#MyJapanJournal
"Fabii ayyi 'alaa irobbikumaa tukazzibaan..."
Ada sekarung motivasi saya berangkat ke Jepang: melihat momen sakura mekar, observasi sejumlah objek untuk referensi karya, a big me time, self-healing, sampai merasakan pengalaman berpuasa di negeri asing minoritas muslim. Begitu minta izin suami, ternyata berhasil dengan mudahnya. Beliau mendukung penuh dan bahkan dengan senang hati mau menggantikan tugas menemani anak-anak. Maka sungguh, tak ada alasan bagi saya untuk tidak bersyukur sebanyak-banyaknya.
"Pokoknya kalau ada foto yang bagus, kirimin, ya," katanya sebelum berpisah di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Saya pun memulai perjalanan dengan keyakinan yang kuat bahwa saya pasti bisa. Semoga Allah memudahkan segalanya.
Dapat melihat empat pohon sakura mekar di Sumida Park adalah salah satu kemudahan itu. Setelah cukup puas menikmatinya, saya lanjut jalan kaki berpatokan Gmaps, untuk menemukan letak Senso-ji Temple dengan Nakamise Dori yang fenomenal di hadapannya. Senso-ji adalah sebuah kuil antik, cantik, dan artistik serta sangat populer di kalangan wisatawan. Sementara Nakamise Dori adalah shopping street sepanjang 250 meter dengan sisi kiri kanan dipenuhi toko souvenir khas Jepang.
Matsudo
Malam ini rencananya saya akan menginap di tempat teman di Matsudo, sekitar 20 menit berkereta dari Stasiun Ueno, Tokyo, lalu ditambah jalan kaki 20 menitan (1,7 km). Sebetulnya saya ingin menghindari stasiun besar seperti Ueno. Tapi karena posisi penjelajahan sore saya sudah tak begitu jauh dari Ueno, dan kereta paling efektif ke Matsudo memang dari Ueno, tadi ya tak terelakkan. Stasiun besar di sini luasnya ngalah-ngalahin mal besar Jakarta, dan dipadati manusia dengan mobilitas tingkat tinggi. Peronnya pun banyak sekali.
Tiba di Stasiun Matsudo lebih awal (teman saya janji bertemu jam 20.00 JST), udara sudah jauuh lebih dingin lagi di luar stasiun, 6°C. Tak ada satu kursi pun saya temukan di stasiun. Jadi terpaksa memang harus menunggu di luar. Tapi karena tak kuat, saya pun memilih masuk ke mininarket terdekat untuk menghangatkan diri saja. Setelah hampir satu jam, teman saya pun datang.
Alhamdulillah, semalaman saya bisa istirahat dengan nyaman karena adanya AC di kamar yang dapat menghangatkan udara, pagi ini kami jalan kaki mencari sakura. Senang sekali berhasil menemukan beberapa pohon sakura yang mekar dengan indahnya di dua tempat, yaitu area kampus Chiba dan tepi sungai menuju Stasiun Matsudo.
Mito
Mito adalah kota bersejarah yang mengesankan. Singkatnya, saya menghabiskan dua hari di Mito untuk menyelami sejarahnya melalui observasi ke situs-situs peninggalan abad ke-12 dari periode kekaisaran Edo. Yang pertama saya kunjungi adalah Kastel Mito dengan bebarapa strutur bangunan asli yang direstorasi. Area kastel ini luaas sekali dan bikin kaki pegal maksimal. Hehe.
Hitachi
Sekitar 40 menit berkendara dari kota Mito, di tepi laut kota Hitachi, terdapat sebuah taman bunga kenamaan. Hitachi Seaside Park namanya, yang masuk ke dalam daftar sepuluh taman bunga terindah di dunia. Sayangnya, bunga-bunga unggulan di sini belum tiba waktunya mekar saat saya tiba, seperti Nemophilia yang akan menjadi lautan bunga cantik berwarna biru muda bersinar putih (karena koleksi bunga ini ada sekitar 5.300.000 tangkai), juga tulip dan bunga kochia.
Jelang akhir Maret begini, yang sedang mekar adalah early flowering narcissus yang berwarna kuning cerah, narcissus putih, dan rape blossoms berwarna kuning muda. Bunga-bunga lainnya ada, seperti nemophilia, poppy, dan lain-lain namun dalam jumlah kecil. Saya juga berhasil menemukan beberapa tulip merah muda yang masih menguncup kelopaknya. Masya Allah... Begitu saja sudah terasa indah dan saya bahagia sekali bisa melihatnya. Alhamdulillaah ala kulli haal...
