Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Kamis, 07 Januari 2016

Menjawab Rengganis


Sebuah review penulis Rengganis: Altitude 3088

Saya banyak membaca review yang ditulis oleh rekan-rekan pembaca untuk novel kedelapan saya, Rengganis Altitude 3088, baik itu review yang mereka tulis di blog atau social media personal masing-masing, maupun yang disetorkan ke situs publik seperti Goodreads (untuk Rengganis, link Goodreadsnya bisa diklik di sini). Saya sangat berbahagia dan berterima kasih kepada mereka, para pembaca saya ini, yang tanpa keberatan memberikan pemikiran dan penilaian tertulis usai membacanya.

Respon positif banyak sekali saya terima melalui isi review para pembaca tersebut. Alhamdulillah. Mayoritas merasa puas, bahagia, terpesona, serta terinspirasi oleh gambaran setting di novel Rengganis. Ya, memang novel ini lengkap sekali membahas jalur pendakian Gunung Argopuro, utamanya dari jalur Baderan hingga ke Bermi. Jalur tersebut meliputi: KSDA Pegunungan Yang Timur Banyuwangi—Mata Air Pertama—Sabana Kecil—Sabana Besar—Sabana Cikasur—Cisentor—Rawa Embik—Sabana Lonceng—Puncak Rengganis—Puncak Argopuro—Puncak Arca—kembali ke Sabana Lonceng—Cisentor—Cemara Lima—Aeng Poteh—Danau Taman Hidup—hingga tiba di Desa Bermi. Tiap tempat dieksplorasi secara detail dan visual, sehingga pembaca—konon katanya—seolah bisa melihat sendiri pemandangan tersebut di depan mata dan seolah ikut diajak ke dalam petualangan pendakian para tokoh-tokoh muda di dalamnya. Kepuasan juga tercipta dari bahasa yang ringan, manis, lembut, dan sedikit romantis. Ini kata pembaca. Selain itu, ketakjuban juga tercipta dari penceritaan tentang misteri Dewi Rengganis sang putri Majapahit yang pernah mendiami puncak dan memiliki istana dan taman di sana, plus misteri bekas unfinished airport Belanda di sabana terluas di sana.

 Namun, di sisi lain, ada juga sejumlah kritikan, lontaran kekecewaan, kejenuhan, atau bahkan pertentangan terhadap bagian-bagian atau unsur tertentu dari novel ini. Dan saya justru, lagi-lagi sangat berterima kasih atas evaluasi dari pembaca sekalian. Sebagai penulisnya, saya menyadari betul, Rengganis Altitude 3088 memiliki banyak kekurangan. Tak ada karya sempurna, meski kita pastinya selalu berusaha untuk menulis dengan sebaik-baiknya.

Mari saya tuangkan satu per satu ya keluhan pembaca-pembaca tersayang, dan kemudian saya berikan sedikit pandangan yaa….

1.       Rengganis Altitude 3088 ini tipis sekali. Cerita di dalamnya pun jadinya kurang panjang. Kalau dibandingkan dengan Altitude 3676 Takhta Mahameru, kalah jauuh.
~ Betul. Jika dibandingkan dengan Altitude 3676 Takhta Mahameru, Rengganis paling hanya setengahnya. Hehe.

2.       Begitu detailnya unsur perjalanan dan tempat-tempat yang dilewati, bagi kalangan tertentu justru memantik rasa jenuh alias bosan. Alurnya lambat, konfliknya renggang.
~ Betul. Sejak membuat draft novel ini, bahkan sejak rencana membuat novel ini bentuknya masih di dalam otak, memang ceritanya khusus tentang pendakian full dari awal sampai akhir, dengan sedetail-detailnya. Se-riil mungkin, meski tokoh-tokohnya fiktif.

3.       Latar belakang dan kisah hidup masing-masing tokoh kurang tereksplor. Mungkin karena kebanyakan tokoh juga, sehingga kurang fokus. Lebih menarik jika kisah hidup tokoh-tokoh diceritakan, misal si A ikut tim ke Argopuro setelah patah hati. Atau si B mendapat mimpi berbau mistis atau apalah sehingga dia memutuskan untuk pergi mendaki.
~Right. Thanks, Readers. Luv u. Betul juga ya. Coba kalau kisah hidup yang melatarbelakangi sifat dan alasan mereka pergi mendaki dipaparkan, novel ini akan menjadi lebih tebal. Tapi ya itu, mungkin karena saya terlalu murni mengikuti rencana awal, yaitu bercerita tentang pendakian thok, ya jadinya begitu deh. Hehe. But thanks much for those suggestions, guys.

