Social Icons

Pages

Azzura Dayana

Azzura Dayana

Kamis, 08 Desember 2016

BATAS RANGGA




Saya memang terlambat (dan sengaja untuk terlambat) menonton Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC 2). Awalnya, niat untuk menonton film ini amat menggebu bahkan sebelum film ini benar-benar tayang di hari pertamanya. Akan tetapi, sesuatu dan kemudian sesuatu yang lain membuat saya terus gagal menonton film ini di hari pertama dan selanjutnya. Oke. Saya lantas menghibur diri dengan membaca review-review perdana dari para penonton pertama film ini. alhasil, semakin banyak membaca review, saya semakin mundur untuk benar-benar menyaksikan film ini.

Tampaknya saya adalah salah satu korban nostalgia. Tepatnya, korban nostalgia Ada Apa Dengan Cinta 1 alias film pertamanya. Itulah kenapa, beberapa review yang jelas-jelas menceritakan bahwa secara umum film ini tidak seistimewa film pertamanya otomatis membuat saya kecewa. Tetapi entah kenapa, baru-baru ini tiba-tiba saja tebersit ide mencari link video film ini di internet, lalu mendapatkannya, dan… benar, saya menontonnya.

Tetapi kali ini, saya sudah menyiapkan diri. Siap untuk tidak terlalu berharap banyak. Niatan paling dominan saya justru karena ingin mengikuti perjalanan berpetualang ala Rangga dan Cinta di Yogyakarta. 


Perubahan Karakter

Rangga di AADC 1 identik dengan puisi. Karakternya yang unik lekat di benak para korban nostalgia AADC 1 seperti saya :-D. Rangga sosok yang cuek, dingin, ketus, menyimpan bara, namun amat nyastra dengan setiap gubahan puisinya dan bahkan celetukan kata-katanya. Karakter ini yang tak lagi saya temui di AADC 2. Ia telah total berubah. Ia benar-benar datang kali ini untuk mengejar cinta dari seorang gadis yang pernah ia tinggalkan belasan tahun lamanya. Lepas dari apakah pengejaran itu berakhir dengan keberhasilan atau tidak, tetapi ini jelas mengubah sudut pandang. Gaya bicaranya berbeda, lebih lekat memandang, lebih terbaca gelagat dan kehendaknya. Menjadi keterbatasan tokoh Rangga yang amat kentara.

Pun demikian Cinta. Dalam AADC 1 beberapa kalimat yang diucapkan Cinta masih cukup bertenaga. Celetukan dan jawabannya ikut mengena di hati. Tetapi di sekuelnya ini, kualitas itu tak ada lagi. Bahkan kalimat “apa yang kamu lakukan itu… jahat” benar-benar tidak unik. Paling buruk adalah kalimat-kalimat di adegan terakhir yang menjadi pamungkas antara dua tokoh utama ini. Amat klasik dan membosankan.



Puisi Kegalauan Rangga

Baiklah, mari menghibur diri saja dengan kekuatan yang ada di film ini, yakni setting dan puisinya. Lho, tadi katanya Rangga tidak lagi nyastra? Oh, bukan. Rangga tetap datang bersama puisi-puisinya. Tetapi puisi itu tidak lagi mewakili karakter dan kekuatannya selayaknya puisi Tentang Seseorang dan puisi Perempuan Datang Atas Nama Cinta di AADC 1. Puisi Rangga dalam AADC 2 lebih menggambarkan ia sebagai seseorang yang galau. Galau akan cinta.

