Saya mungkin terlalu serius saat menyaksikan film ini, sehingga ada dua hal yang paling saya rasakan karenanya. Pertama, saat film ini selesai, refleks saya berseru pada diri saya sendiri, “Lho? Sudah abis? Cepat amat…" Kata orang sih, kalau kita merasa filmnya terlalu cepat selesai itu berarti kita sangat menikmati filmnya, atau dengan kata lain: filmnya bagus. Begitu jugakah menurut saya?
Kedua, saya merasa terganggu pada jenis tawa para penonton baik itu berupa cekikikan atau yang terbahak-bahak. Bukan berarti saya sendiri tidak pernah tidak tertawa saat film ini berlangsung, tapi menurut saya, beberapa adegan yang kebanyakan ditertawakan itu sebenarnya malah adegan yang harusnya membuat kita miris. Hal yang sama saya rasakan saat pertama kali menonton Laskar Pelangi, saat banyak adegan miris ‘ditertawakan’ penonton. Atau mungkin mereka hendak menghibur diri saja.
Dari kaca mata saya yang tidak terlalu paham cinematografi, saya hanya menikmati saja suasana Yogya yang disulap menjadi sangat klasik. Mulai dari Stasiun Tugu dan Lempuyangan, Malioboro, Masjid Gede, Alun-alun, pasar, dan pemukiman pada umumnya. Walaupun di antara beberapa tempat itu ada yang kentara betul adalah artifisial semata. Hal lain yang paling saya nikmati selain latarnya adalah dialognya. Dialog yang hidup, manusiawi, inspiratif dan inventif, hingga yang membetot-betot emosi. Menikmati dialog dalam film ini bukan hanya sekadar akan membuat kita memahami cerita, tapi juga memperoleh banyak masukan baru tentang sudah benarkah cara kita beragama dan memandang banyak hal lainnya.
Hanya saja, meski saya sudah sebegitu perhatiannya pada jalan cerita, tetap saja saya tidak terlalu memahami apa urgensi pendirian Muhammadiyah. Ide untuk mendirikan perkumpulan tersebut dari seorang Haji Ahmad Dahlan seperti terlihat sangat mendadak, lahir seolah tanpa proses pemikiran sebelumnya, tanpa ada gejala apapun sebelumnya. Terlalu tumpang tindih semua yang beliau lakukan, ketika belum lagi madrasah yang ia dirikan menjadi kuat secara posisi. Walau mungkin, jika madrasah tersebut memang pada akhirnya hidup di bawah naungan nama Muhammadiyah, tapi tetap saja saya merasa ada bagian yang hilang dari serangkaian hal yang harusnya tersampaikan secara runtut. Perjuangan panjang seorang tokoh besar nyatanya memang sangat sulit dirangkumkan ke dalam film berdurasi kurang dari dua jam. Rangkaian tindakan mungkin bisa dengan mudah diterjemahkan, tapi tidak dengan segudang pemikiran yang terus bertambah dan berkembang selama puluhan tahun.
Tentang para pemeran film, akting Lukman Sardi memang selalu berhasil secara meyakinkan, menurut saya pribadi. Meskipun kalau diingat-ingat, akhir-akhir ini hampir selalu bisa kita temukan wajahnya di beberapa film terbaru negeri ini. Sayangnya, kepiawaian Lukman tidak bisa diimbangi oleh Zaskia A. Mecca. Sebagai perempuan Jawa tulen yang menjadi istri Ahmad Dahlan, ia sama sekali tidak ‘terdengar’ Jawa. Kemunculannya—dengan hanya tiga ekspresi yaitu datar, panik, dan menangis—dalam beberapa adegan menurut saya nyaris tidak menyumbangkan apapun. Sayang sekali.
Kembali ke plot yang menurut saya banyak yang missed, mungkin ada baiknya saya membaca juga versi bukunya. Seperti yang dikatakan teman saya, kisah di bukunya jauh lebih lengkap (tentu) dan mendalam secara bahasa dan pemikiran. Mungkin itulah mengapa saya merasa film ini terlalu cepat selesai, di bagian ending yang rasanya sangat belum tepat pula.
~Azzura Dayana, Jakarta Selatan, September 2010
*di sela-sela menulis jurnal perjalanan ke
BORNEO*