4.       Si tokoh pemuda yang lenyap karena mengejar Dewi Rengganis terlalu cepat ditemukan. Kirain bakal lama ditemukannya, atau sangat panjang dan berbelit-belit proses penemuannya, sehingga cerita makin seru dan menegangkan.
~ Sebab jika dia ditemukan lebih lama daripada itu, maka dia harus ditemukan dalam keadaan mati. Begitulah Argopuro. Pertama, saya sedang ‘tidak berminat ‘membunuh’ tokoh dalam novel kali ini. Kedua, lagi-lagi karena niat saya sejak awal adalah menceritakan pendakian Argopuro se-riil mungkin, sedekat mungkin dengan kenyaataan yang jamak terjadi pada pendakian-pendakian ke Argopuro. Mereka yang hilang ‘dipanggil’ oleh Rengganis dan lama tak kembali, lebih dari satu hari saja, maka biasanya ia memang tak akan benar-benar kembali lagi. Mereka yang hanya melihat sang dewi, atau dayangnya, atau pengawalnya, atau entah siapanya lagi, mereka lebih beruntung karena mereka ‘hanya melihat’ dan masih sempat pergi menyelamatkan diri. Beberapa kejadian mistis seperti yang diceritakan dalam novel Rengganis sungguh mendekati kejadian-kejadian nyata yang pernah dialami pendaki ke Argopuro, temasuk cerita Fathur tentang tiga teman pendaki di akhir novel.

5.       Tidak ada kisah cintanya, misal kisah cinta antara dua tokoh pendaki di dalamnya.
~ Hmm. Memang saya sedang ingin bercerita tentang cinta di taraf permukaannya saja sih. Tidak benar-benar menjadikannya sebagai unsur plot yang penting di dalam novel Rengganis ini. Maaf yaa… guys.

6.       Profil kedelapan tokoh kok malah letaknya di bagian belakang. Setelah ending cerita. Ini malah aneh.
~ Ssttt… kalau yang ini sih… sebenarnya kekecewaan saya juga. Ketika pertama menerima novel ini dalam bentuk buku, saya sempat mencari-cari profil kedelapan tokoh di halaman depan. Ketika tidak menemukannya, saya mengira bagian yang justru sangat krusial tu dihapus oleh editor. Dan saya terkaget-kaget ketika menemukannya di bagian akhir cerita. Oh, tidak! Padahal tujuan saya membuat profil tokoh-tokoh itu adalah supaya pembaca mendapat gambaran awal tentang mereka, karena tokoh utamanya ini cukup banyak, jadi saya berharap profil tersebut dapat membantu pembaca untuk mengingat mereka. Semoga jika novel ini dicetak ulang nanti, bagian profil tokoh-tokoh ini bisa dipindahkan lagi ke bagian depan yaa… aamiin J

Oke… sedemikian saja dulu yaa sharing saya tentang behind the novel. Intinya sih, saya berbahagia dengan respon apapun dan bagaimanapun dari pembaca sekalian. Doakan semoga saya konsisten untuk terus menulis novel-novel berikutnya, sehingga dapat kembali menemui pembaca dalam kisah yang berbeda. C u….





Selasa, 05 Januari 2016

Catatan Perjalanan Menjelajah Taman Nasional Sembilang

Saya kira tubuh saya akan terasa sakit atau penat bukan kepalang selepas bangun tidur, setelah sebelumnya naik speedboat selama sekira tiga jam--perjalanan yang mengempas-empas perut  secara luar biasa demi menerjang perairan bergelombang. Tapi ternyata tidak. Alhamdulillah... Kala fajar, ketika mata terbuka, memang tulang-tulang belakang punggung dan pinggang terasa sakit. Tapi, bermenit kemudian, ketika telah kembali beraktivitas dalam kegiatan ekspedisi kali ini, rasa sakit itu tak menyisa sedikit pun. Tubuh saya terasa sangat fit.

Begitulah. Jika ingin melakukan petualangan Taman Nasional Sembilang, kita memang harus melalui perjalanan tiga jam dari dermaga Simpang PU Tanjung Siapi-Api, setelah sebelumnya melewati perjalanan darat dari pusat kota Palembang ke dermaga Simpang PU selama satu hingga dua jam.

Beginilah pemandangan desa Sembilang, permukiman di atas air yang kami singgahi setiba di lokasi TN. Kami menginap di kantor STPN Wilayah II TN Sembilang, sebuah bangunan yang cukup nyaman dan di sepanjang berandanya dapat digunakan untuk tempat memancing ikan dengan ketinggian sekitar lima meter.






Sore hari pertama, spot yang kami kunjungi adalah anak sungai di belakang perkampungan Sembilang, untuk melihat hutan mangrove tepian sungai dari dekat. Beginilah penampakannya:



Unik sekali, bukan? Sepanjang mata memandang, mangrove dan mangrove-lah yang kita lihat di sini.
Usai menyusuri anak sungai tersebut, kami menyeberang menuju persimpangan-demi-persimpangan anak sungai lainnya (maklum, di TN ini konon ada lebih dari 70 anak sungai). Kali ini tujuan kami adalah menemui nelayan-nelayan kepiting dan ikan kerapu yang telah berbulan-bulan mencari buruan mereka di sini. Selain itu, ceritanya kali ini kami melakukan hunting buaya dan lumba-lumba tanpa sirip. Buayanya berhabitat di sungai yang dangkal dan berair hitam, sedangkan lumba-lumbanya berhabitat di sungai yang dalam dan jernih.












