Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Rabu, 13 Juni 2012

[Movie Review] Di Timur Matahari


ReviewReviewReviewReviewjun 27, '12 11:30 am
for everyone
Category:Movies
Genre:Other
“Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua…” (sepenggal lagu yang dinyanyikan para tokoh dalam film Di Timur Matahari)

Antara Roaming dan Dimanjakan
Butuh kerja keras untuk memahami film ini. Pertama tentu terkait bahasa pengantarnya yaitu bahasa Indonesia yang bercampur dengan kata-kata dan logat Indonesia wilayah bagian timur. Jujur, sebenarnya saya sangat menikmatinya. Saya suka logat mereka, dan dulu pernah saya praktikkan hal yang sama sewaktu beberapa kali ngetrip ke Makassar, yang notabene adalah gerbang Indonesia bagian timur. Masalahnya, di film ini, jika saya terlalu fokus menghayati bahasa tersebut (sebagai upaya memahami jalan cerita juga), saya berisiko kehilangan banyak momen untuk menikmati bentangan alam Papua yang disajikan tanpa berhemat-hemat sepanjang film. Dan tentu sebaliknya, jika saya terlalu fokus menghayati bentangan alam nan memukau itu (lembah-lembah dan pegunungan bergurat-gurat yang mirip Dieng, padang savana hijau kekuningan yang mengingatkan pada kekayaan Semeru, dan rangkaian perbukitan serupa di Merbabu), saya pasti akan lengah memahami bahasa pengantar cerita.
Inilah tantangannya. Kita dituntut untuk bekerja keras mencerna bahasa, alur cerita, sekaligus setumpuk suguhan pemandangan. Disuruh ‘bekerja’ sekaligus dimanjakan J. Sepanjang durasi dua jam. Saya sempat terlalu menikmati saat-saat ‘dimanjakan’ itu, dan membuat saya missedterhadap beberapa detail kecil alurnya. Bagaimana tidak, sebagai seorang pembelajar fotografi level awal, saya menemukan bahwa photography director film ini pastilah seorang fotografer yang sangat andal, atau setidaknya ia bekerja dibantu para fotografer yang pandai menentukan bestangle. Gambar-gambar dengan teknik focal point bertaburan di sini: bentangan alam Papua disorot dalam landscaped photos dengan objek bergerak di satu titik kecil di tepi/sudut. Contoh gambar keren yang disajikan dengan teknik ini, misalnya: tampil secara fullscreen savana luas yang dikelilingi pegunungan hijau bergurat-gurat, dan dari titik kecil di tepian kanan gambar ini bocah Mazmur dan teman-temannya berlarian melintasi savana itu sambil menyanyikan ‘Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru…’ hingga selesai. Adegan ini berlangsung setelah mereka memutuskan untuk bernyanyi saja demi mengisi kekosongan guru pengganti mereka yang pulang ke Jayapura dan tak pernah kembali lagi. Inilah adegan pertama yang sukses membuat saya merinding (bahkan saat mengetik tentang adegan ini pun saya kembali merinding mengingatnya). Contoh gambar keren lainnya, yaitu saat kamera men-shoot dari sudut pandang berjarak beberapa puluh centimeter saja dari atas permukaan air sungai, demi menampilkan geliat air sungai lebar nan deras, sementara di atasnya membentang jembatan gantung melengkung, dan tokoh tertentu melintasi jembatan itu sebagai objek bergerak berukuran kecil.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, berbagai gambar pemandangan memukau seperti ini disajikan terus-menerus, sampai saya yang pecinta alam ini pun akhirnya merasa bosan (baca: iri karena cuma bisa melihat yang dipamer-pamerin di film ini saja, hehe).

Tokoh & Kekagetan
Tokoh utama dalam film ini, pikir saya, adalah Mazmur. Si bocah asli Papua, berambut keriting, kulit hitam, sehari-harinya penuh bekas tanah di tangannya, dan juga di kaki yang tidak mengenal sandal dan sepatu. Anak yang riang tapi juga kadang begitu perasa saat ibunya dipukuli ayahnya atau ayahnya pulang dalam keadaan mabuk.
Walaupun demikian, di opening credit, saya melihat nama Laura Basuki muncul paling atas bersama Lukman Sardi, menandakan bahwa 'sebenarnya' merekalah tokoh utama. Laura Basuki berperan sebagai Vina, istri dari Michael, pamannya Mazmur yang tinggal dengan mapan di Jakarta. Satu jam setelah film berjalan, Vina dan Michael diminta pulang ke Papua karena ayah Mazmur tewas. Peristiwa kematian inilah yang kemudian berbuntut sangat panjang dan menjatuhkan korban-korban jiwa dan kerugian materi di desa itu. Perang antar kelompok warga terjadi, yang kalau kita mau menyimpulkan secara miris: pemicunya tak lain adalah kemiskinan. Kemiskinan di tanah paling kaya di nusantara.
“Gimana enggak pada minta merdeka?” begitu lirih Vina saat mendapati bahwa belanjaannya yang ‘hanya’ berupa dua karung beras ditambah minyak goreng dan lain-lain yang tidak begitu banyak dihargai tiga juta delapan ratus ribu oleh pemilik warung di desa itu. Betapa tidak masuk akal, dan betapa ini menunjukkan bahwa teramat berat yang harus dipikul warga di sana untuk sekadar makan pakai nasi.
Sempat saya memosisikan diri sebagai backpacker, dalam memandang situasi di desa tersebut. Seorang atau sekelompok backpacker mungkin akan dengan sangat mudah bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan desa itu, di mana mereka harus tidur di lantai bambu berderit, sulit untuk ngecas hape, mandi dan buang air hanya bisa dilakukan di sungai, dan mengonsumsi makanan yang rupa dan kualitasnya beda jauh dengan apa yang bisa dimakan di perkotaan. Tapi, untuk orang-orang seperti Vina yang terbiasa dengan fasilitas, tinggal sejenak di desa ini memang menjadi suatu kekagetan yang sangat. Inilah yang menyebabkan air matanya jatuh berkali-kali karena tidak tahan pada kondisi itu. Lagipula, tujuan dia datang ke Papua bukan untuk jalan-jalan. Sementara itu, meskipun backpacker datang dengan tujuan menjelajah dan mudah beradaptasi,shock tetap akan melanda mereka juga karena ongkos ‘menggembel’ di tanah yang terlalu indah itu sangat tidak main-main.

