.
.
Pada akhirnya yang tercinta kalah oleh penumpuk citra
Pupus harapan yang diukir oleh benak peristiwa
Kita telah surut satu per satu dimakan waktu
Lalu menjadi butir debu berbau
Yang lantas tersapu angin
Hilang nama
Pada akhirnya kau dan aku tak bisa berbuat apaapa
Hanya termangu di sudut peluru yang menembaki ulu jantung anakanak negeri
Kita terlalu mati untuk sekadar mengamati
Atau mengakui ada permata hati
yang telanjur tak kita hargai
Dan akhirnya ketika hujan tumpah dan tetumbuhan hidup
Tak ada lagi semata bangga riuh di dada
Lalu kita raup jaya segala rasa dari alam tetangga
Dari asin garam hingga seperah susu
Dari harum gula sampai seonggok ketela
Ternyata kini kita tak menaungi apaapa
Selain senapas jiwa yang lega oleh sekerat surga dunia
Meniup perlahanlahan cuplik simpati hingga pergi
Memangkas tiap tetes merah menjadi rasa malu tak lekang waktu
Secarik luka yang tak pernah sembuh
.
.
~Azzura Dayana
Demang Lebar Daun, 21 Agustus 2017
Rabu, 23 Agustus 2017
Minggu, 06 Agustus 2017
#mypoem
Dara
azzura dayana
Jaga izzah, dara
Kita hidup di masa petaka betapa merabunkan mata
Kadang serupa madu ternyata rancu
Jaga marwah, dara
Kata-kata yg kaupilih adalah wajahmu
Bahasamu adalah jiwamu
Jaga iffah, hai jelita
Kenakan malumu sebagai bunga
Kita tak sedang berkontes menjala siapa yg tercinta
Kertapati, 6 Agustus 2017
azzura dayana
Jaga izzah, dara
Kita hidup di masa petaka betapa merabunkan mata
Kadang serupa madu ternyata rancu
Jaga marwah, dara
Kata-kata yg kaupilih adalah wajahmu
Bahasamu adalah jiwamu
Jaga iffah, hai jelita
Kenakan malumu sebagai bunga
Kita tak sedang berkontes menjala siapa yg tercinta
Kertapati, 6 Agustus 2017
Kamis, 15 Juni 2017
Pelesiran Paris van Java
Kangen Bandung euy. Yaah, walaupun dirimu tak secantik riwayatmu dulu wahai Kota Kembang. Kemacetan yang luar biasa selalu menyekapmu di setiap weekend dan hari libur. Ruangmu semakin padat akan populasi dan semakin sempit untuk leluasa bernapas lega menikmati udara resik. Nyatanya, tak hanya Jogja, Bandung juga ngangenin. Terutama karena, masih ada (dan semakin bertambah banyak dan beragam) lokasi-lokasi berwisata di kota ini.
Terakhir yang kami ketahui dari pemberitaan adalah diresmikannya Teras Cihampelas yang terletak di kawasan macet Cihampelas. Macetnya itu dulu mungkin yaa, sebab dengan dibangunnya teras ini, kemacetan cukup berkurang. Dan sebagian pedagang pinggir jalan terelokasi dengan lebih efektif di teras baru ini. Sebuah teras lebar nan panjang yang dibangun di atas jalan raya. Dibangun sedemikian rupa hingga menjadi sangat cantik dan penuh dengan pernik kreativitas para muda. Penuh dengan warna, dan juga rasa. Sebuah tempat yang multifungsi; tempat berwisata, kulineran, belanja pakaian, berfoto, menikmati pertunjukan, menonton tata kreativitas ruang bernama 'teras', atau sekadar jalan untuk lewat.
Selain Teras Cihampelas, kami juga berwisata ke Museum Geologi yang sangat fenomenal di Bandung dan setiap harinya dipenuhi kunjungan sekolah-sekolah baik di Bandung maupun dari luar kota Bandung, oleh orang lokal dan mancanegara. Lalu singgah sejenak di depan Gedung Sate untuk berfoto, untuk kemudian menonton pertunjukan angklung yang luar biasa memesona di Saung Angklung Mang Udjo dan berlabuh sejenak di Masjid Raya Bandung.