Ada beberapa spot lagi yang harusnya kami kunjungi, yaitu teluk, semenanjung, dan pantai. Akan tetapi dikarenakan hujan yang acap mengguyur wilayah ini, kami pun terpaksa harus menelan kekecewaan karena agenda kami banyak yang terganggu. Pada akhirnya, di hari kedua kami hanya sempat pergi menyaksikan atraksi ratusan burung-burung migran asal Australia dan Siberia yang hinggap di dataran tepi rawa untuk mencari makan, kemudian terbang beramai-ramai membentuk formasi, lalu hinggap lagi. Begitu seterusnya. Keren sekali.

Sebelum bertolak kembali ke Palembang, dari spot atraksi burung migran kami singgah dulu ke Sungai Barong Kecil untuk melihat pusat penyemaian mangrove. Dulu di sini ada mangrove trail, yaitu semacam jembatan kayu yang sangat panjang yang dapat digunakan untuk mengamati mangrove. Tapi sayang sekali, kondisi mangrove trail tersebut sangat memprihatinkan sehingga tak dapat difungsikan lagi. Namun, sangat banyak informasi terkait jenis-jenis mangrove, sifat, dan penyemaiannya yang berhasil kami peroleh dari petugas di pusat penyemaian itu.


(Bersambung)


Sabtu, 21 November 2015

Ketika Mas Gagah Pergi (Roadshow Promo di Palembang)

Datang yuk besok! Ketemu dan ngobrolin film "Ketika Mas Gagah Pergi" langsung dengan penulis sekaligus produsernya, Helvy Tiana Rosa.
Beragam hiburan musik turut mewarnai acara ini, keren dan seru pastinya. Doorprize pun menanti Anda smile emoticon
So, don't miss it guys!



Minggu, 22 November 2015
Pukul 08.00-11.30 WIB
Di Hotel Garudamas, Jalan Kapten A Rivai, Palembang, depan DPRD Sumsel

Dimeriahkan oleh: 
- Azzura Dayana
- Ady Azzumar
- Nasyid Nahwan
- Grup Musik GONG SaPa
- Live Music

Bertabur doorprize...!
See u there

Kamis, 05 November 2015

Catatan Pendakian Gunung Anak Krakatau

Krakatau: Pesona Gunung Mungil yang Menyembul di Tengah Lautan


Krakatau.

Krakatau Purba.

Anak Krakatau.

Setiap kali mendengar nama-nama ini, pikiran saya pasti langsung terasosiasi pada letusan dahsyat. Ya, gunung yang terletak di perairan Selat Sunda, pemisah pulau Sumatera dan Jawa ini adalah gunung berapi dengan tingkat keaktifan yang luar biasa.

Koleksi pribadi. Difoto oleh Azzura Dayana.
Ribuan tahun lalu Krakatau Purba diperkirakan adalah sebuah gunung berapi menjulang berbentuk kerucut, yang pada suatu ketika (tahun 416 Masehi) meledak dengan kekuatan tak terbayangkan oleh manusia. Hingga konon daya ledak tersebut mampu memisahkan pulau Sumatera dan Jawa yang tadinya bersatu menjadi terpisah. Tentu saja, ledakan tersebut memakan korban jutaan manusia dan menyebabkan efek nyata terhadap alam sekitarnya hingga radius ribuan mil.

Tiga perempat tubuh gunung ini hancur dan hanya menyisakan sisi-sisi tepi kawahnya yang menjadi tiga pulau yaitu Pulau Sertung, Pulau Rakata, Pulau Panjang, serta sebuah kaldera di tengah-tengahnya. Kemudian muncul dua gunung di sana yaitu Gunung Danan dan Gunung Perbuatan, yang lama-kelamaan menyatu dengan Pulau Rakata. Kesatuan pulau dan gunung ini kemudian dikenal sebagai Gunung Krakatau. Ketinggiannya mencapai 813 meter dari permukaan laut.

Sumber: internet
Di tahun 1883, gunung ini kembali beraksi dengan meledakkan dirinya kembali secara dahsyat. Tercatat sebanyak 36 ribu korban jiwa akibat bencana alam tersebut. Suara letusannya mencapai Australia, Amerika dan Afrika, menimbulkan awan panas, kegelapan matahari bercampur debu hingga tahun berikutnya, dan tsunami dengan ketinggian 40 meter.

Letusan maha dahsyat yang menggemparkan dunia ini lagi-lagi memusnahkan tubuh Krakatau hingga hanya menyisakan setengah kerucut.

Empat puluh tahun kemudian, dari tengah kaldera yang ada, tiba-tiba pada suatu hari muncullah cikal bakal anak dari sang gunung yang telah hilang. Para nelayan yang sedang melaut pada akhir tahun 1929 menjadi saksi kemunculan kepulan asap hitam dari permukaan laut di tengah kaldera.  Ternyata itulah awal kelahiran Gunung Anak Krakatau.

