Syahdu dhuha...
Wahai Allah
Sungguh, waktu dhuha adalah dhuha-Mu
Kemegahan adalah kemegahan-Mu
Keindahan adalah keindahan-Mu
Kekuatan adalah kekuatan-Mu
Kekuasaan adalah kekuasaan-Mu
Wahai Allah
Jika rezeki hamba berada di langit, maka turunkanlah
Jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah
Jika sulit, maka mudahkanlah
Jika haram, maka sucikanlah
Jika jauh, maka dekatkanlah
Dengan kebenaran dhuha-Mu, kemegahan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu, berikanlah kepada hamba segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang soleh
***
Dhuha ini, tiba-tiba saya teringat pada kalimat-kalimat bertenaga yang dituturkan murabbiyah saya suatu hari. Berawal dari kisah tentang kerasnya perjuangan hidup yang dia lalui semasa kecil hingga remaja. Hingga berhasil mendapatkan hadiah demi hadiah dari Allah yang membahagiakan hidupnya di kemudian waktu.
Memang demikianlah hidup, katanya. Hidup adalah masa-masa di mana masalah dihadirkan satu per satu atau berangkaian. Tak ada manusia dewasa yang hidup dalam kebahagiaan selamanya. Bahkan ketika ia telah berkecukupan atau malah berlebihan, ia justru bisa menemukan bahwa di situlah letak masalahnya. Maka masalah bukan hanya milik orang miskin. Bukan hanya milik orang yang lemah. Bukan hanya milik orang yang kekurangan lahir dan batin. Anak kecil pun sebagian telah digariskan untuk memiliki masalah dalam hidupnya.
Manusia diuji dengan kekurangan, kehilangan, kematian. Manusia diuji dengan perbedaan, kesalahan, dan kesakitan. Persandaran kepada Allah adalah sebaik-baik tempat, sebaik-baik sikap beriring ikhtiar. Tempat meminta supaya segala ujian yang berbeda bentuk dan porsinya itu bisa diatasi.
"Kalau engkau 'kehilangan' sesuatu, mungkin saja mengiring hilangnya dhuha-mu. Maka kembalilah ke dalam dhuhamu, dan coba engkau temukan kembali apa yang hilang, atau kurang darimu. Dari apa yang hilang, Allah akan gantikan. Dari apa yang kurang, Allah akan cukupkan. Asal jadikan Dia selalu sebagai persandaranmu. Asal engkau terus berusaha di dunia dan selalu menemui-Nya di setiap waktu yang mulia."
Maka... merenunglah jiwa di dhuha syahdu-Nya.
"Allah memang selalu bekerja dengan caranya, untuk
menguji semua hamba-Nya. Sekeras apa pun kita mengusahakan
sesuatu, jika kata-Nya ‘tidak’, maka tidak akan terjadi. Sebaliknya, sekeras
apa pun kita menjauhi sesuatu, tapi jika kata-Nya ‘ya’, maka ia pasti terjadi."
"Allah telah tetapkan apa-apa yang terbaik bagi tiap-tiap kita. Takkan tertukar milikmu dan miliknya. Tidak akan tertukar cinta. Tugas kita hanyalah menjaga, dan berusaha."
Sabtu, 14 September 2013
Minggu, 08 September 2013
Bali: Empat Pantai dalam Lensa
Semoga FLP
Bali. Ini kali kedua saya menyambangi Pulau Dewata, setelah empat
tahun yang lalu. Kali ini saya dan tim dari FLP Sumsel ditugaskan sebagai
utusan untuk menghadiri rangkaian acara Musyawarah Nasional FLP ke-3 di
Denpasar.
Keputusan untuk berangkat sebenarnya
terhitung baru. Sebelumnya begitu banyak pertimbangan yang membuat saya selalu
berkata bahwa kemungkinan untuk pergi dan tidak adalah fifty-fifty. Tapi sekitar
sepuluh hari menjelang acara, kepastian mulai datang.