Di film ini Lukman Sardi berperan sebagai seorang pendeta yang taat dan cukup disegani. Sebagai seorang mantan muslim, cukup wajar kalau dia bisa menjiwai perannya dengan sangat baik. Meski, kalau kita mengingat perannya sebagai Kiai Haji Ahmad Dahlan di film Sang Pencerah beberapa tahun lalu, kontras sekali, ya...
Kekakuan peran setidaknya saya lihat pada ibunya Mazmur di awal-awal akting, terutama saat adegan ia menelepon Michael sambil nangis-nangis tidak natural. Selebihnya, peran tokoh-tokohnya lainnya lumayan bagus, termasuk Agus Ringgo yang tidak diragukan lagi aktingnya. Saya menyukai Mazmur dan Thomas, dua bocah lelaki yang berteman baik, dengan keceriaan, kelucuan, dan kepolosan di wajah dan tindak-tanduk mereka. Bersama sekelompok teman-temannya, saya merasakan kecerdasan dan kesabaran mereka meredam kerinduan akan guru baru. Kalau mereka dekat, ingin saya menjadi guru mereka, mengajak mereka bercerita banyak hal. Jika memang mereka ini bisa kita anggap perwakilan anak-anak Papua, saya melihat mereka sesungguhnya berbakat dan mudah untuk diajari.

Antiklimaks dan Paradoks
Kemiskinan memang sampai saat ini masih menjadi salah satu pemicu terbesar kejahatan dan kebrutalan. Alur Di Timur Matahari dibuka dengan kedamaian yang syahdu dan sendu, lantas digiring kepada satu per satu klimaks mulai dari keterkaitan dengan denda adat, hingga perang antar kelompok warga. Rangkaian kekagetan, kecemasan, keharuan, dan keterpukulan disajikan secara kompleks.
Hingga akhirnya... durasi hampir habis, dan antiklimaks harus diputuskan, untuk menyelesaikan konflik yang makin memuncak di lima belas menit terakhir. Barulah saya merasakan satu ketidakpuasan plot di sini. Tajamnya konflik digambarkan berhasil redam oleh nyanyian yang dibawakan oleh Mazmur, disusul Thomas, Suryani, Bu Dokter, dan lain-lain. Solusi dengan bernyanyi ini (yang alhamdulillah tidak ditambahi dengan tarian-tarian dan hujan... *Bollywood-banget dunk*) mungkin dipilih oleh sang penulis skenario karena sedikit kesulitan menemukan solusi yang tak biasa, untuk menghentikan konflik yang terlalu ‘biasa’ di tanah itu. Maka dipilihlah sebuah nyanyian yang--kalau saya tebak--berisi permintaan kesadaran dan mengingat Tuhan (makanya saya tadinya berharap ada teks terjemahan yang menyertai nyanyian full-bahasa daerah ini). Dalam konteks mereka yang sedang berada di arena perang itu dan memahami arti lagu tersebut, mungkin agak wajar kalau mereka kemudian tersentuh lalu menghentikan konflik yang sudah sangat memanas. Tapi saya pribadi, kok ya gagal tergugah.

Twist
Di penutup cerita, muncul seorang bocah berusia tiga tahunan berlari di lapangan hijau lalu duduk di beranda. Tangannya menemukan bendera merah putih ukuran kecil yang terkapar. Saya yakin, sebagian besar penonton menebak mungkin si bocah akan mengelap ingusnya dengan bendera itu. Tapi, di sinilah duet Alenia yang membuat film keren ini membuktikan kedahsyatan mereka: dugaan itu malah berkebalikan dengan yang terjadi. Si bocah malah mengangkat bendera itu dan melambai-lambaikannya secara alami sebagai bocah yang tidak tahu apa-apa. Makna simbolisnya, saya rasa, bahwa Papua yang tak berdaya masih mempertahankan harapan pada Indonesia.