Gunung mungil yang tumbuh menyembul perlahan dari dalam lautan dan terus bertambah ketinggiannya ini adalah fenomena alam luar biasa yang bisa kita saksikan di perairan Selat Sunda sambil berdecak kagum. Arungilah selat ini berawal dari Pelabuhan Canti di selatan Lampung dengan menumpangi kapal nelayan. Sekitar tiga jam kemudian, setelah melewati beberapa pulau yang indah besar dan kecil, mata kita akan terperangkap takjub saat menyaksikan pulau yang bentuk dan warnanya unik, berbeda sendiri. Khas. Itulah yang terekam kuat di ingatan hingga kita pulang nanti dan seterusnya.

Dalam perjalanan menuju Krakatau, kapal kecil yang saya tumpangi bersama teman-teman sempat mogok dua kali karena mesinnya rusak. Mogok yang kedua sampai menyemburkan asap yang membuat kami terkejut dan bahkan sudah siap jika kondisi mengharuskan kami meloncat ke laut (agak lebai dikit, hehe…). Dua kali pula jadinya kami terombang-ambing terdampar di tengah lautan lepas sambil menunggu kapal lain yang kiranya akan menjadi bala bantuan bagi kami para castaways.

Sementara dalam perjalanan pulangnya dari Krakatau, ceritanya beda lagi. Kapal kami sudah diganti dengan kapal yang lebih baik kondisi mesinnya. Tetapi kali ini ombak tak setenang saat kami berangkat tadi. Ombak sore telah lebih buas. Mengguncang-guncang bukan hanya tubuh kami di dalam kapal, tetapi juga kapal itu sendiri sampai terempas-empas. Ada kalanya tinggi ombak bahkan lebih tinggi dari tinggi kapal. Subhanallah. Alhamdulillah meski demikian kami semua selamat sampai tiba lagi di Pelabuhan Canti yang sederhana.

Kembali membahas si Krakatau.

Sejak kelahirannya, Gunung Anak Krakatau ini tak pernah tenang. Aktivitas vulkaniknya terus berlangsung. Gempa vulkanik, semburan asap, hingga lontaran abu dan lava pijar, telah terjadi belasan kali.

Dari penjelasan petugas Cagar Alam Krakatau yang saya dapatkan, lokasi ini rupanya selalu ramai didatangi pengunjung tiap akhir pekan. Kondisinya saat ini aman untuk didaki, walaupun tetap saja kita tidak diperkenankan mendaki hingga benar-benar ke puncak. Pendakian hanya bisa dilakukan sampai ke bibir kawah.




Anak Krakatau saat ini ketinggiannya sekitar 450 meter tepat dari atas permukaan laut. Dan ketinggian ini akan semakin bertambah karena berdasarkan penelitian, gunung ini pertumbuhannya mencapai 7 meter setiap tahunnya, terus membesar, serta terus melebar tepian pulaunya. Di tepian pulau masih terlindung oleh pepohonan hutan. Memulai trek pendakian, kita masih akan melewati jalan yang kiri kanannya pepohonan. Kemudian pepohonan akan semakin berkurang dan jalan pasir yang ditapaki semakin lebar, sedikit berliku. Setelah itu, view mulai terbuka dan sedikit menanjak. Makin lama makin panjang dan terus menanjak, dengan trek pasir yang kering, tak ada lagi pepohonan.

Suasana sedemikian tandus sehingga menciptakan cuaca panas yang permanen. Semakin tinggi, pemandangan indah mulai terlihat. Dua pulau di sekitar Anak Krakatau tampil memesona. Tibalah kita di bibir kawah. Posisi jelasnya adalah begini: kita berdiri di bibir kawah setengah lingkaran, di hadapan kita adalah lembah yang memisahkan kita dari puncak Gunung Anak Krakatau yang gagah, bertekstur bebatuan keras dan hitam, serta menampakkan belerang hijau berasap yang menambah kesan fantastik sebuah puncak gunung berapi superaktif. Di sanalah terdapat kawah Anak Krakatau yang jika dilihat dari udara akan terlihat serupa lubang menganga bekas letusan yang hebat.


Nah, begini posisi dan bentuk si Anak Krakatau dari atas. Bagian hijau (hutan/pepohonan) itu adalah titik awal ketika kita menginjakkan kaki di pulau gunung ini. Pendakian dimulai dengan melintasi hutan tersebut, berjalan ke arah kiri dan naik hingga tiba di setengah bagian gunung. Sumber foto: simomot.files.wordpress.com

photo by azzura dayana

Saya, berlatarbelakang puncak Krakatau

Zoom puncak dari dekat, dari bibir kawah

Tipe dan karakteristik Gunung Anak Krakatau sama seperti induknya. Serius dan mematikan. Kandungan silica dalam magmanya sangat tinggi. Kandungan silica yang tinggi terkait dengan letusan tingkat tinggi pula. Bayangkan, dalam puluhan atau ratusan tahun ke depan, sudah berapa ketinggian gunung ini?

Maha Besar Allah. Pencipta langit bumi dan segala isinya….



Selasa, 03 November 2015

Sawarna: Hidden Pearls

Pantai-pantai di desa Sawarna, pesisir Banten selatan adalah mutiara-mutiara tersembunyi yang sangat layak untuk dinikmati oleh pecinta alam sekaligus pecinta petualangan. Dari Jakarta, jarak tempuh untuk mencapai desa Sawarna sekira lima hingga tujuh jam perjalanan darat, melewati Serang, Pandeglang, hingga ke Bayah.