Maka berkumpullah para FLP-ers di Hotel
Green Villas, yang letaknya tak sampai tiga puluh menit dari Bandara Ngurah
Rai. Sebenarnya kondisi saya terbilang fit. Akan tetapi sariawan di pangkal
lidah nyatanya cukup mengacaukan fitalitas itu. Dan ternyata lidah (dan
sariawan) saya tidak cukup bersahabat dengan makanan yang disajikan hotel. Something like... perpaduan
asin dan asem, perpaduan asem dan pedas, atau perpaduan asem dan pedas.
Pedasnya pake banget pula :D.
Saya rasa saya sudah kelamaan nggak jadi
backpacker. Makanya, punggung cepat pegal padahal saya cuma bawa satu ransel
dan satu tas tangan, sementara teman-teman bawanya koper. Duduk di ruangan
sidang yang sempit membuat kurang nyaman. Sebenarnya ruangannya cukup besar,
tapi karena peserta sangat banyak sehingga jarak tempat duduk sangat rapat dan
sulit bergerak. Ditambah kondisi kurang tidur selama beberapa malam
berturut-turut. Lengkap sudah alasan yang menjadikan saya baru bisa bebas
berekspresi begitu sidang-sidang usai. Hehehe. *mungkin pula karena otaknya
memang otak jalan-jalan sih*
Tapi selalu menyenangkan bertemu dengan rekan-rekan FLP sedunia,
dari 30 provinsi dan juga 2 cabang luar negeri yaitu Hong Kong dan Saudi Arabia.
Berkumpul dan berbincang dengan penulis-penulis senior dan junior FLP tentu
adalah momen-momen berharga yang tak akan hilang dari kenangan terbaik dalam
hidup.
Garis hidup FLP ke depan juga ditentukan di sini. Ketua umum
terpilih yang baru, yaitu Mbak Sinta Yudisia (mantan ketua FLP Wilayah Jawa
Timur, berdomisili di Surabaya) diharapkan mampu membawa FLP semakin sukses dan
cemerlang.
Saya pribadi berharap, FLP tak hanya besar secara organisasi, tapi
juga semakin mantap dalam prestasi kepenulisan per personal. Ada di antara kita
yang lebih berjiwa organisatoris dan bekerja keras membangun organisasi, namun
belum terlalu kuat dalam hal prestasi menulis. Ada juga yang sebaliknya, kaya prestasi
menulis, tapi sisi keorganisasian belum maksimal. Memang dua tipe ini bisa
diposisikan saling melengkapi, tapi percayalah bahwa ada masa di mana kita
dibutuhkan mampu di kedua sisi. Mampu berorganisasi, paham hal-hal prosedural,
cerdas dalam konsep, aplikasi, dan pengembangan program; dan juga matang dalam
kepenulisan. Dan tak kalah penting lainnya adalah sisi keislaman. Kematangan di
sisi inilah yang akan membuat kita istiqomah dan terarah dalam berorganisasi
dan menuliskan kebaikan. FLP ini ingin selalu mencerahkan, bukan mengaburkan. Bukan
pula menjauhkan. Kata-kata adalah mutiara. Mutiara terbaik tidak dihasilkan
secara instan. Ia butuh proses lama, pembelajaran yang mulia.
Ketika kita menemukan bahwa pena kita telah menuliskan hal yang
tak mulia, itu adalah saat di mana kita harus sadar bahwa ternyata kita bukan
mutiara.
Semoga FLP ini seperti matahari pagi, yang menyinari tapi tidak
teramat menyilaukan.
Semoga FLP ini seperti pepohonan, yang menaungi kita dan
menyejukkan.
Semoga FLP ini seperti air, yang mengalirkan inspirasi dan
kekuatan setelah hilang dahaga.
Semoga FLP ini benar-benar rumah kita. Rumah
para penulis yang setia dalam dakwah. Bukan tempat singgah.
---------
#catatantidakfokus :)
Minggu, 07 Juli 2013
Menjelajahi Baduy
Setengah tujuh pagi, sekelompok backpacker duduk ngampar di lantai stasiun kereta api Jakarta Kota. Ada yang beralas koran, ada yang cuek tidak beralaskan apa pun. Sekelompok ransel besar juga berkumpul tak jauh dari punggung mereka. Di sinilah meeting point kami sebelum menaiki kereta api ekonomi yang akan membawa kami ke Rangkasbitung, Banten.
