Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Kamis, 29 Maret 2012

[Galeri Foto] Berkah Trip Makassar


mar 28, '12 11:27 am
for everyone

Siapa sangka dari ulah keluyuranku sendirian ke Bumi Sulawesi Selatan, bukan cuma kepuasan mata, hati, dan pikiran yang kudapatkan melalui kebagusan alam dan budayanya, tapi aku juga memperoleh keluarga nan baik yang kemudian menjelma menjadi keluarga angkatku di ibukota Sulawesi Selatan. Ahaay... kalau begitu aku tidak akan terlunta-lunta kalau kesasar di Makassar lagi, hehehe. Sebuah keluarga lengkap, terdiri dari Ayah Ibu dan anak-anaknya. Si Ibu malah menyebutku sebagai putrinya saat memperkenalkan pada orang-orang.
(Dan nama2 kalian kusebutkan pula dengan sepenuh sayang di ucapan terima kasih novel Mahameru-ku:)

Selama trip tersebut, beberapa tempat yang kukunjungi di Makassar dan sekitarnya adalah Losari, Fort Rotterdam, Benteng Sombaopu, Taman Nasional Bantimurung di Kab. Maros, kemudian Tanjung Bira dan Pulau Samalona (ada album tersendiri untuk kedua trip ini di MP), Al Markaz, Masjid Raya Makassar, dan Balla Lompoa serta Istana Tamalate di Kabupaten Gowa.


Istana Tamalate
  

Balla Lompoa
  

Sunset Pantai Losari
  

Tongkonan
  

Tongkonan
  

at Tongkonan
  

Baruga Sombaopu
  

Bantimurung
  

Bantimurung
  

Bantimurung
  

Bantimurung
  

Al Markaz malam hari
  

Al Markaz siang hari
  

Tari Pa'dappu
  

Miniatur Tongkonan
  

Spermonde dari atas Merpati
  

Masjid Raya Makassar
  

Fort Rotterdam
  

Fort Rotterdam
  

Miniatur pinisi di bandara
  

14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
lafatah wrote on Mar 28
Mahameru!

Inikah novel perjalanan Mbak? :)
azzuradayana wrote on Mar 28
lafatah said
Mahameru!

Inikah novel perjalanan Mbak? :)
 
Tepatnya, judulnya diganti sama redaksi jadi Takhta Mahameru. Settingnya banyak, tapi yang utama itu di Gunung Semeru dan Tanjung Bira. Tapi tokohnya tentu bukan saya, hehehe
lafatah wrote on Mar 28
Tepatnya, judulnya diganti sama redaksi jadi Takhta Mahameru. Settingnya banyak, tapi yang utama itu di Gunung Semeru dan Tanjung Bira. Tapi tokohnya tentu bukan saya, hehehe 
asyeeeeek!!!
harus baca nih.
pengalaman perjalanan sang penulisnya ngaruh banget nih :D
azzuradayana wrote on Mar 28
lafatah said
asyeeeeek!!!
harus baca nih.
pengalaman perjalanan sang penulisnya ngaruh banget nih :D
 
nanti pasti saya posting kalau sudah rilis bukunya. insyaAllah April ini selesai dicetak.
yup, pengalaman perjalanan penulisnya tentu saja ngaruh :)
lafatah wrote on Mar 28
April!!!
Di depan mata.
Baiklah, Mbak. Saya nantikan bukunya masuk Surabaya biar saya kudap dan ikut 'jalan2' bareng Mbak :D
katerinas wrote on Mar 28
Subhanallah.

*takjub*

Selamat mendapatkan keluarga baru ya mbak. Senengnya :)
azzuradayana wrote on Mar 28
lafatah said
April!!!
Di depan mata.
Baiklah, Mbak. Saya nantikan bukunya masuk Surabaya biar saya kudap dan ikut 'jalan2' bareng Mbak :D
 
Kata redaksinya sih begitu. Yaa, semoga saja ga ada acara molor-moloran ^_^
Siip... makasih banyak ya Fatah atas apresiasinya
azzuradayana wrote on Mar 28
katerinas said
Subhanallah.