Pantai Ciantir adalah salah satu pantai tercantik yang menjadi kebanggaan Sawarna. Pantai ini sudah bisa ditemukan sejak dalam perjalanan sebelum mencapai desa. Dari ketinggian bukit yang dilewati, seperti inilah view Pantai Ciantir yang bisa kita intip. Tampak di kejauhan dua batu karang bernama Tanjung Layar berdiri kokoh di ujung tanjung, menjorok ke pantai yang biru dan tenang.

Pantai Ciantir yang biru permai

Tiba di desa Sawarna, berjalan kaki melewati jembatan gantung, lalu beristirahat sejenak. Setelah itu kita bisa melanjutkan perjalanan ke arah barat dengan berjalan kaki. 

Tibalah kita di pantai menawan berikutnya. Sebuah pantai dengan ikon khasnya yaitu dua batu karang nan gagah berdampingan berbentuk serupa layar kapal. Oleh karena itulah pantai ini dinamakan Pantai Tanjung Layar. You can see one of your best sunsets here guys....

Here it is the wonderful sunset.... The best sunset I've ever seen....
Sunset Pantai Tanjung Layar
Pagi hari, berjalan kakilah menaiki bukit di sebelah timur, lalu temukanlah sebuah pantai cantik lainnya yang disajikan Sawarna. Jadilah saksi salah satu sunrise terindah... di Pantai Laguna Pari.

Sunrise di Pantai Laguna Pari
Laguna Pari alias Legon Pari

Me, at Legon Pari Beach
Setelah pagi mulai terang, berjalanlah lagi ke arah timur, menyusuri sisi lain Pantai Legon Pari yang berupa lengkungan landai yang sangat indah dan berpasir putih bersih.

Kita akan menemukan satu pantai luar biasa lainnya. Pantai Karang Taraje namanya. Taraje artinya tangga. Di pantai ini memang banyak terdapat karang-karang hitam berbentuk bertangga-tangga. Karang-karang nan kokoh menghadang empasan ombak.

Pantai Karang Taraje
Pantai Karang Taraje
Demikianlah Sawarna. Dan setiap kali mengingat Sawarna, saya selalu rindu untuk kembali ke sana....


Minggu, 18 Oktober 2015

EVEREST

Sumber: internet


Sudah lama ingin menuliskan ini. A simple review about Everest. Sebuah film yang saya tonton di jelang akhir penayangannya di bioskop, sekira awal Oktober ini. Agak terlambat menontonnya, dan sekarang sangat terlambat menulis dan memosting review-nya. Hehe. Tapi tujuan tulisan ini memang bukan sebagai persuasi bagi pembaca untuk segera ikut menyaksikan filmnya, karena film ini tidak ada lagi di bioskop. Maka, jadinya, tulisan ini adalah sekadar sharing. Dan kalau pun pembaca jadi tertarik juga untuk menontonnya, masih ada dua cara, yaitu dengan cara mencari CD-nya atau menunggunya muncul di televisi.

Film Everest diangkat dari sebuah kisah nyata pendakian tragis yang berlangsung di tahun 1996. Melibatkan beberapa pendaki sungguhan dan bintang-bintang Hollywood, film besutan sutradara Baltasar Kormakur, Everest tampak seperti sangat luar biasa. Berkisah tentang serombongan pendaki dari berbagai latar belakang yang berjuang untuk mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Everest. Berbagai aral melintang mereka hadapi. Namun perjuangan itu akhirnya kalah oleh badai dahsyat yang melanda mereka, sehingga akhirnya beberapa anggota tim tewas.

Saya melihat Everest sebagai film yang ingin menampilkan kejadian nyata secara totally real. Proses alurnya tahap demi tahap dan klimaksnya tidak ditambahi bumbu-bumbu supaya lebih dramatis atau bombastis. Sebab alam Pegunungan Himalaya dan Puncak Everest di Nepal itu sendiri sudah lebih dari bombastis. Pendakinya adalah orang-orang terpilih. Bahkan yang terpilih saja masih berisiko untuk gagal mencapai puncak, apalagi mereka yang tak terpilih, dalam artian hanya pendaki amatiran yang tak tahu  banyak tentang pendakian pada umumnya dan pendakian gunung es pada khususnya.

Alam tak bisa dilawan. Meski manusia berencana selengkap dan serapi mungkin, faktor alam yang notabene adalah kekuasaan sepenuhnya milik Tuhan tak bisa dianggap sampingan. Salah satu anggota tim ekspedisi Everest tersebut, Yasuko Namba dari Jepang yang sudah mendaki enam dari Seven Summits of the World, bahkan harus mengakui kekalahannya di puncak terakhir yang sedianya akan melengkapi prestasinya mencapai tujuh gunung pencakar langit dunia.