Terakhir yang kami ketahui dari pemberitaan adalah diresmikannya Teras Cihampelas yang terletak di kawasan macet Cihampelas. Macetnya itu dulu mungkin yaa, sebab dengan dibangunnya teras ini, kemacetan cukup berkurang. Dan sebagian pedagang pinggir jalan terelokasi dengan lebih efektif di teras baru ini. Sebuah teras lebar nan panjang yang dibangun di atas jalan raya. Dibangun sedemikian rupa hingga menjadi sangat cantik dan penuh dengan pernik kreativitas para muda. Penuh dengan warna, dan juga rasa. Sebuah tempat yang multifungsi; tempat berwisata, kulineran, belanja pakaian, berfoto, menikmati pertunjukan, menonton tata kreativitas ruang bernama 'teras', atau sekadar jalan untuk lewat.
Selain Teras Cihampelas, kami juga berwisata ke Museum Geologi yang sangat fenomenal di Bandung dan setiap harinya dipenuhi kunjungan sekolah-sekolah baik di Bandung maupun dari luar kota Bandung, oleh orang lokal dan mancanegara. Lalu singgah sejenak di depan Gedung Sate untuk berfoto, untuk kemudian menonton pertunjukan angklung yang luar biasa memesona di Saung Angklung Mang Udjo dan berlabuh sejenak di Masjid Raya Bandung.
Rabu, 14 Juni 2017
Kawah Putih & Situ Patenggang
Trip to Ciwidey
Gunung Patuha. Pernah dengar nama ini? Mungkin tidak banyak yang familiar dengan nama gunung yang satu ini. Meski sama-sama terletak di Jawa Barat, akan tetapi yang lebih familiar di telinga masyarakat adalah Gunung Gede, Ceremai, Papandayan, Cikurai, atau Gunung Guntur yang fenomenal.
Tetapi Gunung Patuha yang terletak di Bandung, tepatnya di Ciwidey, Kabupaten Bandung Selatan ini tetap tak asing bagi telinga para pendaki gunung. Meski tak sampai menjadi gunung favorit pendakian, tetapi kegiatan pendakian tetap seringkali dilakukan di gunung yang berketinggian 'hanya' dua ribuan mdpl ini.
Kami kali ini tidak datang sebagai pendaki, melainkan sebagai wisatawan :-). Apalagi sambil membawa anak-anak begini... Hehehe. Dan, sebagai wisatawan, yang kita kunjungi adalah lokasi favorit para wisatawan di Ciwidey, yakni Kawah Putih, salah satu dari dua kawah yang terdapat di gunung eksotik ini. Ini kali kedua saya mendatangi tempat ini. Alhamdulillah impian saya untuk mengunjunginya kembali dengan mengajak keluarga kecil kami akhirnya kesampaian. Kawahnya sendiri tak banyak berubah, tetap cantik dan berbau belerang. Kawah permai berwarna hijau keabu-abuan dikelilingi tebing-tebing dan hutan cantigi yang tidak terlalu rapat. Yang berubah paling ya fasilitasnya, termasuk tarif-tarifnya, semakin bertambah.
Lepas dari Kawah Putih, tujuan kami selanjutnya adalah Danau Situ Patenggang. Masih berada di Ciwidey dan hanya memakan waktu sekira setengah jam dari Kawah Putih, tempat ini menyimpan pesona eksotisme nan nyaman dan ramah. Terletak di ketinggian dan kebun-kebun teh memesona, lalu serupa ceruk alamiah ia hadir menawarkan kesejukan. Sebuah danau luas dengan pulau di tengahnya.
Jika rekan-rekan sedang berada di Jawa Barat untuk berwisata, sempatkanlah berkunjung ke dua lokasi ini. Dijamin sanggup menghilangkan kepenatan sejenak dari keriuhan hari-hari kerja kita di kota... ; -)
Gunung Patuha. Pernah dengar nama ini? Mungkin tidak banyak yang familiar dengan nama gunung yang satu ini. Meski sama-sama terletak di Jawa Barat, akan tetapi yang lebih familiar di telinga masyarakat adalah Gunung Gede, Ceremai, Papandayan, Cikurai, atau Gunung Guntur yang fenomenal.
