangka. Sedangkan di sebelah barat Sumsel, yaitu Kabupaten Musi Rawas, ada juga Taman Nasional Kerinci Seblat. Walaupun bagian di Musi Rawas hanya sekian persen dari seluruh wilayah TNKS, sebab TNKS yang luasnya melebihi satu juta hektar itu meliputi kawasan di empat provinsi yaitu Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Saya mesti sangat berbangga kondisi ini, karena sesungguhnya Sumsel amat kaya dan kita wajib melestarikan serta mempromosikan keunggulan ini.


Sampai di sini dulu kisah singkat ini. Bagian ketiga yang akan menjadi bagian terakhir dari kisah penjelajahan di TN Sembilang adalah tentang Dusun/Desa Sembilang. Tentang hal yang pastinya seru, mengejutkan, sampai menegangkan dan mengerikan bakal ada di sana!