Mungkin kemudian Everest akan menjadi tempat yang menakutkan tersebab keekstreman lokasinya. Tetapi bisa juga malah menjadi pelecut untuk menyuburkan semangat menaklukkan tantangan tingkat tinggi. Apapun itu, Everest bukan gunung biasa. Itulah sebab kemudian terlahir kelompok bisnis pemandu pendakian Everest semacam Adventure Consultant dan Mountain Madness yang memasang tarif fantastis.

Dengan menyaksikan film ini, wawasan budaya hingga wawasan sebagai insan penikmat dan penjelajah alam saya meningkat. Dari sisi hiburan, sajian pemandangan alam bentang Himalaya hingga puncak tertingginya benar-benar memanjakan mata. Dari segi cerita, karena ini adalah kisah nyata tragis yang dibuat semirip mungkin dengan kejadian aslinya, maka tentu jangan berharap banyak untuk mendapati happy ending atau percikan konflik yang dibuat-buat. Dari sisi spiritual, membuat keimanan dan tawakkal kepada Sang Maha Memiliki Alam Semesta dan Maha Mengatur-nya bertambah-tambah. Hingga satu pelajaran terpetik terkait kisah ini, bahwa ketika kita hendak menjelajah alam dengan beragam bentuk dan level risikonya, alangkah lebih baiknya jika kita justru menyungkur di hadapan Pemilik Alam itu, memohon keridhoan-Nya agar diberi keberhasilan, bukan malah menyongsongnya dengan bersenang-senang tiada batas dan tiada arti. Ya, meski itu adalah momen yang layak dihargai dengan cara pikir kita masing-masing.

Terakhir, saya teringat pada satu adegan, ketika para pendaki dalam tim itu ditanyai tentang motivasi mereka mendaki. Jawaban terakhir yang paling mengesankan beramai-ramai diserukan oleh beberapa pendaki, “Because it’s thereee!”

A fenomenal slogan. Sejuta makna. Wow!


This is Something That I Can't See Everyday

Someday, somewhere….

Di saat saya merasa cukup lelah.

Tetapi debur ombak yang terdengar telinga sepanjang hari sepanjang malam adalah pesona. Pesona keindahan yang tak akan bisa terjumpa di setiap saat yang kita inginkan. Sebab terpisah oleh jarak.
Siapakah yang lebih lelah di antara peserta dan pekerja suatu acara?

Siapa yang lebih berat tugasnya? Yaah, pekerja suatu acara yang saya maksud di sini mungkin lebih familiar disebut committee alias panitia. Mereka umumnya adalah warga lokal yang berkaitan langsung dengan tempat atau lembaga penyelenggara. Mereka yang mengonsep, merumuskan, hingga kemudian menyiapkan, mengawal dan mengurus pelaksanaan hingga selesai dan sampai kepada tahap evaluasi. Lelah, pasti. Sementara, yang namanya peserta, bisa juga adalah warga asal dan juga warga luar yang datang dari jauh, mereka yang datang melintasi antar kota, desa, provinsi, pulau, negara, bahkan benua dan samudera untuk bergabung pada suatu kegiatan acara. Ukuran lelah bagi mereka ini tentu bisa diukur termasuk dari jarak dan waktu tempuh.

Aha… saya ini sedang tercenung, sebenarnya. Bukan berarti ingin berpikir bahwa mereka yang lebih lelah tidak bisa menolerir ketidakberesan atau ketidaknyamanan pernak-pernik suatu acara, dan mereka yang tidak lebih lelah adalah mereka sebagai orang-orang yang salah. Sebab antara keduanya, sama-sama bekerja dan bertanggung jawab sesuai tempat dan porsinya.

Panitia, ingatlah, jika pesertamu berjumlah ratusan atau lebih, itu bukan kerja kecil untuk mengurus mereka. Kesungguhan dan keikhlasan bekerja dan melayani dibutuhkan betul, untuk hasil yang maksimal. Dan peserta, jika ada remeh-temeh yang tak sepatutnya terjadi, itu bukan berarti panitia tak bekerja dengan baik, tetapi karena memang tak ada sesuatu yang sempurna dibuat oleh manusia.

Sambil berjalan dalam ritme tak terlalu cepat dan tak terlalu lambat, melintasi lautan pasir tebal yang terkadang membenamkan sandal saya dan mengharuskan saya bekerja keras untuk menyeret langkah, dan mata saya menatap pantai, saya masih terus berpikir. Kenapa saya harus berpikir sambil berjalan dan menatap pantai? Sebab padatnya rangkaian acara nyaris tidak membolehkan saya untuk sekadar duduk di beranda cottage barang setengah jam untuk berpikir sambil menikmati suasana pantai. Ini yang saya sayangkan. Jauh-jauh kita dibawa ke sini, terpisah sekian kilometer dari pusat-pusat peradaban, tetapi sayangnya rangkaian acara yang dijalin tak menyatu dengan alam sekitarnya. Jadi, ini hanya semacam acara-di-kawasan-indoor-terintegrasi yang dipindahkan lokasinya ke tempat yang terbuka (tapi tidak sepenuhnya terbuka).