***
Demikianlah. Baru kali ini saya menulis review sepanjang ini. Dan sepertinya juga baru kali ini saya agak kesulitan menentukan bagaimana caranya menceritakan secara runtut apa yang saya rasa dan pikir tentang sebuah film. Film yang saya akui, sangat keren, dan masuk ke dalam jajaran film-film favorit saya. Saya tutup dengan beberapa poin kecil ya…
-          Paradoks di film ini begitu jelas tergambar. Surga alam Papua, kontras dengan kemiskinan orang-orang yang berdiam di atasnya. Tanah yang kaya akan gunung-gunung emas dan tembaga, tapi warganya sendiri tidak pernah mencicipinya sama sekali. Harta itu dikeruk semaruk-maruknya oleh pihak asing sampai 60 tahun kontrak ke depan (CMIIW) di perusahaan-tambang-yang-kita-semua-tahu-namanya-itu, dan seujung kukunya dikirim ke pemerintah pusat.
-          Hal-hal yang saya missed: Agus Ringgo di situ profesi spesifiknya apa ya? Lalu si bu dokter muda, siapa yang menugaskannya di sana? Dan walaupun di credit title saya membaca nama beberapa desa yang dipakai sebagai lokasi syuting, tapi untuk desanya si Mazmur ini… apa ya nama desanya? Dan posisinya di titik mana Papua? Oke, anggaplah ini pengaruh roaming saya. Tapi kalau teman-teman berhasil menemukan jawabannya saat nonton film ini, beri tahu saya, ya.
-          Saya sempat menangis dua kali saat nonton film ini. Padahal tadinya saya sudah merencanakaaan banget untuk tidak nangis. Tapi ternyata ga’ tahan boo’…
-          Di belakang rumah Pak Pendeta (Lukman Sardi), ada gunung hijau yang posturnya mirip Gunung Sadahurip di Garut. Eh, jangan-jangan… ada piramida terpendam juga di dalamnya, hehehe… *otak-arkeolog*






Sponsored Links [?]
Use this space to advertise your product to millions of shoppers on Multiply. Target your products on other Multiply Seller's pages. Connect real customers to your shop.
 
With so many choices, buyers want to shop at Multiply Stores they can trust. Increase your sales by getting verified today!
about sponsored links
20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
fightforfreedom wrote on Jun 27
Reviewnya menarik.
Soal solusi pada kisah yg diangkat sepertinya bakal sulit & tidak sederhana, mengingat terlalu banyaknya kepentingan yg bermain di sana.

Guna menikmati keindahan bumi Papua, film ini saya masukkan list untuk dibeli DVD-nya.
j4uharry wrote on Jun 27
hooho, TFS
azzuradayana wrote on Jun 27
Reviewnya menarik.
Soal solusi pada kisah yg diangkat sepertinya bakal sulit & tidak sederhana, mengingat terlalu banyaknya kepentingan yg bermain di sana.

Guna menikmati keindahan bumi Papua, film ini saya masukkan list untuk dibeli DVD-nya.
 
Betul. Sebagai penulis, jika dihadapkan pada konflik ini, saya juga yakin bahwa saya akan kesulitan untuk mencari solusi yang hebat dan berbeda sebagai ending...
azzuradayana wrote on Jun 27
j4uharry said
hooho, TFS 
sama2.. :) nonton yaa...
j4uharry wrote on Jun 27, edited on Jun 27
ReviewReviewReviewReview
sama2.. :) nonton yaa... 
ada sih renca tapi nampaknya tertunda lagi
azzuradayana wrote on Jun 27
j4uharry said
ada sih renca tapi nampaknya tertunda lagi 
:-) Atau tunggu nanti pas tayang di TV *lamaa
j4uharry wrote on Jun 27
:-) Atau tunggu nanti pas tayang di TV *lamaa 
ahaha, lucu aja !

* gak seru pasti banyak yg dipotong + bonus iklan yg seabrek2
azzuradayana wrote on Jun 27
j4uharry said
ahaha, lucu aja !

* gak seru pasti banyak yg dipotong + bonus iklan yg seabrek2
 
pastinya... :D
kopiradix wrote on Jun 27
“Gimana enggak pada minta merdeka?” begitu lirih Vina saat mendapati bahwa belanjaannya yang ‘hanya’ berupa dua karung beras ditambah minyak goreng dan lain-lain yang tidak begitu banyak dihargai tiga juta delapan ratus ribu oleh pemilik warung di desa itu. Betapa tidak masuk akal, dan betapa ini menunjukkan bahwa betapa berat yang harus dipikul orang di sana untuk sekadar makan pakai nasi. 
Astaghfirullah, mereka harus bayar 3 juta lebih hanya untuk beli beras dan minyak goreng?? *speechless*
azzuradayana wrote on Jun 27
kopiradix said
Astaghfirullah, mereka harus bayar 3 juta lebih hanya untuk beli beras dan minyak goreng?? *speechless* 
iya, sedih ya :(
tiarrahman wrote on Jun 27
belum tertarik nonton yang ini juga.
azzuradayana wrote on Jun 27
tiarrahman said
belum tertarik nonton yang ini juga. 
sayang sekali, hoho. tapi ya ga pa-pa, mas :D
kopiradix wrote on Jun 27
bahkan ada tokoh liberal yang bilang kalau Papua mau merdeka ya biar saja :(
azzuradayana wrote on Jun 27
kopiradix said
bahkan ada tokoh liberal yang bilang kalau Papua mau merdeka ya biar saja :( 
entahlah

dulu 'kita' berdarah-darah memperjuangkan mereka ikut Indonesia dan lepas dari intervensi asing, sekarang mereka 'berdarah-darah' minta merdeka dari Indonesia....

mereka terjajah pihak asing dan pemerintah pusat (Soeharto) yg memberi ijin (penjajahan) itu. setumbangnya Soekarno. siapa dari kita yg bersedia melirik Papua dengan sesyahdu ini?