Sekitar tiga jam kemudian, kami sudah berada di Rangkas setelah puas melewatkan perjalanan bersama ratusan rakyat jelata lainnya berikut sayur mayur, buah-buahan, hingga ternak seperti ayam dan itik yang ikut masuk bersama tuannya. Inilah kereta paling ekonomi yang pernah ada di Indonesia :)
Perjalanan dilanjutkan dengan mencarter sebuah elf menuju desa Ciboleger. Tiba di Ciboleger dua jam kemudian pula. Dari desa inilah perjalanan panjang dengan melangkahkah kaki selama paling cepat tujuh jam menuju permukiman suku Baduy akan dimulai. Mulai dari desa-desa Baduy Luar, hingga tiba di desa Baduy Dalam. Naik turun tujuh bukit, di pegunungan Kendeng yang berketinggian mulai 500 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut ini. Siap-siap gempor.
*(Foto2 ini adalah beberapa koleksi pribadi saya dan beberapa milik rekan-rekan saya seperjalanan)
Sekitar tiga jam kemudian, kami sudah berada di Rangkas setelah puas melewatkan perjalanan bersama ratusan rakyat jelata lainnya berikut sayur mayur, buah-buahan, hingga ternak seperti ayam dan itik yang ikut masuk bersama tuannya. Inilah kereta paling ekonomi yang pernah ada di Indonesia :)
Perjalanan dilanjutkan dengan mencarter sebuah elf menuju desa Ciboleger. Tiba di Ciboleger dua jam kemudian pula. Dari desa inilah perjalanan panjang dengan melangkahkah kaki selama paling cepat tujuh jam menuju permukiman suku Baduy akan dimulai. Mulai dari desa-desa Baduy Luar, hingga tiba di desa Baduy Dalam. Naik turun tujuh bukit, di pegunungan Kendeng yang berketinggian mulai 500 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut ini. Siap-siap gempor.
*(Foto2 ini adalah beberapa koleksi pribadi saya dan beberapa milik rekan-rekan saya seperjalanan)
![]() |
| Selamat datang di kawasan Baduy |
![]() |
| Beberapa pria Baduy yang kami jumpai di Ciboleger. Beberapa di antara mereka menjadi guide bagi visitor. |
![]() |
| Pemandangan desa Baduy Luar, trek basah, licin, dan menanjak |
![]() |
| Rumah-rumah beratap rumbia, suku Baduy Luar |
![]() |
| Hamparan cengkeh yang dijemur warga suku Baduy Luar |
![]() |
| Jembatan bambu dan sungai berair cokelat |
![]() |
| Jembatan bambu nan sempit |
![]() |
| together with our guide |
![]() |
| Gadis-gadis Baduy geulis |
![]() |
| Kain tenun Baduy |
![]() |
| Gadis kecil dan adiknya |
![]() |
| Jembatan akar |
| Segelas kopi Baduy yang maknyuusss :) |
![]() |
| Kotornya sandal dan sepatu dalam perjalanan turun. Kali ini tidak hujan :) |
![]() |
| Saatnya pulaaang ke Jakarta. Berpose dulu sama elf. |
Senin, 01 Juli 2013
ALTITUDE 3676
Telah terbit, ALTITUDE 3676 (republish Takhta Mahameru) by Azzura Dayana
__________________________ _________
It’s autumn, uhm?
Path is past
This lost area between us
…
Mengejar jejak sebuah email, telah membawa Faras menjelajah satu tempat ke tempat lain. Dari Borobudur hingga Tanjung Bira. Hanya untuk mencegah luapan dendam sebuah hati yang merasa memiliki sepuluh alasan untuk membunuh ayahnya.
Namun, dengan sepuluh alasan pulalah Raja Ikhsan, sang pemilik dendam, akhirnya berhasil menguarkan dendam itu di puncak Mahameru. Dan, di altitude 3676, ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut, Raja Ikhsan tak sekadar menjumpai sebuah ketundukan, tetapi juga beningnya sebuah cinta dan keikhlasan.