Dan saya (agak sedikit) kelaparan di sini. Ups. Sekali lagi, mengurus peserta yang mencapai dua ratus atau lebih bukan hal gampang. Masalah makan termasuk yang utama. Logika tak akan jalan tanpa logistik. Sehebat apapun acara dirangkai, peserta bisa jadi tak akan maksimal mengikutinya hanya gara-gara persoalan makan. Apalagi, mengingat, mereka yang datang jauh-jauh dari luar daerah: jarak, kadar lelah, atau persoalan yang mereka alami sepanjang perjalanan bisa saja memengaruhi pola dan nafsu makan mereka. Belum lagi jika ada catatan sakit.

Saya sendiri, termasuk yang kemudian agak bermasalah dalam urusan makan. Dari faktor internal, perjalanan panjang pastilah menyisakan sedikit lelah. Belum lagi pikiran saya yang sebenarnya masih tertinggal di rumah, memikirkan anak dan kabut asap serta hujan yang tak kunjung mengguyur Palembang yang kemarau panjang. Tak ada sakit maag, tapi entah kenapa nafsu makan saya sungguh berantakan. Sedikit ataupun banyak jumlah makanan yang saya masukkan ke piring, tetap saja tak akan habis hingga setengahnya. Eneg dan malas. Bahkan walaupun masakannya enak. Di hari kedua, panitia nampak kelimpungan karena mungkin ada kasus peserta belum semuanya makan sementara makanan sudah menipis. Alhasil, di hari kedua itu panitia meja makan tak lagi hanya berdiri memantau, tetapi mereka masing-masing memegang satu sendok makan, lalu bertugas mengambilkan nasi, sayur, lauk, sambal ke dalam piring peserta. Cerita yang beredar terkait sistem baru itu: ada yang tak puas karena panitia mengambilkan nasi yang banyak sedangkan lauknya sedikit, sehingga dia tidak bisa menghabiskan makannya. Ada juga yang tak suka lauk ikan dan menanyakan apakah boleh meminta lauk lain akan tetapi tidak diizinkan, dan kecewalah dia. Ada juga yang berasa kayak makan ala di penjara karena makannya dibatasi sedemikian rupa….

Kadang saya dapat menyimpulkan sendiri kenapa saya malas makan. Intinya adalah yang segar-segar. Dalam kondisi eneg dan malas makan, perut saya sebenarnya sangat kompromi pada buah, sayuran hijau berkuah, bukan bersantan, dan bukan lauk yang dimasak pedas-pedas atau terlalu berlebih minyak dan rempah-rempahnya. Di saat eneg dan malas makan, justru menu paling sederhana seperti bayam atau oyong berkuah bening, tempe goreng, cah kangkung, dan tentunya buah-buahan akan menjadi amat bersahabat dengan perut. Tapi, yang tersaji justru yang tampak indah di mata tapi tidak indah di perut, hehehe.

Dan, berhubung saya mendapat cottage peserta perempuan terjauh dari pusat kegiatan acara, dan jumlah peserta dalam cottage cukup membludak sehingga antrean mandi mengular, sementara selepas sesi acara saya sering mampir sana-sini dulu (bazaar, pantai, dll) maka jadilah saya selalu menjadi peserta di barisan akhir yang mengambil makan. Biasanya sayurnya tinggal menyisakan kuah yang menggenang, lauknya tinggal irisan-irisan akhir, kerupuk tinggal remah-remah, dan buah-buahan tinggal kenangan (wadahnya saja). Jarak dari cottage ke aula dan tempat makan bukan hanya yang terjauh, tetapi juga harus melintasi lautan pasir yang tebal yang agak menyulitkan untuk berjalan cepat.

Entah hari/malam keberapa, lauknya rendang daging. Sayangnya, pilihan lauknya hanya itu (atau saya yang kehabisan), dan sayurnya hampir ludes. Saat makan, saya menatap sepotong kecil rendang yang hanya berteman nasi dan kuah. Ujung-ujungnya, pasti, tak habislah makanan saya. Di malam terakhir, lebih tragis lagi. Saya mendapat dua kali sendokan lauk. Lauknya ikan samba berukuran besar waktu itu. Sayurnya bersantan. Untung irisan semangka masih banyak dan bagus-bagus. Sayang, ketika duduk dan siap menyantap, saya memeriksa lauk tersebut. Ternyata oh ternyata, dua sendokan lauk yang terlihat besar dan menggoda itu ternyata telurnya semua. Bayangkan, telur ikan laut yang besar begitu, betapa enegnyaaaa…. Terkikislah semangat saya untuk makan. Untunglah teman di sebelah saya dengan baiknya menyumbang sedikit daging ikannya untuk saya. Saya hanya sanggup makan beberapa sendok nasi. Sisanya, oh maafkanlah saya ya Allah, saya buang lagi makanan saya….

Tengah malam itu, dalam perjalanan kami di mobil dari pantai menuju ibukota provinsi itu (karena besok pagi harus  naik kereta api pulang ke kota saya), saya memuntahkan semua isi perut saya yang tak seberapa itu. Akhirnya benar-benar masuk angin juga saya.