*komentar saya sbg awam*
lovusa wrote on Jun 27
baruuuu aja nonton film ini bareng cha kemaren.
sama kaya yana, aku sukaaaa :)

cha ikutan nangis waktu bapaknya thomas n suryani meninggal kena tombak. sayang film sebagus ini sepi penonton. aku termasuk yang pengen menikmati film alenia di bioskop :) pemandangannya itu lhooo, nggak nahaan.. cakep banget!
masfathin wrote on Jun 27
Biasanya aku gak ketinggalan film2 Alenia, semoga yg satu ini sempat nonton. Amiiin
azzuradayana wrote on Jun 27
lovusa said
baruuuu aja nonton film ini bareng cha kemaren.
sama kaya yana, aku sukaaaa :)

cha ikutan nangis waktu bapaknya thomas n suryani meninggal kena tombak. sayang film sebagus ini sepi penonton. aku termasuk yang pengen menikmati film alenia di bioskop :) pemandangannya itu lhooo, nggak nahaan.. cakep banget!
 
yoa, mb kasih berapa bintang? :)
view-nya emang cakep2 banget. kaga nahan, jadi iri karena cuma bisa lihat lewat film saja, hehe
azzuradayana wrote on Jun 27
masfathin said
Biasanya aku gak ketinggalan film2 Alenia, semoga yg satu ini sempat nonton. Amiiin 
aamiin.. buruan ya :D
dewayanie wrote on Jun 27
Belum nonton Yan... 
azzuradayana wrote on Jun 28
dewayanie said
Belum nonton Yan... 
ayo mbaa... nontonlah :) di TV masih lama, hehe

Sabtu, 09 Juni 2012

Di Titik Mana Kita?

Yang membedakan penulis dengan pembaca adalah, karena penulis itu menulis. Kalau dia tidak menulis, otomatis dia berhenti menjadi penulis.

Saya sering sampaikan pada audiens, termasuk ketika launching Tahta Mahameru pada 23 Mei 2012 lalu, menulislah tentang apa yang terdekat. Ini untuk memudahkan proses.
Jangan pernah menulis sesuatu yang kita sendiri tidak tahu. Karena pasti prosesnya akan lambat. 

Memang, bukan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menuliskan yang tidak kita tahu banyak. Tentu kita bisa menuliskannya juga, dengan kita lakukan riset dan pendataan, lalu mulai menulis. Inilah, level kedua setelah tahap menuliskan apa yang terdekat. Dengan kata lain, menulis juga ada level-levelnya.

Maka, untuk mempercepat dan mempermudah, tuliskan yang terdekat (yang kita tahu, yang kita pahami, yang kita geluti). Kemudian untuk menaikkan level, tuliskan hal-hal baru, siapkan diri dan konsep, siapkan waktu lebih, siapkan usaha lebih. 

Pertama-tama dulu, saya menulis yang terdekat. Dunia SMA, lalu dunia kampus, kisah romantis sahabat-sahabat saya (buka kartu:p). Settingnya? Palembang dan Palembang. Sumsel dan Sumsel.

Lalu beberapa tahun saya vakum, karena kesibukan di 'dunia lain'. Saya katakan pada orang-orang di sekitar saya, saya ini mantan penulis, bukan penulis, karena saya lama tidak menulis lagi :(

Tapi ahamdulillah, ada 'dunia lain kedua' yang juga saya terjuni bersamaan, yaitu dunia backpacking (solo maupun tim). Maka ketika saya niatkan bangkit untuk menulis lagi, saya tahu, saya butuh pemicu yang kuat. Sesuatu yang hebat. Jawabnya: Semeru.

Ide mendaki Semeru ini terbetik saat saya sedang mendaki Gunung Gede brsama beberapa sahabat backpacker. Sesuatu yg hebat, yang harus saya tuliskan kali ini. Jika tidak hebat, tidak akan saya tuliskan.

Menuliskan sesuatu yang berbeda dari biasanya: Petualangan berangkai. Tokoh utama berkarakter semi-antagonis. Konflik yang 'kejam'. Diksi yang keras. Dan, berhasil! Saya berhasil menuliskannya. Tanpa mengalami begitu banyak hambatan. Inilah, novel Tahta Mahameru.

Meski tetap saja di dalam ceritanya itu saya tak bisa luput untuk menghadirkan tokoh perempuan yang baik dan lembut sebagai protagonis (pengaruh karena saya perempuan kali yaa #eaaa...).

Jika ini bukan sesuatu yang berbeda, saya tidak akan menuliskannya. Jika tidak menguasai bahan, atau yakin tidak bisa menguasainya, lebih baik saya tidak menuliskannya. Daripada terbengkalai! Itu prinsipnya.

Bertahun saya paham Semeru, dari buku-buku, dari internet. Itu sudah bekal. Tapi belum tentu itu berarti saya sudah menguasai. Setelah pulang dari pendakian, saya yakin saya menguasai 'medan'.

Jangan pernah remehkan setting. Tempat yang kita datangi sekilas saja bisa menjadi modal untuk dijadikan settting, apalagi yang memang sudah 'direncanakan dan diniatkan.

Buat konsep, matangkan. Kuasai bahan, tuliskan, sambil terus menggali data. Sering-sering tinjau ulang, temukan kesalahan lalu perbaiki.

Untuk level yang selanjutnya dalam kepenulisan, penulis mempunyai keharusan untuk berani dan bisa menuliskan apa saja. Masuk ke bidang apa saja, meramu apa saja. Tak hanya berkutat di satu poin. 

Memang berat. Tapi kita tentu tidak ingin hanya selalu berada di satu titik lama, sementara orang lain sudah meninggalkan kita di jalur depan bermil-mil jauhnya, bukan?

Zaman ini, penulis tak bisa cuma duduk di depan laptop dan mengkhayal. Penulis butuh berjalan ke luar, berbincang dan berinteraksi dengan semesta.