*takjub*

Selamat mendapatkan keluarga baru ya mbak. Senengnya :)
 
iya mbak, makasih
selama ini biasanya kan dapat banyak teman dari perjalanan, tapi kali ini dapat sekeluarga angkat yang baik dan hangat :) alhamdulillah, salah satu berkah ngetrip :)
lafatah wrote on Mar 28
Kata redaksinya sih begitu. Yaa, semoga saja ga ada acara molor-moloran ^_^
Siip... makasih banyak ya Fatah atas apresiasinya
 
amiiin... semoga gak pake molor dan kolor #apeuuu :D
azzuradayana wrote on Mar 28
lafatah said
semoga gak pake molor dan kolor #apeuuu :D 
tapi fatah nya jadi eror, hihihi
lafatah wrote on Mar 28
tapi fatah nya jadi eror, hihihi 
kalo error dibikin horror aja, mbak...

*makin error* :D
melatikuputih wrote on Mar 31
foto2nya kereen mbak,,,
azzuradayana wrote on Apr 1
lafatah said
kalo error dibikin horror aja, mbak...

*makin error* :D
 
hehehe :)
azzuradayana wrote on Apr 1
foto2nya kereen mbak,,, 
alhamdulillah... makasih ^_^

Viewing History

Viewed 524 times by 503 people, latest on Sep 10
Viewing History

Sabtu, 24 Maret 2012

TransMusi Kito TransMusi Pelancong :)

Dulu, bandara di kota metropolitan Palembang terletak di Talang Betutu. Sejak di awal-awal saya belajar bepergian ke luar pulau Sumatra dengan pesawat, saya tidak sungkan untuk berangkat dari rumah menggunakan angkutan umum ke bandara. Secara rumah saya di Kertapati, maka saya mesti naik bus kota terlebih dahulu, lalu turun di KM 5 dan menyambung naik angkot (sejenis mikrolet kalau di Jakarta) dan langsung turun di depan bandara. Halaman bandaranya tidak terlalu luas sehingga masih bisa dilintasi dengan berjalan kaki.

Kemudian bandara tersebut pindah ke sebuah areal di jalan ke arah Tanjung Siapi-api. Bandara baru ini diresmikan Presiden di akhir tahun 2005. Kawasan ini cukup sepi pada mulanya, dan tidak ada angkutan umum yang lewat di sana. Alhasil, rakyat jelata yang tidak memiliki kendaraan pribadi macam saya mesti turun di Perempatan Tanjung Siapi-api di KM 9,5 lalu menyambung naik ojek. Nah, inilah bagian yang tidak saya sukai. Naik ojek yang butuh waktu cukup lama karena letak bandara yang jauh, ongkos yang relatif mahal (sekitar Rp15.000 di tahun 2006, setara naik bus DAMRI dari Pasar Minggu ke Bandara Soetta di tahun yang sama), serta kawasan lengang sepanjang jalan yang tentu cukup membuat was-was.

Sekitar setahun lebih yang lalu, saya pulang dan menetap lagi di Palembang, seusai perantauan saya di Pulau Jawa selama hampir empat tahun. Saya memiliki banyak teman traveler di Pulau Jawa, mulai dari Banten hingga Jawa Timur. Ditambah lagi teman-teman traveler dari Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka selalu saya promosikan mengenai Palembang. Saya katakan, silakan datang dan saya siap menjadi guide dan juga penyedia penginapan gratis tapi seadanya bagi sahabat-sahabat saya itu. Sampai tentang cara bekpekeran hemat Jakarta-Palembang juga selalu saya gembar-gemborkan, bahwa mereka cukup mengeluarkan ongkos kurang dari 70.000 untuk sekali jalan. Ngetrip ke Palembang sama sekali tidak mahal, asal mau ‘gembel-gembelan’, hehehe.

Beberapa bulan kemudian, salah seorang sahabat  traveler benar-benar datang ke Palembang untuk berwisata. Namun dia tidak memilih cara bekpekeran ‘gembel’ seperti yang saya ajarkan, melainkan naik pesawat pulang-pergi. Rumah saya terhitung tidak begitu jauh dari terminal bus AKAP dan stasiun kereta, tapi jauh dari bandara. Beruntung, sejak Februari 2010, telah diresmikan jenis kendaraan umum baru mirip TransJakarta di kota pempek ini. Namanya TransMusi. Tarifnya Rp3.000 (lebih murah dari TransJakarta). Maka, cukup mengeluarkan ongkos Rp3.000, saya bisa dengan aman-nyaman bolak-balik ke bandara untuk menjemput dan mengantar sahabat saya. Selamat tinggal ojek! :D


Tapi ya itu, karena rumah saya yang letaknya di Kertapati, saya mesti melewati beberapa kali transit dengan alur yang berkelok-kelok. Pertama transit dulu di perempatan Jakabaring, lalu transit di halte dekat Jembatan Ampera, setelah itu transit lagi di perempatan Tanjung Siapi-api (simpang bandara). Ditambah lagi, bus TransMusi belum mempunyai koridor sendiri seperti laiknya TransJakarta, sehingga arusnya masih bercampur dengan kendaraan umum lainnya. 