Itu tadi soal pangan. Sekarang soal papan. Papannya itu tak lain cottage kami. Untuk peserta yang jumlahnya mencapai dua ratus ini, para pekerja acara menyiapkan beberapa villa, cottage, dan tenda. jumlah cottage lebih banyak daripada villa. Tenda diperuntukkan bagi peserta laki-laki apabila villa dan cottage tidak mencukupi lagi. Letak villa hanya beberapa langkah saja dari aula dan tempat makan. Sedangkan cottage dan tenda letaknya berdampingan, berhadapan dengan pantai, dan letaknya lebih jauh dari aula dan tempat makan, melintasi lautan pasir. Cottage 1 masih lumayan dekat dengan aula. Semakin tinggi nomor cottage semakin jauh jaraknya. Saya menempati cottage 6. Setelah cottage 6, ada dua cottage lagi yang ditempati peserta laki-laki.

Pertama kali masuk dan memeriksa kondisi, saya dan teman-teman di cottage 6 cukup shock. Cottage itu lebih nampak seperti rumah tua. Bentuknya panggung, kamar mandinya ada di bawah, melewati tangga turun yang seperti terowongan. Nampak lama tak disentuh manusia. Gelap dan berdebu. Ketika menyalakan lampu di malam itu, ternyata lampunya putus. Ketika menuruni tangga terowongan kamar mandi itu, kami beramai-ramai membaca ta'awudz, ayat kursi, dan lain-lain, saking tegangnya dengan kondisi itu. Kamar mandinya luas sekali, tapi hanya ada dua benda di dalamnya, yaitu kloset dan ember. Bahkan tak ada satu paku kecil pun untuk menyangkutkan handuk. Papan dan kayu pembentuk rumah sudah rapuh. Lantainya berderit. Berandanya agak bergoyang-goyang. Jendela kamar kami bisa dibuka dan tak bisa ditutup kembali dengan aman, karena ternyata kuncinya tidak ada lagi. Pintu depan bisa dikunci dengan cara digembok dari luar, dan kunci kayu yang hanya ‘nyantol’ seadanya dari dalam. Jika sudah dikunci, pintu tak bisa rapat. Sekali tendang saja oleh saya, pasti langsung roboh pintu itu.

Satu kali pernah saya mampir ke villa yang ditempati teman peserta untuk menitipkan barang. Kondisi villa ternyata berbeda langit dan bumi dari cottage. Rumah batu yang indah arsitekturnya. Pintunya kaca dan bertirai. Ada AC dan kipas angin di dalamnya. Lantainya keramik. Di kamar mandinya tersedia shower serta kenyamanan dan keharuman kamar mandi mewah. Serta dilengkapi peralatan masak praktis yang tersedia di dapur dan meja.

Masya Allah….                 

Luar biasa. Malam yang pertama di cottage, saya sangat khawatir dengan keamanan dan nyaris tak bisa tidur. Untunglah akhirnya saya terlelap juga. Setiap malam hanya bisa tidur dua jam di cottage. Karena padatnya acara juga. Lama-kelamaan, saya mulai terbiasa dengan kondisi cottage. Dan bersyukur bahwa kami semua aman-aman saja. Di antara berbagai cerita horor yang beredar selepas acara, untunglah saya tidak mengalami yang aneh-aneh amat. Inilah yang saya maknai sebagai survive. Survive di hutan itu sudah biasa. Ternyata malah survive di tempat seperti ini yang lebih berat. Dan di sinilah pembelajaran itu perlu. Dan menjadi catatan, bahwa selain logistik yang diperlukan supaya logika bisa berjalan, prinsip-prinsip KEADILAN jangan sampai terlalai untuk kita tegakkan.

Ala kuli haal, Alhamdulillah… saya bersyukur masih banyak remah-remah hikmah yang bisa dipunguti dari pengalaman ini. Bertemu dan berbagi bersama teman-teman baru dari berbagai daerah, adalah keberuntungan. Wawasan yang kita serap dari setiap kajian, adalah ilmu baru yang mengayakan jiwa raga. Perjalanan yang panjang dan penuh cerita, adalah harga yang mahal.

Mari tutup malam ini, dengan memejamkan mata dalam-dalam dan mengucap hamdalah sekali lagi. Deburan ombak menemani detik demi detik. Cottage ini akan menjadi kenangan, di mana ada sesuatu yang paling mengesankan, mengalahkan segala unek-unek berbau keresahan di atas tadi: saat pagi hingga sore hari, ketika membuka pintu, saya disambut oleh pantai. Pasir putihnya terhampar luas sepanjang garis pantai yang melengkung indah. Di ujung kiri, gunung yang gagah melatarbelakanginya. Di sisi kanan, gugusan karang hitam menghiasinya. Dan di kala malam, deburan ombak itu menemani tidur, semakin malam semakin kencang bunyinya. Bukannya mengganggu, tetapi malah makin indah di telinga, menjadi lagu merdu yang akan jarang-jarang diputar. Hanya di sini. Atau nanti, di tempat seperti ini lagi.

This is something that I can’t see everyday….

Enjoy, then. Keep in mind thoroughly, safely.