Selamat menangkap ide.

Selamat menulis.



#disarikan dari tweets saya di @azzura_dayana


Kamis, 31 Mei 2012

Pemenang Kuis Tahta Mahameru


Selamat kepada Ila Rizky Nidiana dari Tegal, Jawa Tengah, yang berhasil keluar sebagai pemenang kuis berhadiah novel Tahta Mahameru gratis plus tanda tangan.

Berikut adalah jawaban yang dikirimkan pemenang:
1. Sebutkan sebuah lokasi di Indonesia (kota/desa, tempat wisata komersil, hidden paradise, dll) yang sangat menarik untuk dijadikan setting cerita menurut kamu (sebagai penulis atau pembaca) dan alasannya.
Jawaban: Tomohon satu kota kecil di sulawesi. Biasanya ada festival bunga
yang sering menarik minat wisatawan asing untuk hadir ke sana.
bunga-bunga tomohon sering diekspor untuk dijual. di Tomohon
bunga-bunga manapun bisa dengan mudah ditemukan, jenisnya tidak hanya
puluhan bahkan ratusan jenis. Festival bunga tomohon biasanya
dilakukan 1 tahun sekali. Mobil yang dihias dengan bunga dibentuk
aneka rupa, lalu diarak ke jalan raya, mirip seperti festival bunga di
luar negeri. sayangnya hal ini jarang diekspos oleh media kita.


2.  Sebutkan satu judul buku fiksi lokal yang paling berkesan menurutmu dan mengapa.

Jawaban: Novel keydo : buku ini berisi tentang epik kepahlawanan ala
perempuan dan pahlawan di jalan sunyi. ada 2 tokoh utama : kinang dan
keydo adalah dua anak manusia yang saling mencintai. di novel ini
budaya ketimuran ala indonesia terasa kental, mengajak para pembaca
untuk menitipkan rasa cinta hanya pada Tuhan dan menjelajahi detail
kota padang hingga ke papua. banyak nama dan tokoh di novel ini
mempunyai ikatan kuat satu sama lain. masing-masing membawa pesan
tersendiri, tidak hanya asal tempel sebagai tokoh rekaan. tokoh-tokoh
tersebut benar-benar menjelma menjadi nyata di pikiran pembaca. mereka
adalah pahlawan di jalan sunyi. buku ini ditulis oleh tatty elmir, dan
direkomendasikan oleh taufik ismail. 
Kepada pemenang, dimohon segera mengirimkan nama lengkap, alamat lengkap beserta kode pos, dan nomor telepon ke azzura_dayana@yahoo.com.

Kepada para partisipan lainnya yang telah meramaikan kuis ini, saya ucapkan terima kasih banyak. Semoga bisa beruntung di kesempatan bagi-bagi berikutnya ya :-)

Salam,
Azzura Dayana
***


Baca juga bagi2 terbaru di: 
http://azzuradayanabookshop.blogspot.com/2012/05/diskon-50-plus-plus-kapan-lagi.html

Dan hadiri pula Grand Launching Tahta Mahameru. Click for details:


Diskon 50% Plus Plus.. Kapan Lagi? :-)

Kalau sebelumnya saya pernah bagi-bagi Tahta Mahameru gratis via kuis ringan, kali ini saya mau bagi-bagi diskon 50% novel Tahta Mahameru (dari harga aslinya Rp55.000)... PLUS tanda tangan... PLUS merchandise :)

Bagi-baginya ini khusus untuk kalian yang berdomisili di Palembang dan sekitarnya dan berencana hadir di Grand Launching Tahta Mahameru & Bedah Buku Bening Subuh Musi (tapi belum mendaftar) yang akan digelar pada Ahad 3 Juni 2012 di Aula Magister Manajemen Unsri Bukit, Palembang.

Bagi yang berminat, silakan cantumkan alamat e-mail kamu atau no HP di sini. Share juga ke teman-temanmu yaa. Makasih. Sampai ketemu di launching besok yang insyaAllah spektakuler :-)



Senin, 14 Mei 2012

Nice Events

Hadirilah! :-)
Launching (1) di Indralaya



Launching novel Tahta Mahameru dan bincang proses kreatif kepenulisan
Pembicara: Azzura Dayana
Waktu dan tempat: Rabu 23 Mei 2012 jam 13.00-15.00 di Gedung Teater MIPA Universitas Sriwijaya, Indralaya
Diadakan oleh Forum Lingkar Pena Ogan Ilir
Htm: Rp10.000
Novel bisa dibeli di acara tersebut
CP: 081328283525 (Ichwan)




Launching (2) di Palembang


Launching novel Tahta Mahameru dan talkshow kreatif kepenulisan. 
Pembicara: Izzatul Jannah (Penulis, Ketua Umum Forum Lingkar Pena Pusat, dan GM Balai Pustaka) & Azzura Dayana
Waktu dan tempat: Ahad 3 Juni 2012 jam 08.00-11.00 di Aula Magister Manajemen Unsri Bukit Besar Palembang
Diadakan oleh Forum Lingkar Pena Sumsel
Htm beragam untuk kalangan berbeda, plus tersedia paket hemat buku dan novel
CP: 081377579995 (Fatimah)


Don't miss them :)



Sabtu, 28 April 2012

Tahta Mahameru

"Membaca Tahta Mahameru (Pemenang II Lomba Novel Republika).
Jelas sekali penulisnya seorang backpacker :) Dari Mahameru, Borobudur, Tanjung Bira - Sulsel, membuatku ragu Azzura Dayana ini orang Palembang atau Jawa-Makassar ? :) Deskripsi latar sangat jelas. Sepertinya saya harus juga merantau untuk novel berikutnya. Jangan hanya bisa nulis tentang Bugis dan Bugis:)"