Di halte transit IGM (simpang bandara), penumpang mesti bersabar menunggu kedatangan bus TransMusi berwarna merah, karena ternyata armada yang disediakan untuk rute halte IGM-bandara SMB II hanya satu. Mungkin dikarenakan jaraknya yang tidak terlalu jauh dan penumpang yang tidak terlalu ramai. Akan tetapi, terakhir saya mengakses angkutan TransMusi ke bandara ini sekitar sebulan lalu, ternyata armadanya sudah bertambah lagi menjadi dua bus. Lumayaan.

Semoga keberadaan bus TransMusi yang melayani penumpang dari dan ke bandara ini dapat membantu meningkatkan jumlah pelancong yang ingin menikmati suasana di kota pempek. Karena tak selamanya para pelancong adalah orang-orang berduit yang tak keberatan naik taksi ke mana-mana. Semoga juga pelayanan bus ini semakin baik dari hari ke hari, meskipun belum-belum tarifnya udah naik aja, dari Rp3.000 menjadi Rp4.000. Ngalah-ngalahin bus TransJakarta nih....



~Azzura Dayana


Kamis, 22 Maret 2012

[Terbaru] Tips Menulis Fiksi di Tengah Persaingan

by Azzura Dayana

Masih berminat menulis fiksi, kan, teman-teman? Dunia tulis-menulis yang kian berkembang ini adalah indikasi dari semakin ramainya kelahiran penulis-penulis baru dan tetap-eksisnya penulis lama, semakin bertambahnya jumlah penerbit buku, dan semakin mudahnya menerbitkan buku, terutama secara indie. Saat ini, buku-buku fiksi lokal (terutama novel) mesti bersaing ketat dengan maraknya (dan maruknya :)) penerbitan buku-buku fiksi impor. Bagaimana kita para penulis fiksi lokal harus bersikap? Tentu dengan tetap menulis, terus menulis dengan meng-upgrade kemampuan dan kualitas.

Menulis yang Dekat & yang Jauh
Dalam seminar atau pelatihan kepenulisan yang saya isi, sering saya menyarankan kepada penulis pemula, anak-anak yang baru punya niat dan minat untuk menulis tapi belum pernah menulis, atau mereka yang sudah menulis dan berusaha banyak tapi belum punya buku sendiri, bahwa ‘mulailah menulis dari dan tentang yang terdekat.’ Persis seperti apa yang dikatakan oleh J.K. Rowling. Just do it. Silakan menulis yang akrab dengan kita, hal-hal yang ada di lingkungan kita atau sering kita lihat. Tentu ini tujuannya adalah untuk memudahkan ide mengalir saat menulis. Tapi, perubahan zaman menuntut kita juga untuk menuliskan ‘yang jauh.’ Sebagai bukti bahwa kita tidak hanya bisa menulis yang mudah, tapi juga bisa menuliskan yang butuh perjuangan luar biasa. Sesuatu yang butuh pencarian data, riset mendalam, terjun ke lapangan, cek-ricek dengan rekan penulis atau ahli, hingga banyak waktu dan dana yang dikorbankan. Maka mari, kita memberanikan diri untuk menulis sesuatu yang ‘baru’. Sebagai tantangan bagi kreativitas dan peningkatan kualitas bagi karier kepenulisan kita.

Sesuatu dari Perjalanan
Menjadi trend saat ini, menuliskan pengalaman perjalanan atau trip yang kita lakukan. Kebanyakan tentu hasilnya adalah berupa catatan/liputan perjalanan riil yang banyak di-publish di majalah, blog, atau berupa buku kumpulan catatan perjalanan. Serunya, kemungkinan untuk menjelmakannya menjadi tulisan fiksi sangatlah terbuka lebar. Jadikan tempat yang kamu kunjungi sebagai setting tulisan fiksimu. Konseplah bahkan sebelum tripmu dimulai, jika memungkinkan. Dan saat trip tersebut sedang berjalan, saatnya kamu mencari ide tentang tokoh dan alur yang pas di setting tersebut. Beberapa orang mungkin menuliskan apa yang mereka temukan dalam trip mereka, tapi kita layak mencoba untuk menuliskan apa yang kita cari dan rencanakan dalam trip yang akan kita lakukan.