ENDORSMENT:
"Saya jatuh cinta pada novel ini. Serius! Sebuah novel yang bening, indah, dan melabuhkan rasa ke sebuah ketinggian yang sering saya impikan. Gunung, edelweiss, dan keabadian cinta, selalu menghadirkan rasa yang misterius dan sublim." (Afifah Afra, novelis, cerpenis, dan penulis buku-buku motivasi).
"Inspiratif! Alur ceritanya yang unik bikin penasaran untuk membaca sampai selesai. Membuatku ingin lebih mengenal alam dan budaya lain di negeri ini." (Yanuarisan Maseh, pendaki gunung dan backpacker)
"Keren. Sebuah masterpiece tentang keelokan Nusantara dibalut budaya Timur yang memesona." (Anca, dari komunitas Makassar Backpacker)
------------------
Ingin memesan buku ini dengan tanda tangan penulis? Smskan nama dan alamat lengkap ke 085788420516 (AzzuraD'shop)
__________________________
It’s autumn, uhm?
Path is past
This lost area between us
…
Mengejar jejak sebuah email, telah membawa Faras menjelajah satu tempat ke tempat lain. Dari Borobudur hingga Tanjung Bira. Hanya untuk mencegah luapan dendam sebuah hati yang merasa memiliki sepuluh alasan untuk membunuh ayahnya.
Namun, dengan sepuluh alasan pulalah Raja Ikhsan, sang pemilik dendam, akhirnya berhasil menguarkan dendam itu di puncak Mahameru. Dan, di altitude 3676, ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut, Raja Ikhsan tak sekadar menjumpai sebuah ketundukan, tetapi juga beningnya sebuah cinta dan keikhlasan.
ENDORSMENT:
"Saya jatuh cinta pada novel ini. Serius! Sebuah novel yang bening, indah, dan melabuhkan rasa ke sebuah ketinggian yang sering saya impikan. Gunung, edelweiss, dan keabadian cinta, selalu menghadirkan rasa yang misterius dan sublim." (Afifah Afra, novelis, cerpenis, dan penulis buku-buku motivasi).
"Inspiratif! Alur ceritanya yang unik bikin penasaran untuk membaca sampai selesai. Membuatku ingin lebih mengenal alam dan budaya lain di negeri ini." (Yanuarisan Maseh, pendaki gunung dan backpacker)
"Keren. Sebuah masterpiece tentang keelokan Nusantara dibalut budaya Timur yang memesona." (Anca, dari komunitas Makassar Backpacker)
------------------
Ingin memesan buku ini dengan tanda tangan penulis? Smskan nama dan alamat lengkap ke 085788420516 (AzzuraD'shop)
Minggu, 30 Juni 2013
Sindoro: Sajak Bunga Sajak Hati
Dari
Senduro mencium bunga senduro
Dari
Boyolali hingga puncak Sindoro memetik aroma bunga sindoro
Sepertinya
mereka bunga yang sama meski di tempat berbeda
Namun
yang kuhirau di jiwa tentu hanya tentang indahnya
Bahwa
langkah ini begitu asing bila bukan bersama kalian
Di sepanjang
Krendegan Sumbing hingga hutan lamtoro Sindoro
Beginilah
yang terbetik bersama luruhnya gerimis atau serbuan terik
Bahwa
makna perjalanan ini adalah menemukan kembali hati
Membungkam
mati rasa, menyalakan cita rasa
Yang
kerap diterbangkan debu-debu kota
Inilah
yang kita lihat: Hamparan bunga di lereng hingga tebing kawah
Edelweiss,
cantigi, hingga kuntum-kuntum sindoro
Matahari
terbit keemasan melunturkan malam
Lautan
awan yang mengantar kita ke atas negeri dongeng
Inilah
cita-cita kita sejak berjalan dari bawah
Hilang
semua lelah dan penat
Sirna
semua sakit dan cemas
Berganti
senyum dan syukur
Jatuh
lutut di tanah puncak, bertekuk
Jatuh
air dari kelopak mata, bersimbah lega
Di sinilah
bahagia pendakian dirasa
Sejauh
ini kita berjalan
Seberat
ini kita memanjat
Setinggi
ini kita sampai
Seluas
ini kita melihat
Sekali
lagi kita tiba di salah satu tanah tinggi yang dicipta-Nya
Satu
lagi kita alami serangkai kisah berharga anak manusia
Pahamlah
aku pada makna tangis di puncak
Atau
sekembali lagi ke titik awal pendakian
Saat
hanya Dia dan hati yang mengerti
Sabtu, 29 Juni 2013
Belitung Timur: Kopi, Timah, dan Laskar Pelangi*
Oleh
Azzura Dayana
Jangan
menolak makanan atau minuman yang disajikan tuan rumah.