Demikian tulis sahabat saya, Gegge Mappangewa, di status Facebooknya. Pemikiran sang jawara utama Lomba Novel Republika dengan judul novelnya Lontara Rindu ini sempat membuat saya tersenyum-senyum juga. Tampaknya saya cukup berhasil untuk tidak menampakkan ke-Palembang-an saya di novel ketujuh saya ini, ya :)

Ya, novel ini memang berlatarkan banyak tempat: yang terutama adalah desa Ranu Pane & Gunung Semeru di Jawa Timur, dan Tanjung Bira di telapak kaki Sulawesi Selatan. Tempat-tempat super eksotis yang memang pernah saya datangi dan saya eksplor. Latar lainnya adalah Borobudur, Makassar, Bromo, Jakarta, dan Surabaya.


***
Hari ini, kiriman 10 eksemplar novel Tahta Mahameru tiba di rumah saya. Novel ini insyaAllah sudah bisa dicari di toko buku Gramedia. 



SINOPSIS:

“Mahameru… Puncak Abadi Para Dewa.” Ikhsan memandang Mahameru lagi. “Apakah itu artinya… Allah tidak punya tempat di sana?” 

Faras, si gadis kutu buku asal desa Ranu Pane hanya bisa mengangkat tinggi kedua alisnya.

“Seperti aku, kamu juga tidak tahu banyak tentang tahta Mahameru?” tanyanya lagi. 

Tahta Mahameru? 

Itulah salah satu dari tiga pertanyaan tak terjawab dari Ikhsan kepada Faras. Masing-masing diajukan dalam tiga pertemuan singkat mereka sebelum mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Pendaki gunung berwatak keras dari keluarga yang penuh kebencian ini menjadikan Mahameru sebagai peredam sesaat jiwanya yang penuh dendam. Namun kegetiran semakin memuncak sampai akhirnya ia benar-benar membalas dendam dan hidup terasing. Faras, sang teman baik yang merasa bersalah dalam terseretnya Ikhsan ke ujung tanduk menelusur jejak sang pendaki hingga melintasi pulau. Ia ditakdirkan bertemu dan seperjalanan panjang dengan Mareta, seseorang yang ternyata terkait dalam dendam keluarga Ikhsan. 

Apa sebenarnya yang terjadi pada Ikhsan setelah menghilang tiga tahun? Lalu masih pentingkah Faras mengungkap semua jawab atas pertanyaan esensial Ikhsan yang dulu, melalui keajaiban demi keajaiban dalam pendakian Mahameru yang mungkin tak terlihat selama ini? 

Tahta Mahameru, sebuah novel yang tak hanya menyajikan rangkaian peristiwa luar biasa tentang kehidupan anak manusia, tapi juga menyuguhkan petualangan tokoh-tokohnya dari satu daerah ke daerah lain, menghadirkan sisi religi yang menggugah, dan ikut mengupas latar adat suku Bugis yang kental dan terkenal akan kapal pinisi mereka. Serta tentu saja, pendakian Gunung Mahameru yang berbeda dari biasanya. 

***

More details:
Tokoh utama: Raja Ikhsan, Faras, Mareta (nama2 terinspirasi dari nama murid-murid)
Sudut pandang: orang pertama, dari tiga tokoh utama di atas secara bergantian
Alur: maju - mundur

Tebal: 380 halaman
Harga per eksemplar Rp55.000.
Pemesanan bisa juga di: Republika, atau azzura_dayana@yahoo.com.

Kamis, 19 April 2012

Tahta Mahameru meraih Juara Kedua (Catatan dari Awarding Lomba Novel Republika 2011)

Cukup mendadak keberangkatan saya ke Jakarta kali ini. Tanpa banyak persiapan termasuk membeli oleh-oleh untuk teman berupa kemplang khas Palembang seperti yang selalu saya lakukan jika ke Jakarta dulu. Apalagi, mengingat saya tak perlu repot-repot mencari tiket pulang pergi dan tempat menginap karena panitia sudah menyediakannya selama rangkaian acara berlangsung. Ditambah pula, rutinitas saya yang cukup padat dan menguras energi di minggu-minggu terakhir menjelang keberangkatan. Lengkaplah, saya merasa perjalanan kali ini penuh ketergesaan.


11 April 2012

Rabu pagi, saya masih harus ke sekolah dan mengajar kelas intensif persiapan kelulusan di UN. Jam 2 siang, kelas usai dan saya masih harus berberes sebentar, tanpa sempat mengisi perut saya dengan nasi siang itu, sebelum harus segera meluncur ke bandara. Saya hanya membawa satu ransel berisi pakaian dan satu tas tangan sedang berisi barang-barang penting seperti dompet, ponsel, kamera, tiket, dan lain-lain. Perlengkapan mengajar saya titipkan di sekolah.

Pesawat yang seharusnya take-off kurang dari jam lima ternyata mengalami delay. Sebenarnya sudah saya duga karena sudah menjadi kebiasaan maskapai ini. Tampaknya cukup pantas jika namanya diganti dari Singa menjadi Kura-kura :).