Tetapi Gunung Patuha yang terletak di Bandung, tepatnya di Ciwidey, Kabupaten Bandung Selatan ini tetap tak asing bagi telinga para pendaki gunung. Meski tak sampai menjadi gunung favorit pendakian, tetapi kegiatan pendakian tetap seringkali dilakukan di gunung yang berketinggian 'hanya' dua ribuan mdpl ini.
Kami kali ini tidak datang sebagai pendaki, melainkan sebagai wisatawan :-). Apalagi sambil membawa anak-anak begini... Hehehe. Dan, sebagai wisatawan, yang kita kunjungi adalah lokasi favorit para wisatawan di Ciwidey, yakni Kawah Putih, salah satu dari dua kawah yang terdapat di gunung eksotik ini. Ini kali kedua saya mendatangi tempat ini. Alhamdulillah impian saya untuk mengunjunginya kembali dengan mengajak keluarga kecil kami akhirnya kesampaian. Kawahnya sendiri tak banyak berubah, tetap cantik dan berbau belerang. Kawah permai berwarna hijau keabu-abuan dikelilingi tebing-tebing dan hutan cantigi yang tidak terlalu rapat. Yang berubah paling ya fasilitasnya, termasuk tarif-tarifnya, semakin bertambah.
Lepas dari Kawah Putih, tujuan kami selanjutnya adalah Danau Situ Patenggang. Masih berada di Ciwidey dan hanya memakan waktu sekira setengah jam dari Kawah Putih, tempat ini menyimpan pesona eksotisme nan nyaman dan ramah. Terletak di ketinggian dan kebun-kebun teh memesona, lalu serupa ceruk alamiah ia hadir menawarkan kesejukan. Sebuah danau luas dengan pulau di tengahnya.
Jika rekan-rekan sedang berada di Jawa Barat untuk berwisata, sempatkanlah berkunjung ke dua lokasi ini. Dijamin sanggup menghilangkan kepenatan sejenak dari keriuhan hari-hari kerja kita di kota... ; -)
Kamis, 08 Desember 2016
Hanin di Kebun SaPa
Suatu hari ketika bersilaturrahim ke Sekolah Alam Palembang yang terletak di Jakabaring, tempat saya mengajar, Hanin sempat diajak Abinya jalan-jalan berkeliling ke sekitar. Sampailah mereka di kebun persemaian bibit seledri. Hanin di usianya yang belum genap 2 tahun memiliki rasa keingintahuan yang cukup tinggi untuk 'meneliti' calon tanaman seledri itu.
Abinya sempat mengabadikan tingkah polah Hanin di kebun seledri ke dalam beberapa foto. Saya tersenyum-senyum sendiri melihatnya :-)
Abinya sempat mengabadikan tingkah polah Hanin di kebun seledri ke dalam beberapa foto. Saya tersenyum-senyum sendiri melihatnya :-)
BATAS RANGGA
Saya memang terlambat (dan sengaja untuk terlambat) menonton
Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC 2). Awalnya, niat untuk menonton film ini amat
menggebu bahkan sebelum film ini benar-benar tayang di hari pertamanya. Akan
tetapi, sesuatu dan kemudian sesuatu yang lain membuat saya terus gagal
menonton film ini di hari pertama dan selanjutnya. Oke. Saya lantas menghibur
diri dengan membaca review-review perdana dari para penonton pertama film ini.
alhasil, semakin banyak membaca review, saya semakin mundur untuk benar-benar
menyaksikan film ini.
Tampaknya saya adalah salah satu korban nostalgia. Tepatnya,
korban nostalgia Ada Apa Dengan Cinta 1 alias film pertamanya. Itulah kenapa,
beberapa review yang jelas-jelas menceritakan bahwa secara umum film ini tidak
seistimewa film pertamanya otomatis membuat saya kecewa. Tetapi entah kenapa,
baru-baru ini tiba-tiba saja tebersit ide mencari link video film ini di
internet, lalu mendapatkannya, dan… benar, saya menontonnya.
Tetapi kali ini, saya sudah menyiapkan diri. Siap untuk
tidak terlalu berharap banyak. Niatan paling dominan saya justru karena ingin
mengikuti perjalanan berpetualang ala Rangga dan Cinta di Yogyakarta.