Berhati-hatilah,
masih banyak hal mistik di Belitung, lebih mistik dari
Bangka
yang penduduknya sudah sedikit lebih ramai.
Dua
petuah itu sempat dicamkan beberapa orang ke kepala saya, meski nyatanya dalam
perjalanan saya dan teman-teman dari Tanjungpandan, ibukota Belitung, menuju Gantong
sepertinya saya nyaris melupakannya. Sepanjang 1,5 jam jarak tempuh itu, diwarnai
terik yang berseling gerimis bahkan hujan lebat, pemandangan yang kami lihat adalah
kelengangan, hutan berdaun kering kuning-merah eksotis, kebun sawit, dan tanah-tanah
terlantar bekas penambangan timah yang membentuk lubang-lubang besar alias kolong. Inilah wajah nyata Belitung yang
di zaman dahulu begitu ditimang sayang Belanda karena kekayaan alamnya.
Jejak
Laskar Pelangi
Replika
SD Muhammadiyah Gantong kini berdiri di sebuah tanah lapang tinggi berpasir, di
belakang kantor kepala desa Selinsing, Gantong, Belitung Timur. Fisik bangunan uzur
ini cukup memprihatinkan. Hanya ada dua ruang kelas di sana—satu terbuka,
lainnya terkunci. Sisi kanan luar dinding ditopang kayu penyangga supaya tidak
roboh. Di samping kiri menempel sebuah ruang kecil yang berfungsi sebagai
kantor. Saya mengintip ke dalam melalui dinding yang bolong. Propertinya
berantakan, sama seperti di ruang-ruang lainnya. Di ruang kelas yang terbuka, terdapat
papan seukuran meja yang bertulis SD
Laskar Pelangi, dan papan nama sekolah bercat hijau bertulis SD Muhammadiyah Gantong. Papan inilah
yang kemudian kami gotong ke luar dan digantungkan di depan untuk digunakan
sebagai background saat berfoto.
SD
Muhammadiyah memang tidak lagi beroperasi.
Bangunan sekolah aslinya kini dipelihara di halaman SD Negeri 9 desa Selinsing, kemudian
dibangun replikanya di sini untuk digunakan dalam syuting Laskar Pelangi.
Kemudian
kami mengunjungi Bukit Samak yang terkenal dengan julukan A1. Di sinilah
Belanda mendirikan rumah-rumah bagi para elite perusahaan tambang timah di
Manggar. Ironinya, kompleks ini tak lain adalah bukti perlakuan diskriminasi
atas kelas-kelas pekerja timah. Para karyawan kelas atas (yang sebagian
besarnya orang-orang asing pula) dilimpahi kesejahteraan, sedangkan para buruh Melayu
dianaktirikan.
Menurun
ke barat, kami tiba di Pantai Lalang yang berpasir putih lembut. Cemara dan
kelapa berderet sekitar 300 meter dari bibir pantai yang menghadap ke timur ini. Pantai
ini sering dijadikan tempat berbagai kegiatan seperti Festival Manggar atau
lomba perahu tradisional. Terdapat juga fasilitas olahraga seperti lapangan
voli, futsal, dan fasilitas panjat dinding.
Di
sebuah warung tepi pantai itu, kami menikmati es kelapa muda dan ikan jebong bakar
berukuran besar. Pasangan suami istri pemilik warung bercerita tentang Pulau
Dapur, lokasi yang sempat kami pertanyakan selama perjalanan. Di daerah yang
terdapat banyak padang keremunting dengan keindahannya yang khas Belitung itu sedang
berlangsung syuting mini seri Laskar
Pelangi. Sayang, kami sudah terlambat karena malam sudah datang.