Berani Cari Gara-gara
Berani menulis fiksi adalah berani mencari masalah. Kalau istilah saya kepada audiens tentang hal ini, beranilah mencari gara-gara. Tidak ada konflik maka tidak akan menjadi tulisan. Jika pun ada tulisan tanpa konflik, tentu akan terasa ada yang kurang. Dalam novel, jangan ragu untuk merancang masalah besar, bahkan sejak di awal alias pembukaan cerita. Jangan terlebih dahulu menimbulkan rasa khawatir dalam diri sendiri bahwa permasalahan yang kita ciptakan dalam fiksi mungkin tidak akan bisa kita selesaikan.

Tampilkan Perbedaan
Jika selama ini kamu selalu menulis fiksi bersetting Jakarta, kali ini cobalah menulis dengan setting NTB, atau Maluku, misalnya. Jika selama ini tokohmu adalah orang-orang miskin yang selalu didera derita, cobalah menuliskan seseorang yang selalu bahagia dengan segala kelebihan yang ia punya, lantas akhirnya kebahagiaan sempurna itulah yang menjadikan hidupnya berujung konflik. Jika jutaan penulis telah menulis novel bertema cinta, tulislah juga novel dengan tema-tema yang sama—tema cinta yang memang tak pernah mati itu, tapi dengan format baru dan berbeda. Di mana perbedaannya? Pada setting yang jarang dipakai orang, pada tokoh dengan keanehan yang jarang dipilih orang, dengan bahasa bertuturmu yang khas dan diksi-diksi baku namun hanya tersimpan rapi di KBBI selama ini, dan sebagainya. Semua yang berbeda. Yang menjadikannya unik. Dan pasti dikenang.
Demikian dulu. Dan mari coba-coba untuk terapkan. Saya juga sedang mencobanya :).
***



Dapatkan kumcer lokalitas Sumsel karya Azzura Dayana, Benny Arnas, dkk: Bening Subuh Musi Harga Rp38.000. Pemesanan di 088274051924 (Umi) 

Rabu, 07 Maret 2012

[Movie Review] Negeri 5 Menara


ReviewReviewReviewmar 6, '12 9:09 am
for everyone

Category:Movies
Genre:Education
Saya pasti tergoda iklan di TV tentang film ini yang menunjukkan beberapa lokasinya yang 'bening'. Jangan-jangan itulah alasan utama saya menonton film ini bersama seorang sahabat saya kemarin sore, hehehe.

Film yang diangkat dari novel karya A. Fuadi berjudul Negeri 5 Menaraterbitan Gramedia ini mengisahkan Alif sebagai tokoh utama. Seorang anak dari desa di tepi Danau Maninjau, Sumatera Barat, yang bercita-cita masuk ITB dan meniru jejak Habibie. Impiannya kandas demi menuruti keinginan mulia ibunya untuk menyekolahkan Alif di pesantren ternama di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Pesantren Madani. Alif diantar ayahnya berangkat ke Jawa. Ia kemudian mengikuti ujian masuk pesantren, dan lulus.

Di pesantren itu, ia mendapatkan sahabat-sahabat baru: Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura. Dengan merekalah kemudian Alif menjalani hari-hari penuh warna dan mimpi, meski Alif sebenarnya masih setengah hati berada di tempat itu.

Usai film ini diputar, saya nanya teman saya mengenai kesannya. Dia bilang, rasanya kok cepat banget abisnya. Saya menimpali, saya malah nunggu-nunggu kapan habisnya.

Eh, tidak... tidak. Saya tidak mengatakan film ini jelek atau membosankan. Meski, jika disuruh compare, menurut saya memang lebih seru film Laskar Pelangi. Namun, mengingat film ini diangkat dari salah satu novel lokal best seller di Nusantara yang saya tamatkan dengan cara membaca cepat, saya simpulkan bahwa film dan bukunya tidak terlampau banyak perbedaan dalam hal konten. Saya membaca seluruh adegan yang terjadi, tapi tidak secara detail. Di beberapa bagian dari adegan yang sama dan saya rasa lambat, maka saya lompat-lompatkan. Dan saya akhirnya tiba di ending lebih cepat.