Jam 7 malam, saya tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Petugas dari Republika yang menjemput saya secara pribadi sudah nongkrong di sini sejak jam 5 kurang. Kami langsung meluncur ke Hotel Ambhara di bilangan Blok M. Alhamdulillah tidak terlalu macet. Jam 8 kami tiba di hotel, disusul kedatangan Mas Gegge dari Makassar dan Pak Harri dari Jember, sama-sama finalis sepuluh besar lomba ini.

Tak sampai setengah jam berada di kamar masing-masing yang mewah (keren juga panitianya, menyediakan akomodasi bintang empat ini untuk kami), kami bertiga berkumpul kembali di bawah karena alasan yang sama: lapar. Finalis lain, Mas Toni (Malang) yang sudah tiba lebih dulu dari kami dan sudah makan malam, tak keberatan ikut kami ke luar. Meski panitia memberitahukan via sms bahwa biaya makan malam kami akan diganti, nyatanya langkah kaki kami tetap saja berakhir di salah satu warung gerobak kaki lima, di terminal luar Blok M yang ramai, dan tentu saja penjualnya tak punya nota, hehehe. Saya memesan nasi soto, sedangkan dua rekan memesan nasi goreng. Sambil makan, perkenalan dan obrolan hangat seputar naskah kami berlangsung.

Saya hanya menghabiskan setengah porsi dari makanan yang saya pesan. Malamnya pun saya nyaris tidak bisa tidur di kamar hotel. Suasana hati saya sih yang nggak enak. Saya juga terlalu lelah sehingga biasanya bisa mengakibatkan dua hal yang bertolak belakang: tidur lelap dan lama, atau tidak bisa tidur. Kali ini, saya baru bisa tidur jam setengah tiga malam dan terbangun lagi jam lima pagi. Tapi saya bersyukur masih bisa tidur. Daripada tidak bisa tidur sama sekali?


12 April 2012
Pagi-pagi kami sudah harus bersiap. Sarapan pagi lalu menunggu jemputan yang akan membawa kami ke rumah makan Pendopo Kemang, Jaksel, tempat acara penganugerahan akan diselenggarakan. Lagi-lagi saya males makan pagi itu. Sebenarnya ini memang kebiasaan saya sih, males makan kalau sedang rangkaian acara di luar atau saat ngetrip. Sesuatu yang dilarang untuk dicontoh ya.

Jam 11, acara belum dimulai rupanya. Meskipun tertera jelas-jelas di kartu undangan bahwa acara dimulai jam segitu. Para tamu dipersilakan menikmati hidangan brunch. Saya bertemu dengan teman-teman perempuan di sini: Puput (finalis dari Jakarta), Violet (finalis dari Solo), Laura Khalida (finalis 25 besar), Pita (FLP Depok); serta para senior tercinta di FLP: Mbak Asma Nadia (yang rupanya adalah salah satu dari juri akhir),  Mbak Helvy Tiana Rosa, dan Mbak Intan Savitri (ketua umum FLP). Kami juga berkumpul dengan Mas Hendra Veejay (finalis 10 besar dari Bandung), para panitia yang sedikit banyak pernah kontak dengan kami sebelum acara ini, serta beberapa teman lainnya.

Jam 11.30, acara masih belum dimulai. Saya kepikiran pengen ngelayap di luar sana, sebenarnya, daripada cuma duduk manis di sini setelah obrol-obrol dengan Mbak Asma dan teman-teman selesai. Host mempersilakan tamu untuk menyantap makan siang kali ini. Saya bercanda dengan Mbak Laura, “Kayaknya nggak mulai-mulai nih acara. Setelah makan pagi, kita disuruh makan siang. Setelah makan siang, kita pasti dipersilakan shalat Zuhur. Setelah shalat Zuhur, snack sore. Setelah snack sore, shalat Asar. Pulang aja, yuk?”

Hehehe. Saya mulai eror. Dari porsi kecil banget yang saya ambil untuk makan siang, saya cuma menghabiskan sedikit. Kaki saya pengen banget ke luar, sebenarnya. Bosan di sini.

Usai shalat Zuhur, ternyata acaranya dimulai euy. Sekitar jam 13. Gak jadi pulang, deh. Hehe. Dibuka dengan beberapa kata sambutan dari pihak Republika. Ada 458 naskah yang masuk ke lomba yang deadlinenya dulu adalah 15 Oktober 2011. Naskah-naskah tersebut berasal dari 133 daerah tingkat dua yang tersebar di 22 provinsi. Jumlah yang spektakuler, ya. Saya aja nggak nyangka pesertanya bisa sampai sebanyak itu. Nah, dari jumlah ini, sebanyak 393 naskah dinyatakan lulus persyaratan administrasi. Kemudian dari jumlah inilah yang diseleksi hingga menjadi 100 besar, 50 besar, 25 besar, hingga 10 besar. Pengumuman 10 besarnya baru diinfokan pada Januari 2012 lalu. Mbak Asma Nadia dan Mas Salman Aristo (yang terkenal sebagai penulis skenario andal ini, beberapa besutannya di antaranya Brownies, Sang Penari, Jomblo, Ayat-ayat Cinta, dll) maju ke panggung. Tanpa banyak basa-basi, mereka mengumumkan pemenang tiga, dua, dan satu.


Tentang Si Tahta Mahameru

Naskah saya, Tahta Mahameru (judul awal ketika saya mengirimkannya dulu adalah Mahameru), meraih juara ke 2, alhamdulillah. Juara pertamanya adalah Gegge Mappangewa (Makassar) dengan judul naskah Lontara Rindu. Juara ketiganya Pak Harri Ash-Shiddiqie (Jember) dengan naskah Bila Cinta Mencari Cahaya.

Selanjutnya, begitu hectic. Talkshow dimulai di atas panggung, dan saya tahu kondisi saya saat itu tidak cukup baik. Akhirnya saya merasa seperti bukan diri saya yang berada di atas panggung, dan jadinya saya kurang maksimal menceritakan latar belakang Tahta Mahameru. Tapi ya, ini salah saya sendiri juga sih (apa ya obat nafsu makan yang mantap?).

Ditanya oleh sang moderator (Adenita, penulis novel 9 Matahari) tentang inspirasi dan proses kreatif novel ini, saya ceritakan secara sederhana: Bahwa novel ini memang saya rencanakan untuk ditulis berdasarkan pendakian ke Gunung Semeru pada Mei 2011 lalu ditambah trip solo saya ke Tanjung Bira di Sulsel. Setelah vakum menulis novel sejak 2009, saya butuh pemicu untuk kembali membuka gerbang kreativitas menulis novel. Dan saya memutuskan, pemicunya saat itu adalah pendakian Mahameru (alias Semeru). Maka, setelah segala persiapan pendakian matang, saya segera mengonsep ide novel tersebut hingga lengkap, dan langsung menuliskan 2 bab pertamanya. Lalu saya pergi mendaki. Dari Palembang, saya naik kereta api ekonomi sendirian ke Lampung. Menginap di Lampung satu malam. Paginya saya ke terminal Rajabasa, naik bus ekonomi ke Pelabuhan Bakauheni dan lanjut naik kapal feri menyeberang Selat Sunda. Tiba di Merak, saya naik bus ke Jakarta. Di Jakarta sempat kesana-kemari dulu, dan sempat ngetrip sendirian dulu ke beberapa kota di beberapa provinsi lain. Lalu saya terdampar di Malang, dan saya mengontak teman-teman yang pada hari H akan tiba di stasiun Malang pagi hari. Kami ketemuan di sana. Lalu pendakian dimulai. Inspirasi dikumpulkan.

Dua minggu kemudian, saya kembali ke Palembang, rehat sebentar sekitar tiga hari. Kemudian saya kembali ke laptop, meneruskan naskah ini dengan begitu menggebu. Dan selesai pada akhir Juli 2011. Tadinya naskah ini saya niatkan untuk dimasukkan ke sebuah penerbit besar nan profesional, tapi dikarenakan penerbit tersebut sedang mengutamakan naskah-naskah fiksi terjemahan, saya akhirnya menyimpan naskah ini tanpa merevisinya. Lalu beberapa teman menyarankan saya untuk mengirimkan naskah ini ke lomba novel Republika yang kebetulan sedang digelar saat itu. Setelah dipertimbangkan, saya pun menyepakati ide itu.

Maka beginilah hasilnya. Alhamdulillah. Mbak Asma Nadia yang menjadi salah satu juri benar-benar membuat saya merasa terpacu untuk terus berkarya. Di matanya, naskah saya ini bagus, jauh lebih bagus dari novel-novel saya sebelumnya yang sudah beliau baca. Saya merasa beberapa bab di awal novel saya lambat, sebelum kisahnya masuk ke setting Ranu Pane. Tapi kata beliau, tidak, sudah pas. Di atas panggung, beliau mengatakan bahwa yang paling berkesan dari Tahta Mahameru adalah beliau sangat menikmati petualangan tokoh-tokohnya, sehingga seperti terlibat langsung.


Usai Acara

Sebenarnya saya cukup stres di sore dan malam hari seusai acara inti. Tapi alhamdulillah saya sempat bertemu dengan sahabat yang juga adalah kakak angkat saya di Jakarta. Dan kebetulan dia bersedia menemani saya malam itu di hotel karena saya sendirian finalis perempuan yang belum pulang karena masih ada urusan terkait event ini besok. 

Malam itu kami mencari makan malam di salah satu sudut mal Blok M yang masih buka. Hidangan yang membuat saya mau makan adalah sayur hijau dan buah. Dan dia juga setipe sejiwa dengan saya. Akhirnya malam itu saya berhasil menghabiskan seporsi makan malam dengan baik, saudara-saudara. Mungkin karena dua faktor itulah: sahabat sejati dan capcai segar. Hehehe. Yaah, walaupun malam itu lagi-lagi saya sulit tidur (hanya bisa tidur jam 11 kemudian bangun jam 2 dan tidak tidur lagi), dan mesti diurut karena pegal-pegal :-D


13 April 2012

Pagi-pagi sekali, tanpa sempat sarapan di hotel, kami meluncur ke kawasan SCBD Sudirman, tepatnya ke gedung Jak TV untuk syuting talkshow secara tapping di Alif TV.  Alhamdulillah hari ini saya cukup segar dan rileks, karena semalam bisa tidur 3 jam, makan malam dengan benar, sudah mengomunikasikan beberapa masalah terkait buku saya hingga mencapai kesepakatan-kesepakatan, bertemu sahabat, dan sarapan pagi yang sempat-sempatnya dibelikan panitia untuk dimakan di mobil. 


Di acara inilah yang saya anggap lebih berhasil saya lalui dibanding acara kemarin di Kemang. Inti pembicaraan dalam talkshow ini nyaris sama, yaitu mengenai karier kepenulisan kami masing-masing, hingga inspirasi dan proses kreatif naskah yang memenangkan event nasional Republika ini. Tapi belum tahu kapan acara ini akan tayang di TV berbayar ini. Yang pasti, kata crew-nya kami akan dikirimi rekaman videonya.


~Azzura Dayana