Puisi-puisi Rangga di AADC 1 aslinya ditulis oleh Rako Prijanto. Seorang filmmaker, dan bukan penyair. Akan tetapi, kedua puisi paling benderang dalam film pertama tersebut dengan santainya menyelinap di pikiran kita hingga terkenang dalam waktu lama, dan mengesankan sedemikian rupa. Meski bukan seorang penyair, akan tetapi Rako Priijanto cukup brilian menghadirkan ragam puisi yang mudah diingat karena absurditas rangkaiannya ketika didengar oleh penonton (ketika dibacakan dalam hati yang di-voice over oleh Cinta), lalu dimusikalisasikan pula oleh Cinta di atas panggung dengan mengulang reff berbunyi “Bosan aku dengan penat, dan enyah saja kau pekat. Seperti berjelaga jika kusendiri.” Hayo ngaku… siapa yang kemudian jadi tidak terhafal secara mengesankan karenanya?

 Lalu puisi kedua Rangga, yang di-voice over kan oleh tokoh Rangga-nya sendiri sebagai tanda perpisahan Rangga di akhir cerita. Juga berhasil melekat dengan baik di benak pembaca, kalaupun tidak semuanya, setidaknya beberapa baitnya.
 
Perempuan Datang Atas Nama Cinta

Perempuan Datang Atas Nama Cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali lagi aku lihat karya surga
Dari mata seorang hawa
Ada apa dengan Cinta?
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja…

Sementara di AADC 2, puisi-puisi galau Rangga berasal dari gubahan seorang sastrawan Makassar bernama Aan Mansyur yang telah populer lebih dulu dengan beberapa buku kumpulan puisinya seperti Melihat Api Bekerja. Puisi-puisi Rangga termaktub dalam kumpulan puisinya yang bertajuk Tak Ada New York Hari Ini. Dan salah satu puisi kegalauan yang di-voice over kan Rangga di AADC 2 adalah puisi Batas berikut ini:

Batas

Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa
Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,
bilik penjara, dan kantor walikota, juga rumahku
dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta
Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata
Begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang petualang yang gila.
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang
Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya
Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

Bagaimana menurutmu? Bagus?
Menurut saya, puisi-puisi kegalauan Ranggapada AADC 2 jauh lebih bagus daripada puisi-puisi kesepian Rangga di AADC 1. Mungkin salah satunya karena pengarangnya betul-betul seorang penyair. Sebab lainnya adalah karena saya mencarinya ulang di internet dan meresapinya kembali, sehingga akhirnya saya tahu bahwa puisi ini (dan puisi lainnya AADC 2) bagus. Benar, sayangnya, dalam AADC 2, puisi-puisi Rangga hanya datang berkelebat, sekali saja alias tanpa pengulangan sehingga penonton tidak sempat untuk memaknainya secara betul-betul dalam apalagi hingga terhafal di otak. Puisi Rangga tak sempat memiliki panggung sendiri dan hadir sebagai salah satu penguat karakter Rangga seperti di AADC 1. 


Perjalanan Penghibur

Bagi Rangga dan Cinta, petualangan mereka menjelajah Yogyakarta hingga Magelang adalah perjalanan menyelesaikan nostalgia cinta keduanya. Tetapi bagi saya (baca: penonton) perjalanan itu menjadi hiburan traveling yang paling menggugah selera. Dua di antara begitu banyak tempat menarik namun antimainstream yang dikunjungi Rangga dan Cinta adalah Gereja Ayam dan Punthuk Setumbu di Bukit Rhema, Magelang. Unsur petualangan inilah yang berhasil menjadi daya tarik AADC 2. Saya tak habis pikir jika misalnya AADC 2 hanya sibuk di plot pengejaran cinta Cinta oleh Rangga dengan setting Tugu Jogja atau Malioboro… uh, praktis itu bakal lebih mirip FTV saja….


Gereja Ayam

Sunrise dari Punthuk Setumbu. Tampak Borobudur dari kejauhan.

Saya bahkan menyimpulkan, unsur traveling itulah justru yang menjadi poin unggulan di AADC 2. Dan puisi Rangga hanya pelengkap, tak lagi menjadi unsur unggulan seperti kedudukannya di AADC 1. Well… Siapkan cara menghibur diri ala kamu saja, ketika menonton film ini. Right?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar