Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Minggu, 22 September 2019

Merasakan Mati, Merasakan Hidup

Merasakan Mati, Merasakan Hidup

Mati

Kapan saya pernah merasakan mati itu begitu dekat? Seingat saya, dua kali. Pertama, beberapa waktu lalu saat penyakit menyinggahi badan. Rasa sakit yang senyeri-nyerinya, sehingga hampir saja saya mengira saya mungkin saja akan mati karena ini. Namun ternyata, hanya perkiraan saya. Sebab dengan terus bergerak mencari cara untuk bertahan, akhirnya hidup pun bertahan.

Kapan yang kedua? Di Semeru. Saat itu, pagi buta di gunung pasir menuju puncak tertinggi tanah Jawa, matahari baru separuh nyata, tapi mata tetap harus dipaksa terbuka, melawan kantuk yang tiada tara. Selama dua malam sebelumnya tak bisa tidur. Tak-bisa-tidur yang saya baru pahami sebabnya belakangan ini...

Ibarat duduk di atas perosotan. Bedanya, kalau kita membiarkan diri meluncur, entah kapan akan selesainya. Entah berapa lama. Ini seperti menghadapi semua semesta. Kita duduk bersandar pada tubuh gunung pasir yang curam. Umpama seekor anak semut bersandar gemetar di dinding mangkok terbalik raksasa seukuran rumah gedong. Ya, begitulah rasanya. Terpeleset sedikit saja, maka selamat tinggal semua. Dalam kantuk, tubuh harus tetap melakukan pergerakan. Tak boleh terlalu lama berhenti jika tak ingin mati kedinginan. Tak boleh terlalu lama diam dan tertidur panjang jika tak ingin tersedot ke dalam tidur panjang nan dingin selama-lamanya.

Begitulah. Ternyata kita bisa merasakan amat dekatnya mati ketika dunia terus berputar dan (harus) terus bergerak.


Hidup

Kapan saya merasakan bahwa perjalanan telah mempertemukan dengan betapa hidupnya hidup? Pada dua momen yang hampir serupa namun tak sama tempatnya.
Pertama, pada suatu malam di lembah antara puncak Gunung Gemuruh dan puncak Gunung Gede. Langit begitu dekat. Purnama bak bola emas raksasa. Bintang hadir berjuta. Sesi menatap adalah sesi surga. Dan di situlah waktu menjadi berhenti berputar. Semua berpusar pada pesona malam itu.

Yang kedua, suatu malam di desa kecil di kecamatan Bayah, pesisir barat daya Banten. Pertama kalinya menyaksikan jutaan, atau mungkin trilyunan bintang kecil berwarna putih dengan jarak kerapatan tingkat tinggi. Maha cantik. Dan waktu seolah harus berhenti di sana untuk bisa menyaksikannya lebih lama. Inilah indahnya hidup yang sesungguhnya. Jika tak hidup, mana bisa mata menyaksikan ini.

Kita merasakan hidup ketika dunia seperti berhenti.


Palembang, 21 September 2019



#WAGFLPSumselMenulis
#flpsumsel
#lampauibatasmu



Sabtu, 20 Juli 2019

[Review] KALILUNA: LUKA DI SALAMANCA

Judul Novel: KALILUNA: LUKA DI SALAMANCA
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Moka Media, Jakarta
Tahun terbit: 2014
Tebal: 270 halaman


Kaliluna: Luka di Salamanca, sebuah novel dengan tampilan kaver tak begitu cerah yang saya temukan berada di dalam tumpukan bazaar novel lama di salah satu pusat perbelanjaan di Palembang. Saya menyempatkan diri membaca cepat beberapa resensi tentang buku ini sebelum akhirnya memutuskan membeli. Setting Salamanca, sebuah kota antik di Spanyol, yang menjadi salah satu pemicu ketertarikan saya.

Ditulis oleh seorang penulis asal Indonesia, novel ini bercerita tentang tokoh utama yang berasal dari Indonesia. Namun, Indonesianya sendiri sama sekali tak menjadi satu pun setting di dalam novel ini, melainkan hanya disebut amat sekadarnya sebagai kilas balik kisah di masa lalu tokoh-tokohnya. Selebihnya, semua tentang Salamanca: alam, lingkungan sekitar tempat tinggal beberapa tokohnya, budaya dan arsitektur, aktivitas relijius (Katholik), serta kuliner.

Kaliluna, seorang gadis tujuh belas tahun yang piawai dalam olahraga panahan, memutuskan pindah ke Salamanca dengan membawa perihnya luka. Impiannya untuk lolos seleksi Sea Games dan menjadi kebanggaan telah hancur seiring hancurnya kehormatan sebagai seorang perempuan pada suatu malam. Kejadian tragis itu terus menghantuinya dalam mimpi-mimpi tidurnya. Ia lalu menemui Frida, ibu kandung yang meninggalkannya saat kecil dan tinggal di Salamanca. Frida tinggal di sebuah apartemen di tepi Sungai Tormes, tempat yang indah dan tenang, namun tetap saja tak berhasil mengembalikan Kaliluna menjadi gadis ceria dan enerjik lagi.

Sampai akhirnya, pertemuannya dengan Ibai, seorang pemuda Vasco yang perhatian dan gigih, lambat laun mengubah semuanya. Tentu saja, novel setebal hampir tiga ratus halaman ini banyak menceritakan apa yang mereka berdua lakukan sebagai healing, dan tak bisa saya sebutkan satu per satu tempat mana saja yang mereka kunjungi dan renungi, puisi mana yang mereka bahas dan nikmati, tumbuhan apa yang mereka amati dan hayati, makanan apa saja yang mereka cicipi.... Sangat banyak dan cukup detail. Bahkan tentang makanan, saya sampai agak 'mabuk' membacanya. Bukan tentang adegan makan sup yang kuahnya berasal dari darah babi itu juga, sih... Tapi terutama karena begitu banyak nama makanan dalam bahasa Spanyol dan untuk nama-nama tertentu disebut terlalu berulang. Padahal, menurut saya, sudah pas jika kemudian disebutkan dalam bahasa Indonesia saja. Apalagi ketika nama makanan yang dimaksud tidak terdiri dari satu atau dua kata saja. Jadinya, kan, ribet.

Novel ini sesungguhnya sangat manis dan indah, meskipun memang, torehan luka yang sulit sembuh adalah pokok ceritanya. Dan bagi orang yang suka jalan, novel ini akan memberikan kesan yang cukup mendalam. Bagaimana view Sungai Tormes dengan latar Jembatan Enrique Estevan dan Katedral Salamanca dari sudut dermaga kecil tempat favorit Kaliluna, bagaimana gambaran filosofis musim semi, kebun cantik di dekat Katedral, dan sumur dengan gembok-gembok bertulis nama yang bergelantungan di atasnya, suasana kota, dan sebagainya.

Kota Pendidikan, itulah julukan yang disematkan pada kota ini lantaran di sana terdapat University of Salamanca yang kenamaan. Kota yang sunyi di waktu pagi, dan riuh di malam hari. Usai menamatkan novel yang saya baca selama dua hari ini, saya browsing di internet untuk mengetahui lebih banyak tentang kota ini. Tentang suasana, cukup sama dengan apa yang digambarkan di novel. Mahasiswanya berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk kuliah di sana, tapi di malam hari sudah menjadi kebiasaan (banyak) mahasiswanya hura-hura dan mabuk-mabukan di kafe dan bar.

"Lalu kapan mereka belajarnya?" tanya Kaliluna yang keheranan melihat fenomena itu, dan dijawab Ibai secara abstrak.

Dengan kekayaan bangunan arsitektur dari salah satu kota tertua di Eropa ini, Salamanca memang termasuk kota favorit tujuan wisata di Spanyol. Dulunya, kota ini pernah berada dalam naungan kejayaan peradaban Islam Kerajaan Cordoba, namun kini jejak warisan Islam tak bisa ditemui barang secuil lagi di sini.

Secara keseluruhan, novel ini asyik untuk dibaca. Dengan diksinya yang ringan namun apik, membuatnya tidak membosankan.

Sebagai penutup, saya tuliskan kembali di sini beberapa dialog dan kalimat unik-cantik yang menjadi favorit saya:

"Kata mamaku, jangan pernah percaya pada laki-laki yang menyukai puisi."
"Kenapa?"
"Sebab laki-laki seperti itu biasanya kantongnya kosong." (hal 13)

"Seseorang baru matang jiwanya jika dia bergelut dengan api kehidupan, ditempa terus-menerus. Namun ada juga orang yang matang jiwanya hanya dengan berdiam diri dan menerima apa yang terjadi dengannya. Kadang kala bertahan, kadang kala hanyut." (hal 65)

"Saat kamu menarik senar busur menjauh dari busurmu, sebenarnya semua yang ada dalam dirimu baik yang berlawanan maupun yang searah justru berkumpul di suatu tempat. Kamu tahu di mana? Di batinmu. Mereka berkumpul untuk menentukan takdirmu." (hal 90)

"Aku ingin melakukan denganmu apa yang musim semi lakukan dengan pohon ceri." (penggalan Pablo Neruda, hal 96)


~αzzurα dαyαnα
Palembang, 20 Juli 2019

#flpsumsel
#WAGFLPSumselMenulis
#literasiberkeadaban

Selasa, 18 September 2018

[Sayembara Puisi] Hari Sumsel Berpuisi




Liksitera Chapter Sumsel menggelar:

Hari Sumsel Berpuisi

Mengundang semua pencinta puisi untuk berpartisipasi mengirimkan puisi terbaiknya dalam event Hari Sumsel Berpuisi.

Persyaratan:
1. Event terbuka untuk umum, tanpa batasan usia dan domisili
2. Tema puisi bebas, dengan memasukkan penyebutan nama kota, desa, atau daerah di Sumatera Selatan
3. Puisi harus asli, bukan saduran, belum pernah dipublikasikan, dan tidak sedang diikutkan dalam event atau lomba apa pun, serta tidak mengandung unsur sara dan pornografi
4. Peserta wajib mengirimkan maksimal 2 puisi disertai biodata (maksimal 5 baris) dalam 1 file.
5. Puisi ditulis dalam bentuk MS Word, jenis huruf Times New Roman ukuran 12 spasi 1. Masing-masing puisi tidak melebihi 1 halaman.
6. Puisi dikirimkan berupa lampiran (subject: nama_judul puisi), tidak ditulis di badan email.
7. Puisi dikirim ke email: sumselberpuisi@gmail.com
8. Batas akhir pengiriman puisi tanggal 31 Oktober 2018 pukul 23.59 WIB
9. Peserta wajib mengikuti (follow) akun instagram Liksitera Sumsel (@liksiterasumsel) untuk mengikuti info dan perkembangan terbaru mengenai event ini
10. Biaya administrasi Rp10.000 bagi tiap pengirim. Transfer ke rek Mandiri 9000015475859 a.n Siti Fatimah. Konfirmasi via WA dengan menyertakan bukti transfer ke 081367529773

Hadiah dari Sponsor:
Juara 1: Rp.500.000 + paket buku + sertifikat
Juara 2: Rp.250.000 + paket buku + sertifikat
Juara 3: Rp.150.000 + paket buku + sertifikat

- Semua puisi yang masuk akan diseleksi oleh dewan juri berkompeten yang telah ditentukan
- 200 puisi terbaik akan dibukukan dalam antologi eksklusif yang diendors oleh penyair-penyair nasional
- Para pemenang akan diundang pada bulan Desember di acara puncak Hari Sumsel Berpuisi dan berhak mengikuti workshop penulisan puisi bersama penyair nasional.