Singgah
di Pasar Manggar
Tempat
yang paling mudah ditemukan di Manggar adalah warung kopi. Di pasar Manggar,
deretan warung kopi memenuhi sisi jalan. Kami mampir ke salah satunya. Sebagian
dari kami memesan kopi susu, lainnya kopi hitam alias ‘kopi O’—begitu urang Belitong biasa menyebutnya.
Sebagai penyuka kopi hitam, tentu saya lebih tertarik merasai kekhasan kopi
hitamnya.
Saya
memperhatikan si bapak penjual meracik kopinya. Ia menuangkan bubuk kopi ke
dalam sebuah ceret tembaga, mengaduknya bersama gula di sana, lalu dengan
menggunakan saringan dituangkannya ke gelas-gelas bening untuk kami. Untuk
pemesan kopi susu, ia meracik kopi kedua kalinya di dalam ceret lalu
menuangkannya ke gelas-gelas yang telah dituangi susu terlebih dahulu.
Kopi
ini tidak sekental dan sepekat yang saya kira. Saya menghayati benar sesapan
pertama dari gelas saya, mencoba mengurai rasanya. Asam, itu yang utama. Cukup
manis, gurih, dan tak berampas karena telah disaring. Tak terasa, karena sangat
menikmati, segelas kopi panas itu pun tandas segera.
Masyarakat
di sini sangat gemar minum kopi. Namun, esensi yang jauh lebih penting dari itu
adalah kebersamaan dalam kehangatan obrolan di warung kopi. Minum kopi sembari ngobrol adalah media bersantai yang
telah mengakar dan menjadi kebutuhan. Keseharian yang terbukti di mata
pengunjung ibukota kabupaten Belitung Timur ini.
Apa
Kabar Aroma Mistis itu?
Setelah
berpisah dengan tim, di hari terakhir saya di Belitung, saya melihat-lihat kota
Tanjung Pandan ditemani Nina, seorang muslimah yang mengajar di sekolah luar
biasa tempat Jeffry (pemeran Harun di film Laskar
Pelangi) belajar. Di pusat kota ada sebuah tugu berpilar lima dengan
replika batu satam raksasa di atasnya. Batu satam adalah jenis batu yang
dipercaya memiliki kekuatan menolak sihir/ilmu hitam. Entah berapa banyak warga
yang masih meyakininya. Kini, batu yang bisa ditemukan di antara galian timah jika
mujur itu banyak digunakan sebagai ornamen cincin, kalung, dan sebagainya,
dengan harga yang cukup tinggi.
Belitung
terbilang masih cukup sepi dibandingkan Bangka. Banyak jalan raya ke luar kota
yang belum diterangi listrik. Pulang pergi ke luar kota beramai-ramai bisa jadi
akan berbeda ceritanya jika sendirian. Tapi yang kami percaya adalah, Allah
Maha Menjaga, selalu. Tak ada yang bisa menolak bala kecuali dengan
perlindungan-Nya. Modernitas sedikit demi sedikit mulai menyusup ke kehidupan
pulau ini. Meski sangat kami rasakan, betapa ramah dan simpel para warga
lokalnya. Tak ada rasa-rasa negatif, alhamdulillah.
Beberapa
hari kemudian, dalam perjalanan darat saya meninggalkan Belitung, beberapa kali
saya mendengar alunan Berkelana-nya
Rhoma Irama yang diputar orang. Ingatan saya langsung melayang pada Ikal kecil,
tokoh utama Laskar Pelangi yang
sangat mengidolakan Bang Haji. Pun saya teringat akan pertemuan kami dengan Pak
Jafri (pemeran kepala sekolah Ikal di film Laskar
Pelangi) dan Pak Suhendi, teman SMA Andrea Hirata, beberapa hari yang lalu
di atas kapal menuju Belitung. Obrolan yang berkesan, pengalaman yang tak
terlupakan.
--------------
*artikel ini dimuat di rubrik Perjalanan, majalah Ummi, Jakarta 2012
Langganan:
Postingan (Atom)


