Perubahan Karakter
Rangga di AADC 1 identik dengan puisi. Karakternya yang unik
lekat di benak para korban nostalgia AADC 1 seperti saya :-D. Rangga sosok yang
cuek, dingin, ketus, menyimpan bara, namun amat nyastra dengan setiap gubahan
puisinya dan bahkan celetukan kata-katanya. Karakter ini yang tak lagi saya
temui di AADC 2. Ia telah total berubah. Ia benar-benar datang kali ini untuk
mengejar cinta dari seorang gadis yang pernah ia tinggalkan belasan tahun
lamanya. Lepas dari apakah pengejaran itu berakhir dengan keberhasilan atau
tidak, tetapi ini jelas mengubah sudut pandang. Gaya bicaranya berbeda, lebih
lekat memandang, lebih terbaca gelagat dan kehendaknya. Menjadi keterbatasan
tokoh Rangga yang amat kentara.
Pun demikian Cinta. Dalam AADC 1 beberapa kalimat yang
diucapkan Cinta masih cukup bertenaga. Celetukan dan jawabannya ikut mengena di
hati. Tetapi di sekuelnya ini, kualitas itu tak ada lagi. Bahkan kalimat “apa
yang kamu lakukan itu… jahat” benar-benar tidak unik. Paling buruk adalah
kalimat-kalimat di adegan terakhir yang menjadi pamungkas antara dua tokoh
utama ini. Amat klasik dan membosankan.
Puisi Kegalauan
Rangga
Baiklah, mari menghibur diri saja dengan kekuatan yang ada
di film ini, yakni setting dan puisinya. Lho, tadi katanya Rangga tidak lagi
nyastra? Oh, bukan. Rangga tetap datang bersama puisi-puisinya. Tetapi puisi
itu tidak lagi mewakili karakter dan kekuatannya selayaknya puisi Tentang
Seseorang dan puisi Perempuan Datang Atas Nama Cinta di AADC 1. Puisi Rangga
dalam AADC 2 lebih menggambarkan ia sebagai seseorang yang galau. Galau akan
cinta.
Puisi-puisi Rangga di AADC 1 aslinya ditulis oleh Rako
Prijanto. Seorang filmmaker, dan bukan penyair. Akan tetapi, kedua puisi paling
benderang dalam film pertama tersebut dengan santainya menyelinap di pikiran
kita hingga terkenang dalam waktu lama, dan mengesankan sedemikian rupa. Meski
bukan seorang penyair, akan tetapi Rako Priijanto cukup brilian menghadirkan
ragam puisi yang mudah diingat karena absurditas rangkaiannya ketika didengar oleh
penonton (ketika dibacakan dalam hati yang di-voice over oleh Cinta), lalu dimusikalisasikan pula oleh Cinta di
atas panggung dengan mengulang reff berbunyi “Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat. Seperti berjelaga
jika kusendiri.” Hayo ngaku… siapa yang kemudian jadi tidak terhafal secara
mengesankan karenanya?
Lalu puisi kedua
Rangga, yang di-voice over kan oleh
tokoh Rangga-nya sendiri sebagai tanda perpisahan Rangga di akhir cerita. Juga
berhasil melekat dengan baik di benak pembaca, kalaupun tidak semuanya,
setidaknya beberapa baitnya.
Perempuan Datang Atas
Nama Cinta
Perempuan Datang Atas Nama Cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali lagi aku lihat karya surga
Dari mata seorang hawa
Ada apa dengan Cinta?
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja…
Sementara di AADC 2, puisi-puisi galau Rangga berasal dari
gubahan seorang sastrawan Makassar bernama Aan Mansyur yang telah populer lebih
dulu dengan beberapa buku kumpulan puisinya seperti Melihat Api Bekerja. Puisi-puisi Rangga termaktub dalam kumpulan
puisinya yang bertajuk Tak Ada New York
Hari Ini. Dan salah satu puisi kegalauan yang di-voice over kan Rangga di AADC 2 adalah puisi Batas berikut ini:
Batas
Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan
kemarin
Besok batas hari ini dan lusa
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan
perpustakaan kota,
bilik penjara, dan kantor walikota, juga
rumahku
dan seluruh tempat di mana pernah ada kita
Bandara dan udara memisahkan New York dan
Jakarta
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di
jantung puisi dipisahkan kata
Begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang
petualang yang gila.
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang
dan undang-undang
Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan
sebaliknya
Atau senyummu dinding di antara aku dan
ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan
mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu jurang antara
kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi
Bagaimana
menurutmu? Bagus?