(Copas from ig @liksiterasumsel)

Rabu, 29 Agustus 2018

HARI INI

.
.

Pertama kali naik angkot lagi setelah setahunan lebih. Pertama kali pergi sendiri tanpa Hilyah. Duhai, FLP.

Di tanganku tergenggam sebuah buku berkaver putih. Tertera di depannya, Perempuan Selalu Ingat, yang menjadi rangkaian kata sebagai judulnya. Buku terbaru seorang sobat, rekan, kakak bagiku di FLP Sumsel. Kumpulan sajak Mbak Dian Rennuati. Tanganku yang satunya lagi memegang dua lembar dua ribuan yang digulung. Untuk ongkos angkot ini nanti begitu aku turun.

Ada sensasi yang begitu indah saat aku membaca bait demi bait puisi-puisi manis Mbak Dian. Kuteguk dalam-dalam tiap makna tersurat atau tersirat meski harus berkerut dulu sepasang alis. Duga yang benar atau menyimpang, tak apalah. Sejatinya puisi yang sulit diterka maknanya tak menjadikan dosa bagi pembaca, pun penulisnya. Terpenting, harmoni itu telah mengalun dari sebentuk karya, melenakan pembaca, tercerahkan dan terindahkan sedemikian rupa. Lepas beberapa helai puisi kuteguk, aku memaling muka pada jendela, menghirup angin yang berdatangan. Betapa segar.

Aku berpikir, lamanya tak kusentuh momen begini. Sendiri di dalam angkot, menikmati perjalanan disertai tiupan angin, dengan pikiranku yang mengelana bebas ke mana-mana. Sebagai seorang ibu dari dua balita saat ini, biasanya kalau bepergian, paling tidak pasti aku membawa serta anak kedua yang usianya masih setahunan dan masih ASI. Atau beriring bertiga dengan mengajak pula si kakak yang usianya tiga tahunan. Kalau sudah begitu, pastilah transportasi online yang dijadikan pilihan untuk dipakai. Atau jika bepergian dalam versi lengkap bersama si Abi, kita biasa bermotor ria.

Selagi membaca sambil menikmati belaian angin sesekali, juga menatap pemandangan yang tersaji di luar jendela angkot, berseliweranlah beraneka rupa lintasan pikiran, ide puisi, bahkan kalimat-kalimat mengenyangkan dahagaku yang mungkin memang sedang kosong inspirasi. Kini terisi. Meski belum sepenuhnya. Baru bayang-bayang. Tak apa. Segini saja aku sudah senang tak kepalang. Bak sejuta ide sedang mengambang. Mengapung-apung, minta ditangkap.

Maka kutuliskan malam ini tentang apa yang masih kuingat itu. Demi satu acara FLP di BKB memeriahkan momen Asian Games sore itu aku keluar, tentu setelah izin suami, untuk tidak membawa serta si bayi yang begitu lelap tertidur di ayunan. Padahal sebelumnya tadi sudah berencana kubawa ia serta, namun teringat bahwa semalam ia sangat kurang tidur, jadi kasihan kalau mau dibawa ke acara outdoor.



Duhai, setelah setengah lebih perjalanan, seusai baru saja jutaan inspirasi datang, satu kerinduan langsung memelukku dengan manis. Aku adalah perempuan. Aku adalah ibu. Seindah apapun momen yang lama tak kusentuh ini, sebebas apa pun dua belah tanganku saat itu, tetap saja semolek-moleknya rindu di hatiku adalah ketika ada buah hati di dalam rengkuhan lenganku, yang dapat kuelus kepalanya.

Saat itu aku menyadari, tiap kebahagiaan memiliki porsi dan sekaligus arti yang berbeda-beda. Kebahagiaan yang satu tak dapat ditindih oleh kebahagiaan lainnya, sebab mereka ada masing-masing, merekam sesuatu sendiri dalam hidupmu. Maka muarakanlah semua kesadaran itu pada kesyukuran.