Mungkin karena saya lebih suka novel-novel suspense, maka menurut saya konfliknya masih agak datar. Beberapa konflik standar kehidupan seorang pelajar, anak desa, atau lingkungan pesantren dimunculkan, tapi sebagian besar bisa tertebak solusi akhirnya. Bahkanendingnya pun sangat bisa ditebak. Seandainya... seandainya lho ya, saya bisa nambahin konflik di film ini, saya ingin ada satu adegan perkelahian--secara tokoh-tokohnya kebanyakan laki-laki pula, kemudian ada seseorang yang meninggal (seperti meninggalnya kepala sekolah di film Laskar Pelangi), atau minimal ada momen masa-masa ujian semester (atau apapun istilahnya) dan aplikasi Man Jadda Wajada bisa kita lihat pengaruhnya di sini, selain untuk membuat potret kehidupan santri menjadi lebih lengkap. Jadi, tidak akan terkesan segalanya begitu tiba-tiba. Tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu. Tiba-tiba sudah kelas dua, tiba-tiba sudah tamat dan berada di luar negeri. Iya sih, pasti alasan durasi kan yang menyebabkan percepatan ini?

Mengingat bahwa novel yang menginspirasi film ini ditulis berdasar kisah nyata, mungkin memang demikianlah kejujuran pengalaman yang terjadi. Hanya saja, masih ada hal kecil yang menurut saya agak lucu. Setelah lama bermukim di pesantren tanah Jawa Timur itu (sampai mereka kelas 2), bahasa keenam sahabat itu masih tercampur juga dengan bahasa daerah mereka masing-masing, seperti Baso yang asli Gowa (Sulsel) masih sering menyelipkan mi dalam kalimatnya, atau Alif yang masih menyebut ambo dan kata-kata lainnya. Untuk di awal-awal keberadaan mereka di sana tentu wajar. Tapi setelah lama bergelut dengan bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, biasanya yang masih melekat dan sulit hilang pada anak-anak daerah adalah logat atau irama kalimatnya saja.

Tak ada gading yang tak retak. Meski kurang seru (atau bagi saya saja ya begitu :)), tetap saja film ini layak diberi jempol demi beragam keunggulan yang dimilikinya.

Sepaket besar inspirasi berkarya, semangat hidup, semangat iman Islam, keberanian bercita-cita, persahabatan, persaudaraan, bakti terhadap orangtua, dipersembahkan dengan apik oleh film ini. Kita akan termotivasi lagi untuk menghadapi apapun yang ada di hadapan kita. Man Jadda Wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil. Itulah kalimat ampuh paling populer dalam film ini, di samping tentu, banyak kalimat inspiratif lainnya.

Sebagai guru, saya juga terkesan oleh semangat mengajar dan ide kreatif para ustadz di film ini. Kelas pertama yang dibuka oleh Ustadz Salman, misalnya. Dia masuk kelas dengan membawa sebuah pedang berkarat dan sebatang kayu panjang. Tanpa banyak berkata, dia berjuang memotong kayu itu dengan pedang berkarat. Usahanya membuahkan hasil. Itulah semangat Man Jadda Wajada.

Sepanjang film, beberapa adegan jenaka juga mewarnai. Adegan tangis-tangisan pun hadir satu kali. Maka cukup lengkaplah. Dari segi peran para bintang, yang paling saya suka adalah akting Lulu Tobing. Wanita berdarah Batak yang sudah lama tidak muncul di layar kaca ini membuktikan bahwa kemampuannya yang dulu tidak lantas pudar begitu saja. Dialog-dialognya dalam bahasa Minang sangat enak disimak, meskipun saya juga tidak tahu apakah bagi orang Minang asli logat dan bahasa Lulu sudah sangat menyerupai yang seharusnya atau belum.

Dan, pastinya, saya sangat menyukai scene-scene outdoor yang menampilkan keindahan alam Minangkabau dan Ponorogo, tentu saja.

Salut untuk kemajuan perfilman Indonesia dan para sineas yang tak ragu membuat film-film mencerahkan seperti ini. Itulah sebabnya saya masih bertahan di tempat duduk demi membaca dengan saksama credit title yang bergulir di layar setelah film usai--sementara penonton lain sudah sibuk keluar sejak scene terakhir ditutup dan pintu exit dibuka. Saya katakan pada sahabat yang saya tahan juga untuk menemani saya keluar terakhir, bahwa biasanya tidak banyak penonton yang peduli siapa yang berada di balik perjuangan membuat film yang baru saja ditontonnya. Ini sebagai salah satu bentuk kecil penghargaan saya sebagai penonton kepada mereka.
Selamat menonton Negeri 5 Menara, bagi yang belum nonton :)