Menurut saya,
puisi-puisi kegalauan Ranggapada AADC 2 jauh lebih bagus daripada puisi-puisi
kesepian Rangga di AADC 1. Mungkin salah satunya karena pengarangnya
betul-betul seorang penyair. Sebab lainnya adalah karena saya mencarinya ulang
di internet dan meresapinya kembali, sehingga akhirnya saya tahu bahwa puisi
ini (dan puisi lainnya AADC 2) bagus. Benar, sayangnya, dalam AADC 2,
puisi-puisi Rangga hanya datang berkelebat, sekali saja alias tanpa pengulangan
sehingga penonton tidak sempat untuk memaknainya secara betul-betul dalam
apalagi hingga terhafal di otak. Puisi Rangga tak sempat memiliki panggung
sendiri dan hadir sebagai salah satu penguat karakter Rangga seperti di AADC 1.
Perjalanan Penghibur
Bagi Rangga
dan Cinta, petualangan mereka menjelajah Yogyakarta hingga Magelang adalah perjalanan
menyelesaikan nostalgia cinta keduanya. Tetapi bagi saya (baca: penonton)
perjalanan itu menjadi hiburan traveling yang paling menggugah selera. Dua di
antara begitu banyak tempat menarik namun antimainstream yang dikunjungi Rangga
dan Cinta adalah Gereja Ayam dan Punthuk Setumbu di Bukit Rhema, Magelang. Unsur
petualangan inilah yang berhasil menjadi daya tarik AADC 2. Saya tak habis pikir
jika misalnya AADC 2 hanya sibuk di plot pengejaran cinta Cinta oleh Rangga
dengan setting Tugu Jogja atau Malioboro… uh, praktis itu bakal lebih mirip FTV
saja….
![]() |
| Gereja Ayam |
![]() |
| Sunrise dari Punthuk Setumbu. Tampak Borobudur dari kejauhan. |
Saya bahkan
menyimpulkan, unsur traveling itulah justru yang menjadi poin unggulan di AADC 2.
Dan puisi Rangga hanya pelengkap, tak lagi menjadi unsur unggulan seperti
kedudukannya di AADC 1. Well… Siapkan
cara menghibur diri ala kamu saja, ketika menonton film ini. Right?
Selasa, 18 Oktober 2016
INFERNO The Movie
Sejak mendapat info bahwa Inferno sudah tayang di bioskop-bioskop di Indonesia, saya sudah kepincut berat pingin nonton. Saya lalu men-screenshoot jadwal film di tsb di web cineplex, saya kirim ke suami via whatsapp. Senangnya ketika suami menjawab dengan cepat dan positif. Maka jadilah weekend kemarin kami meluncur ke Palembang Indah Mall XXI.
Saya jarang-jarang nonton film thriller, kecuali beberapa saja. Dan karena saya pengagum berat Dan Brown terutama untuk karya masterpiecenya yakni, The Da Vinci Code, terang saja Inferno ini jadinya menarik untuk saya. Saya belum sempat baca bukunya. Ada tawaran e-booknya dari teman tapi saya sendiri tidak yakin sanggup menamatkan bacaan yang tebalnya nggak kira-kira itu melalui layar hp/laptop. Pening dan nggak leluasa, pasti. Jadi alternatifnya adalah menonton filmnya, meski saya tahu dan sudah siap dengan adanya perbedaan yang pasti ada dan menganga dengan versi bukunya.
Saya bukan lantas ingin menulis review lengkap tentang film ini, tetapi hanya menceritakan sudut pandang. Inferno dibuka dengan adegan keterkejutan Robert Langdon (Tom Hanks) yang bangun dengan kondisi setengah amnesia di sebuah rumah sakit di Firenze (Florence), Italy. Entah apa yang terjadi sampai ia terdampar di rumah sakit itu dengan luka di kepala dan potongan adegan-adegan mencekam yang terus melintas di pikirannya.