Ah, Allah. Terima kasih untuk kebahagiaan hari ini. Terima kasih juga untuk kesedihan kecil kemarin yang Engkau bagi, agar kami tetap dapat menamai segala rasa dan menempatkannya pada takaran yang sesuai. Agar tak ada yang berlebihan, kecuali rasa syukur itu sendiri.

Terakhir, ingin kututup catatan kecil ini dengan bait dari buku kumpulan sajak Perempuan Selalu Ingat:

...
Dia selalu tahu
masanya menjatuhkan hujan
dari langit penuh kan awan
agar bertumbuhan benih-benih kegirangan
di lembah hatinya insan

Maka terangkanlah segala perasaan

***

~Azzura Dayana
Lorok Pakjo, Palembang, 28 Agustus 2018, 23:03

Sabtu, 23 September 2017

MANDI BULAN


azzura dayana

Melintaslah kakimu susuri padang berlapis bayang Gunung Salak. Lalu menurunlah di elok kelok Batutapak selepas geliat selokan dingin kaulampaui. Tersua olehmu sebuah tradisi mengikat janji menemui Sang Suci. Melihatmu mandi bulan.

Meneteslah harap di butirbutir doa mengangkasa. Merapal zikir menjadi lebih lama dari sediakala. Merangkaki witir yang tiga jadi sebelas. Aduhai malam kian terbentang bermandi bulan.

Tengadahlah di tengah lapang dilingkup pohonpohon. Didesir angin gelorakan rindu kepada Sang Satu. Seribu sajadah jelma tempat mereka merebah berbantal lengan. Tatapi bulan, nikmati debur cahaya, sanjung puji lihai pembuatnya.

Aku adalah pungguk yang mencinta pertengahan syahrur Romadhon. Menyaksi sukacita mereka di lapangan tempat pohon huniku menjulang. Menitip doa di naungan semilir Kota Hujan. Bersetia pungguk rindukan mandi bulan.



~Memoar Batutapak
Demang Lebar Daun, 5 September 2017

Rabu, 23 Agustus 2017

Cerita Butir Debu

.
.
Pada akhirnya yang tercinta kalah oleh penumpuk citra
Pupus harapan yang diukir oleh benak peristiwa
Kita telah surut satu per satu dimakan waktu
Lalu menjadi butir debu berbau
Yang lantas tersapu angin
Hilang nama

Pada akhirnya kau dan aku tak bisa berbuat apaapa
Hanya termangu di sudut peluru yang menembaki ulu jantung anakanak negeri
Kita terlalu mati untuk sekadar mengamati
Atau mengakui ada permata hati
yang telanjur tak kita hargai

Dan akhirnya ketika hujan tumpah dan tetumbuhan hidup
Tak ada lagi semata bangga riuh di dada
Lalu kita raup jaya segala rasa dari alam tetangga
Dari asin garam hingga seperah susu
Dari harum gula sampai seonggok ketela

Ternyata kini kita tak menaungi apaapa
Selain senapas jiwa yang lega oleh sekerat surga dunia
Meniup perlahanlahan cuplik simpati hingga pergi
Memangkas tiap tetes merah menjadi rasa malu tak lekang waktu
Secarik luka yang tak pernah sembuh
.
.

~Azzura Dayana
Demang Lebar Daun, 21 Agustus 2017

Minggu, 06 Agustus 2017

#mypoem

Dara
azzura dayana

Jaga izzah, dara
Kita hidup di masa petaka betapa merabunkan mata
Kadang serupa madu ternyata rancu

Jaga marwah, dara
Kata-kata yg kaupilih adalah wajahmu
Bahasamu adalah jiwamu

Jaga iffah, hai jelita
Kenakan malumu sebagai bunga
Kita tak sedang berkontes menjala siapa yg tercinta

Kertapati, 6 Agustus 2017