Tetapi usaha untuk bernostalgia dengan ingatan dan kejadian sesungguhnya tak bisa berlangsung lama. Denyut petualangan segera dimulai. Pemburu-pemburu yang datang menyeruak hendak menghabisi Langdon segera berdatangan. Sembari terus berlari menyelamatkan diri dan kita diajak keluar masuk bangunan-bangunan bersejarah lagi elok rupawan di sekujur kota Florence, sang profesor Simbologi Universitas Harvard ini terus berusaha memecahkan labirin misteri tentang Dante, mimpi-mimpi neraka Inferno, pembantaian manusia, dan beberapa wajah yang kemungkinan ia kenal. Apakah benang merah yang mengaitkan itu semua?
Saya sungguh menikmati setiap aksi dalam film ini, tanpa melewatkan sedetik pun, walaupun harus sedikit melawan gigil di dalam bioskop karena tidak bawa jaket. Hehe. Twistnya betul menyentak, walau itu adalah hal yang sudah dapat dipahami dari hampir tiap karya Dan Brown, petualangannya hidup, latar/settingnya memabukkan mata (kecantikan Florence, Venezia, dan Istanbul begitu diekspos), dialognya cepat dan tajam, cinematografinya keren. Soal plot, yah, plot Dan Brown memang selalu mematikan, walau kali ini tidak sekontroversial The Da Vinci Code karya pertamanya, atau The Lost Symbol yang karenanya diputuskan untuk tidak difilmkan.
Tetapi memang, soal simbol, kode, ikon, dan kontroversinya, Dan Brown memang ahlinya. Dan sampai kapan pun saya akan menyukai itu.
So, Inferno? Recommended to watch.
Saya jarang-jarang nonton film thriller, kecuali beberapa saja. Dan karena saya pengagum berat Dan Brown terutama untuk karya masterpiecenya yakni, The Da Vinci Code, terang saja Inferno ini jadinya menarik untuk saya. Saya belum sempat baca bukunya. Ada tawaran e-booknya dari teman tapi saya sendiri tidak yakin sanggup menamatkan bacaan yang tebalnya nggak kira-kira itu melalui layar hp/laptop. Pening dan nggak leluasa, pasti. Jadi alternatifnya adalah menonton filmnya, meski saya tahu dan sudah siap dengan adanya perbedaan yang pasti ada dan menganga dengan versi bukunya.
Saya bukan lantas ingin menulis review lengkap tentang film ini, tetapi hanya menceritakan sudut pandang. Inferno dibuka dengan adegan keterkejutan Robert Langdon (Tom Hanks) yang bangun dengan kondisi setengah amnesia di sebuah rumah sakit di Firenze (Florence), Italy. Entah apa yang terjadi sampai ia terdampar di rumah sakit itu dengan luka di kepala dan potongan adegan-adegan mencekam yang terus melintas di pikirannya.
Tetapi usaha untuk bernostalgia dengan ingatan dan kejadian sesungguhnya tak bisa berlangsung lama. Denyut petualangan segera dimulai. Pemburu-pemburu yang datang menyeruak hendak menghabisi Langdon segera berdatangan. Sembari terus berlari menyelamatkan diri dan kita diajak keluar masuk bangunan-bangunan bersejarah lagi elok rupawan di sekujur kota Florence, sang profesor Simbologi Universitas Harvard ini terus berusaha memecahkan labirin misteri tentang Dante, mimpi-mimpi neraka Inferno, pembantaian manusia, dan beberapa wajah yang kemungkinan ia kenal. Apakah benang merah yang mengaitkan itu semua?
Saya sungguh menikmati setiap aksi dalam film ini, tanpa melewatkan sedetik pun, walaupun harus sedikit melawan gigil di dalam bioskop karena tidak bawa jaket. Hehe. Twistnya betul menyentak, walau itu adalah hal yang sudah dapat dipahami dari hampir tiap karya Dan Brown, petualangannya hidup, latar/settingnya memabukkan mata (kecantikan Florence, Venezia, dan Istanbul begitu diekspos), dialognya cepat dan tajam, cinematografinya keren. Soal plot, yah, plot Dan Brown memang selalu mematikan, walau kali ini tidak sekontroversial The Da Vinci Code karya pertamanya, atau The Lost Symbol yang karenanya diputuskan untuk tidak difilmkan.
Tetapi memang, soal simbol, kode, ikon, dan kontroversinya, Dan Brown memang ahlinya. Dan sampai kapan pun saya akan menyukai itu.
So, Inferno? Recommended to watch.
Langganan:
Postingan (Atom)














